Perempuan Berpuisi

Harap mama

Ucap teman perempuanku yang di luar lingkaran itu
Ujar saudara ipar perempuannya mama dan bibi dari pihak bapak
Bisik-bisik bibir beberapa tetanggaku
Tutur para lelaki, bapak, dan perempuan, ibu di luar sana
Sebagai perempuan
Wajib nikah sudah dikantongi kala berusia seperempat abad
Dua atau tiga tahun lebih muda pun tak mengapa
Ibunya temanku pun nikahnya dalam usia belasan belia
Langgeng dan produktif
Seketika
Sebagai perempuan 
Aku akan dimiliki seorang lelaki
Lelaki ini lantas memiliki nafasku, gerakku, hatiku, fantasiku, adrenalinku
Lelaki ini selanjutnya memainkan multi-perannya
Tegas dan pengayom, paternalistik
Ciri khas seorang bapak
Bawel tetapi pengertian, ksatria
Seperti saudara pria
Bertanggung jawab dan penuh cinta layaknya suami
Seyogyanya sih demikian
Lelaki ini adalah pemilik sebagian hidupku selanjutnya
Setengah dari hidupku jelas tetap aku miliki
Setengah dalam utuhnya kedirianku
Sebagian yang aku wakafkan itu
Kelak akan bergabung dengan sebagian hidup yang dia sumbangkan
Sebagian-sebagian ini kelak akan menjadi satu
Sebuah rumah tangga orang menyebutnya

Rumah tangga yang mulanya hanya berisi masing-masing lelaki dan perempuan
Bisa bermodal cinta kasih
Atau karena libido yang tak tertahan
Boleh pula sebagai akibat dari ajang perjodohan
Lantas
Bagaimana jika lelakiku kelak dengan suara khasnya tahunya hanya tentang liukan dan deru nafas di ranjang saja?
Atau tahunya tentang membebankan tugas mengasuh dan mendidik kepada selain dirinya
“Anakmu tuh, nakal. Urus sana!”
Atau
“Pakaianku kenapa belum disetrika? Kopiku mana? Rumah kok seperti kapal pecah sih!”
Jangan kambinghitamkan kodrat, lelaki
Atau lelaki yang
Memujaku hanya karena payudara yang masih berdiri tegak
Atau pinggul yang masih berkelok dengan perut datar
Memujiku karena masih menguasai ranjang-mu
Atau bibir yang masih merangsang dan membangkitkan nafsu jalangmu
Menciumiku hanya saat keriput belum tiba masanya
Memerintahku memenuhi kehendak primitifmu
Ngantor, pulang, isi perut, ranjang, peluh, molor
Ngantor, pulang, isi perut, ranjang, peluh, molor
Ngantor, pulang, isi perut, ranjang, peluh, molor
Ngantor, pulang, isi perut, ranjang, peluh, molor
Tujuh hari dalam sepekan
Berulang pada rembulan berikutnya
Tetap konsisten dalam kabisat yang silih berganti
Watak!
Wajar...

Padahal
Aku sudah dan selalu siap menemani lelakiku itu
Setidaknya untuk membangun sebuah keluarga
Ayah, ibu, anak-anak
Ruang makan yang riuh dengan obrolan ringan saat menyantap makan malam
Ruang keluarga yang hangat
Kamar kreasi yang dipenuhi lemari penuh buku dan pelbagai perangkat kreativitas
Saling mendengarkan satu sama lain
Hidup membangun cinta
Bukan bermain cinta
Apalagi jika sekedar menuntaskan pertemuan ovum dan sperma
Lalu berkeringat dan nafas tak teratur

Padahal
Aku dan lelakiku itu
Setidaknya bisa mengisi rumah kita kelak
Memenuhinya dengan cinta
Melimpahkan penghuninya dengan kecerdasan dan keramahan
Menyatukan visi hidup dan berkehidupan
Saling mendekap dan mendukung dalam setiap asa
Menebas ketidaksetiaan
Mencekik egosentris
Membantai kultur patriarki

Maka
Lelaki itu
Mestilah bukan lelaki bahlul
Yang orientasinya melulu seputar bibir-dada-selangkangan-paha
Sesekali sih perlu
Sebab engkau lelaki
Bukan pula produk organisasi keagamaan tertentu
Yang mengisi kepalanya total dengan haram-sesat-bunuh
Wajib menurut padamu tuturmu
Neraka, jika tidak
Apalagi lelaki sejaman Kartini
Yang mengagungkan makhluk ber-penis saja, menomorsatukannya

Maka
Sebagai perempuan
Bukan perempuan konvensional
Tak pula wanita kosmopolis
Apatah lagi feminis
Hanya perempuan saja
Perempuan ber-puisi
Melalui ini
Aku bertukar sapa, mungkin pula kabar dengan lelakiku
Apa kabar lelakiku?
Seluruh korteksmu berhubungan dan aktif bukan?
Masih sering membaui aroma buku?
Kapan terakhir kali kau hirup kafein?
Kapan terkahir darahmu berdesir oleh wangi perawan?
Engkau tipikal lelaki sedikit nakal dan banyak akal ‘kan?
Suka hitam-kah?
Sehat?

Oh iya
Kenapa aku masih saja belum bersua denganmu olehNYA?

You Might Also Like

0 komentar