Segelas Kopi di Hari Nasional

April, ada hari Kartini. Ramai para perempuan berkebaya. Tidak anak-anak, kaum hawa di level remaja-dewasa pun demikian. Salon pun semakin riuh dan sesak, kebanjiran pengunjung yang ingin dirias, dikonde. Bahkan, toko sepatu tak sedikit yang kena imbas acara seseruan matching-maching-an kebaya-sarung-sepatu. Oh iya, tas juga. Tidak semua sih, tapi ada. 

Lalu lompat ke bulan perjuangan. Agustus, yang nasibnya hampir sama dengan si Oktober. Yang satunya Tujuh Belasan, yang lainnya Dua Puluha Delapan-an. Ada beberapa anak-anak usia pelajar diminta untuk mengenakan pakaian khas daerah tertentu di sekolah. Paling umum sih yah batik buat para cowok. And of course, kebaya buat para neng geulis. Padahal, konsep meminta mengenakan batik atau kebaya untuk daerah-daerah yang memiliki kain khas mereka sendiri sepertinya terlihat kurang tepat. Mbok yah, kalau alasan untuk mengenakan batik atau kebaya ini sebagai alasan untuk lebih down to earth terhadap kearifan lokal buat para pelajar ini. Mestinya, kain khas daerahnyalah yang lebih masuk akal. Lebih nusantara. Lebih bhineka tunggal ika. Lebih semarak. Lebih repot tentunya. Sebab, mereka mesti bangun lebih pagi lalu berurusan dengan segala tetek-bengek kelengkapan pakaian daerah nusantara kita yang memiliki banyak atribut itu. Yang asal dari Jawa mengenakan pakaian khasnya, begitu pula yang di Sumatera, Sulawesi, Kalimanta, dan Jayapura. Maka, pilihan batik atau kebaya terdengar lebih simple dan mudah. Batik, cara pakaianya seperti menggunakan kemeja. Tidak perlu dibarengi dengan atribut penutup kepala, atau bawahan tertentu. Apalagi mengenakan jenis senjata tradisional tertentu. Kebaya, sama kok. Meski terlihat rumit dalam desainnya. Kebaya tetaplah kebaya. Yang rumit itu, yah balik lagi ke kondenya dan macthing-macthing-an kebaya-sarung-tas-sepatu-hijab-perna-perniknya.

Lantas, apa yang salah dengan mengenakan-memakai pakaian tradisional ini? Entah kebaya, batik, baju bodo, dan kawan-kawannya. Apa masalahnya? Tak ada. Tak masalah sih kalau para pelajar berangkat ke sekolah dengan pakaian itu. Justru unik. Seru. Mereka bisa berbagi pengalaman kelak tentang masa mudanya. Berkisah tentang keanekaragaman model dan jenis dari pakaian tradisional di negara kita tercinta ini. Berfoto, entah selfie, couple, atau bareng dengan teman. Mulai yang pakaiannya sama, hingga yang berbeda-beda. Lantas memublikasikannya di jejaring sosial. Maka semangat untuk lebih mengenalkan pemuda-pemudi ini tentang budaya tanah Merah Putih tuntas. Selesai. Tamat. Mereka akan pulang ke rumah dengan hati gembira karena mungkin akhirnya ada yang dapat alasan logis buat berfoto berdua-bersampingan dengan gebetan. Setelah semua itu, tinggal tunggu kabisat berubah. Tahun depan, di bulan yang sama, di hari yang itu-itu lagi. Mereka akan berkebaya-batik-baju tradisional lagi, upacara lagi, ritual lomba-lombaan lagi, foto-foto lagi. Sungguh, itulah semangat yang perlu dipelihara, dijaga, dilanjutkan bukan?

Lantas, apa yang salah dengan mengenakan-memakai pakaian tradisional ini? Tidak masalah sih. Hanya saja kok terlihat begitu biasa-biasa saja. Bahkan cenderung basi. Sebab mengenal kearifan lokal tak sebatas di ranah pakaian saja. Berbudaya, kebudayaan, budaya atau seputaran itu, tidak akan tuntas hanya sampai di bagian apa yang dikenakan-dipakai-digunakan pada badan. Bukan begitu mbak, mas? 

Lalu, apa yang bisa dilakukan di hari-hari nasional itu? Apa lagi kalau bukan dapat sale di super market atau mall? Ini sisi lain dan pemaknaan berbeda dalam merayakan hari-hari nasional itu. Kalau begitu, kita akan terjemurus ke dalam rayuan para kapitalis. Kita mulai larut dalam pola hidup borjuis, para hedonis. Kita justru bergeser menjadi lebih komsumtif tepat di hari-hari bersejarah yang penuh makna bagi bangsa ini. Yaaaaaa, tuhan. Tetapi, mbak-mbak pasti tahu secara pasti tentang godaan diskon yang terkutuk ini. Lalu, khilaflah kita dengan memasuki stand-outlet di toko-toko itu. Lantas, kenapa kita begitu mudah digoda dan tergoda dengan harga miring? Tapi iya juga, harga miring statusnya memang  lebih dahsyat dari kabar miring sih. Kita cukup perkuat hati saja, teguhkan diri. Sembari membaca do'a sebelum memasuki mall!!

Lalu, sebenarnya apa yang bisa dilakukan di hari-hari nasional itu? Bahkan jika lomba-lomba yang seharusnya memacu kreativitas, merangsang sensor motorik pun juga dikemas dengan cara yang selalu biasa-biasa saja. Sudah bisa ketebak dari tahun ke tahun. Lomba puisi, cerpen, dan sejenisnya pasti hadir. Lomba mewarnai atau menggambar juga tidak pernah absen. Lomba masak atau yang berkaitan dengan olahraga juga tak pernah sakit atau izin. Semuanya hadir. Kelas penuh dengan materi yang itu-itu saja. Kalau begitu saya bolos sajalah, tak ada yang menarik.

Dan sebenarnya mau bagaimana saya dengan hari-hari nasional itu? Padahal saya bukan seorang pendaki yang handal, yang bisa memperingati hari-hari nasional di atas bukit atau gunung tertentu dengan ketinggian yang beragam. Bukan pula penyelam yang bisa berliuk-liuk indah di dalam lautan sambil mengibarkan bendera merah putih. Yang saya inginkan hanyalah menikmati hari-hari nasional itu tanpa macet karena demo oleh adek-adek mahasiswa saja. Lalu menerobos masuk ke sebuah kafe dan memesan segelas kopi. Yang panas, jika hari itu diguyur hujan. Yang dingin, jika hati-kepala yang panas atau mungkin saya sedang gerah. Menyeruput kopinya pelan-pelan. Menghirup aroma kafein itu dalam-dalam sambil menikmati tulisan-tulisan karya anak bangsa ini. Atau sedikit improvisasi dengan sesekali browsing di smart phone tentang prestasi orang-orang di tanah air ini. Dan, sungguh sempurna jika semua itu saya lakukan dengan ditemani kemerduan suara penyanyi-penyanyi kita, yah Tulus, Eva Celia, dan Yovie n Nuno. Lalu kemudian bertanya tentang bagaimana cara agar semakin banyak anak, remaja, orang di tanah ini yang melahirkan karyanya, membuat prestasinya, mengembangkan bakatnya tetapi tetap mengenal negrinya tanpa perlu melaui hari-hari nasional macam ini!! Mari ngopi...

You Might Also Like

0 komentar