Sabtumu Bersama Siapa?

Sabtu Bersama Bapak-nya Adhitya Mulya
Sumber : tokopedia.com
Sudah baca buku Sabtu Bersama Bapak? Jika belum. Come on, mbak-mbak dan mas-mas ini pergilah, berupayalah, bersegeralah untuk membacanya. Silahkan pilih opsi membeli atau meminjam. Saya masuk dalam upaya yang kedua. Meminjam. Iya, saya meminjamnya dari sahabat  plus kakak sekaligus my partner in crime, Mhimi Nurhaedah. Dan, jika mbak, mas sudah baca. Syukurlah. Saya punya teman kalau begitu.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini. Saya perlu menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud memrovokasi mbak, mas untuk membeli buku karangan Adhitya Mulya itu. Mbak, mas cukup mengikuti trik saya. Minjam. Adapun kalimat yang saya gunakan pada awal paragraf pertama di tulisan ini, bukanlah bahasanya orang marketing. 

Hanya saja, buku Sabtu Bersama Bapak menjadi sungguh disayangkan jika mbak, mas melewatkannya. Kenapa bisa? Mungkin karena saya menyisipkan beberapa keping emosi saat proses baca berlangsung. Empatikah? Bisa jadi. Emosionalkah? Tidak juga. Cadas? Pilu? Penuh duka? Tragiskah alurnya? Please deh, mbak, mas baca saja yah.

Buku setebal 277 halaman ini singkatnya menceritakan tentang keluarga pak Gunawan. Tunggu dulu. Saya suka nama tokohnya. Lanjut lagi. Sepeninggalan pak Gunawan, kedua anaknya. Satya dan Saka selanjutnya melalui hari Sabtu malamnya dengan menonton video tentang bapaknya. Video yang mereka nonton adalah hasil ikhtiar dari seorang bapak. Video itu tak hanya menampilkan sosok tunggal bapaknya.

Bukan cuma kumpulan scene dan gerakan biasa. Melalui video inilah pak Gunawan menyisipkan rohnya. Menitipkan nilai-nilai kebaikan kepada kedua anak lelakinya yang tidak bisa ditemaninya melalui masa remajanya. Kumpulan video itu bahkan dipersiapkan untuk berbagai masa bagi anaknya masing-masing. Bahkan sebuah video yang kelak menjadi hadiah sebelum lelaki-lelakinya menikah.

Kalau kita membawa ke dunia nyata. Sungguh, akan sulit menemukan Satya dan Saka yang bakalan betah menghabiskan Sabtu malamnya di rumah. Apalagi ditemani dengan sebuah video yang nggak ada adegan syurnya sedetik pun.

Kalaupun ada kegiatan menonton, paling yang bergenre anime. Ataupun ya, kalau berada dekat laptop. Si anak lelaki milih main game. Anak perempuan (mungkin, tapi sebagian kecil) main game atau nonton drama. Mulai yang sekali tayang, sampai yang berseri-seri itu. Atau paling banter yah nge-media sosial-lah mereka. Selebihnya, Sabtu malam akan dihabiskan bersama teman, sahabat, geng, atau kekasih.

Tetapi, dari semua pilihan itu. Justru yang paling sering terjadi dan ditemukan. Adalah orang tua yang menciptakan opsi Sabtu malam bagi anaknya. Ini tercipta, jika si ibu lebih doyan pelototin tivi atau laptop demi serial drama Korea yang lagi naik daun itu, macam ulat saja. Dimana si ayah modern akan memilih nongky gagah bareng bro-bro-nya di cafe. Atau si ayah fundamentalis yang sibuk mengepul asap rokok, sambil ngopi, sambil main catur-baca koran-diskusi-nonton berita.

Sungguh, perlu ekstra usaha, repetisi yang tiada henti, dan pengertian yang besar untuk membentuk karakter macam Satya dan Saka pada usia mereka yang masih terbilang muda. Serta penokohan macam ibu Itje (istri pak Gunawan) serta pak Gunawan sendiri dalam realitas kehidupan. Sampai di sini, saya, mbak, dan mas (mendadak) punya tanggung jawab moril untuk memberi makna lebih tentang Sabtu malam. Berat memang.

Tetapi setidaknya, ada satu malam penuh makna yang kelak akan membentuk karakter, menambah makna kekeluargaan, membangun komunikasi antar penghuni rumah. Andai, jika hari-hari lain telah direnggut oleh tanggung jawab kerja-menafkahi-profesionalitas.

Kembali ke buku cetakan Gagas Media ini. Sabtu Bersama Bapak mengedukasi saya-mbak-mas, bahwa penting sekali untuk memahami jenis anak dalam sebuah keluarga. Mengenali mereka, berarti kita kelak akan memilih metode pembelajaran yang tepat untuk mereka. Buku ini mengajarkan bahwa orang tua memang adalah guru pertama bagi anak-anak.

Hal ini sungguh menjadi tragedi tersendiri. Pada kenyataannya (berdasarkan pengalaman, rada curhat juga sih) tidak sedikit orang tua justru tidak mampu mengenali potensi, kepribadian, dan keinginan anaknya. Yang ada gurulah yang dijadikan sebagai satu-satunya individu yang dibeban-tugaskan dalam mengawal aktivitas, kecerdasan, dan kepribadian anaknya.

Dalam alam bawah sadar (beberapa) orang tua. Anak sepulang dari sekolah adalah makhluk suci, penurut, cerdas, tanpa cela. Anak wajib pulang tanpa goresan, air mata, nilai rendah, galau, terluka, tidak boleh curhat, mesti mandiri, dan seterusnya. Mungkin mereka (ayah-ibu, papa-mama, ayah-bunda, abi-ummi) lupa, kalau rumah selalu menjadi tempat pulang yang aman dan nyaman. Membuat senang dan tenang. Sebab rumah tak hanya menyediakan tempat peristirahatan atau sekedar mengenyangkannya. Tetapi juga menyediakan pelukan hangat.

Tetapi, Adhitya Mulya dalam alurnya sungguh menyajikan sebuah keluarga dengan latar yang datar-datar saja. Tentang ibu Itje yang sukses dengan delapan warung makannya. Meski si ibu mengalami kanker payudara. Juga berkisah tentang Satya yang sukses dengan pekerjaannya di luar negri. Tampan, beristri cantik dan seksi dengan 3 anak lelaki yang menggemaskan.

Meski si Satya dan Risa, istrinya melalui kehidupan terpisah karena Satya wajib kerja di site. Terakhir tentang Saka, si bungsu yang taraf ketampanannya digambarkan biasa-biasa saja. Tokoh Saka difokuskan jomblo dan kelak akan menemukan perempuan (Ayu) yang super cantik. Sungguh, bagi mbak, mas pecinta tulisan yang bergaya flash fiction. Buku ini tidak direkomendasikan.

Atau si penyuka aksi agen/mata-mata, misteri, horor, dan serius. Jelaslah buku ini juga tidak layak baca. Tetapi Adhitya menulis dengan gaya yang cukup jenaka mbak, mas. Tenanglah.

Rasa-rasanya Sabtu Bersama Bapak ini sama seperti film Keluarga Cemara. Itu loh film yang (memang) ceritanya datar juga, tapi kaya dengan makna kekeluargaan.

Saya, mbak, mas tidak akan memukan klimaks yang membuat otak ekstra berfikir atau penuh emosi. Sebab, pada akhirnya ceritanya akan baik-baik saja kok. Tokoh utamanya bakal hidup tenang, damai, dan bahagia. Happy ending. Tapi, sekali lagi, buku ini tentang menanamkan nilai-nilai kebaikan di sana-sini.

Lantas, Sabtumu Bersama Siapa?

***
Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
 Cetakan : Pertama, 2014
Tebal : 277 halaman

You Might Also Like

0 komentar