4 Soal yang Masih Jadi PR Sulsel Setelah Program RCL Berakhir

Makassar - Setelah lebih dari sekitar empat tahun program Restoring Coastial Livelihood (RCL) Oxfam melakukan pendampingan di Sulawesi Selatan. Dalam upaya peningkatan ketahanan ekonomi  masyarakat  berbasis pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Program RCL ternyata masih memiliki beberapa perkara yang menjadi pekerjaan rumah setelah berakhirnya program ini.

“Setelah melewati diskusi yang panjang dari setiap kabupaten dampingan RCL. Maka masih ada empat soal yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua di Sulawesi Selatan,” ungkap Asisten Project Manager Oxfam, Jaya Tulha pada acara Workshop dan Exibihition Exit Strategy and Final Expose Program Restoring Coastial Livelihood di Hotel Novotel Makassar, Jum’at (21 Agustus 2015).

Jaya kemudian memaparkan keempat persoalan tersebut, di antaranya masih perlunya kepekaan terhadap isu-isu yang terkait dengan penguatan masyarakat. Selain itu juga, melihat masih rendahnya jiwa kewirausahaan yang dimiliki masyarakat. Maka isu kewirausahaan juga menjadi tugas selanjutnya.

Dalam pelaksanaannya, Oxfam bekerja sama dengan pemerintah setempat dan lembaga-lembaga lokal, seperti Mangrove Action Project (MAP), Yayasan Konservasi Laut (YKL), dan Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA).

Sasaran dari program RCL adalah mewujudkan penghidupan yang setara dan berkelanjutan bagi rumah tangga yang rentan di pantai barat Sulawesi Selatan. Yang dilakukan dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Juga menggunakan pendekatan kolaboratif untuk pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan.

“Masyarakat yang kami dampingi daerahnya, dalam hal ini forum-forum yang terlah terbentuk. Juga penting untuk mendorong lahirnya regulasi yang berkaitan dengan isu-isu yang lahir di kabupaten masing-masing,” tambahnya.

Terakhir, Jaya menyebut tentang masalah akses dan kontrol. Yakni adanya akses dan kontrol yang dilakukan oleh semua pihak. Tidak masyarakatnya, lembaga swadaya masyarakat, maupun instansi pemerintahan sendiri.

Selama kerjanya, RCL telah berhasil membentuk 74 kelompok pada keseluruhan daerah dampingannya dengan total 1283 orang. Dimana dari seluruh angka tersebut, perempuan yang ikut dan berperan aktif menempati angka 90,1%. Sisanya adalah para lelaki yang berjumlah 127 orang.

Kegiatan Workshop dan Exibihition Exit Strategy and Final Expose Program Restoring Coastial Livelihood berlangsung sejak tanggal 20 - 22 Agustus 2015. Acara ini juga memamerkan buah karya dari setiap forum-forum sampingan RCL.

Dalam kegiatan ini menghadirkan seluruh instansi pemerintah dan utusan dari berbagai forum dampingan program RCL di 4 kabupaten, yakni: Maros, Pangkep, Barru, dan Takalar serta KKMD. KKMD sendiri lahir sesuai dengan SK Gubernur No. 1671/VII/2015.

You Might Also Like

0 komentar