Surga Manakah yang Dirindukan?

Sumber Gambar : kapanlagi.com

Tulisan ini tentang sebuah film yang diputar perdana sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri tahun 2015. Sayangnya, saya bersama kakak sekaligus sahabat karib saya, Mhimi Nurhaedah baru bisa menontonnya sekarang. Meminjam istilah asing, maka boleh jadi kami tidak up to date, ndeso. Lha wong orang-orang sudah pada nonton. 

Review-nya pun beredar luas. Status dan komentar tentang filmnya sudah mejeng di pebagai media sosial. Sampeyan tinggal milih, mau kunjungi portal yang bahas filmnya detailnya sampai titik darah penghabisan. Atau sekedar ingin mengetahui apa pendapat dari para penonton tentang betapa mengharu birunya film itu. Atau komentar tentang Laudya yang makin cantik dalam hijabnya.

Bisa juga kunjungi web yang akan bahas tentang pro dan kontra poligami itu sendiri. Poligami? Yup, isu poligami menjadi bahan dasar utama film yang diangkat dari novel karangan Asma Nadia ini.

"Surga yang Tak Dirindukan", begitulah judul film ini. Berdurasi sekitar 120 menit. Menampilkan Fedi Nuril sebagai tokoh utama pria, yang lagi-lagi didaulat untuk memerankan sosok pria pelaku poligami. Yeah, setelah sebelumnya doi pernah memainkan peran Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Lelaki yang bisa nyanyi itu disandingkan dengan pendatang baru dalam dunia hijab, Laudya C. Bella dan Raline Shah.

Untuk kronologis ceritanya sendiri, mungkin mbak-mbak dan mas-mas bisa googling atau mungkin luangkan sedikit waktu bersama teman, sahabat, atau pasangan untuk langsung merasakan apa yang ingin disampaikan film ini.

Dalam Surga yang Tak Dirindukan secara jelas menggambarkan bagaimana tidak semua perempuan akan setuju praktik poligami. Walaupun nyatanya (terima - tidak terima), poligami adalah sesuatu yang tidak dilarang atau diharamkan dalam agama Islam, sebagai agama yang diyakini para tokoh di film ini.

Jelas, poligami adalah tentang bagaimana pengorbanan ungkap Raline Shah dalam perannya, Meirose. Walaupun pada akhirnya Arini, tokoh yang dimainkan Laudya berujar bahwa hidup itu adalah pilihan. Dimana akhirnya, Arini mengambil tindakan untuk menerima kondisinya (dimadu).

Sampai di sini tetap saja poligami bukanlah perkara sederhana yang dapat dijalani-diputuskan tanpa linangan air mata, luapan emosi, dan ada rasa kecewa atau pun pengkhianatan, cekcok panjang. Bisa jadi. Ikhlas? Bisa jadi.

Lantas mengapa surga yang awalnya justru menjadi tujuan akhir oleh apapun pemeluk agama-keyakinan-ideologi-mazhab di muka bumi ini. Kemudian berubah menjadi hilir yang tak diinginkan-dirindukan-dicari? Lagi-lagi, perkara poligami bukan urusan remeh-temeh mbak, mas.

Jelaslah janji surga ternilai sebagai hadiah atau imbalan untuk perempuan yang bersedia dipoligami. Iyalah. Nggak usah jauh-jauh deh, kita saja jika menginginkan sesuatu yang besar-dahsyat-tinggi-paling-ter. Tentunya membutuhkan usaha-perjuangan yang banyak-panjang-alot-rumit. Gift dan award selalu berbanding lurus dengan tetesan keringat dan darah yang mengucur kok.

Lepas dari film produksi Manoj Punjabi dan arahan Hanung ini. Maka, surga manakah yang kita-aku-anda-sampeyan-mbak-mas-adik-kakak-tante-om-opa-oma rindukan? Adakah kita menengok surga dari senyuman para kaum dhuafa atau fukara wa masakin? Atau mengharap aroma surga dari bakti kepada ayah dan bunda? Mungkin juga mengais-ngaisnya dalam perjumpaan kita di sepertiga malamNYA.

Ataukah merindu surgaNYA dengan menebar cintaNYA tanpa pandang bulu-agama-strata sosial-ras, juga tanpa menjual agamaNYA? Sanggupkah kita tertatih dan ngesot menuju surgaNYA dalam mencerdaskan orang lain, dalam memberikan hak yang membutuhkan, dalam berlaku adil, dalam meminimalisir kedzaliman kita?

Sungguh, saya pun tidak tahu surga mana yang saya rindukan dan merindukan saya....

You Might Also Like

0 komentar