Dari Seseorang Yang Belajar Buat Puisi Cinta

Pertama:
Cinta macam ini
Aku rindu
Tetapi
Engkau tampak biasa saja
Santai menikmati senti demi senti kretek di bibirmu
Meresapinya hingga ke sum-sum tulangmu
Lalu mengepulkannya
Membiarkan asap itu memperkosa oksigen
Atau sekedar membaui jaketmu
Kemudian lenyap ditelan gelapnya malam
Bersamaan dengan menguapkan kangenku padamu

Kedua:
Rindu seperti apa ini
Acapkali aku menciptakan ruang dan jarak
Berharap ada benih atau embrio kerinduan bersemayam dari arahmu
Nyatanya
Rindu yang ku cipta mengkhianatiku
Aku malah kepalang rindu padamu
Jadinya
Bahkan melebihi rindu-rindu yang sebelumnya
Meluap
Membanjiri setiap sel diriku
Melenyapkan tidur nyenyakku
Aku salah
Dari dulu, sebelum aku mengenalmu
Aku bahkan sudah lupa
Sudah lama soalnya
Aku sudah putus hubungan dengan tidur nyenyak
Hidup terlalu ber’isi’ dan padat
Tahu-tahu aku telah menghisap aroma hari yang baru
Padahal, semalam aku belum tuntas menjilati dan mengagumi menit-menit
dalam cahaya rembulan dan taburan bintang
Ah, sudahlah
Kembali padamu
Rindu seperti apa ini?

Ketiga:
Kita seperti apa sih
Suatu hari, entah kapan
Sesuatu seperti menabrakku
Menarikku dengan penuh
Meski aku tertarik tak utuh
Mendadak aku mulai merasakanmu
Tapi, apakah aku benar-benar merasakanmu?
Aku tak tahu
Tetapi
Aku selalu saja merasa merindumu
Sungguh

Kita seperti apa sih
Apa kamu merasakanku?
Atau setidaknya, pernahkah engkau menghirup rinduku dari udara yang berhembus ke kamarmu?
Mungkin pula pada rinai hujan yang membasahimu?
Juga pada warna hitam yang engkau kenakan, mungkin?
Hmmmmmm
Mungkin tidak

Kita seperti apa sih
Tahu-tahunya aku belajar membuat puisi ini
Lantas memublikasikannya di blogku
Padahal, namanya baru belajar
Pasti banyak salahnya
Tapi kata temanku
Kadang kita banyak mengambil pelajaran dari ke-salah-an
Aku tidak sempat menanyakan apa temanku itu pernah belajar logika
Karena kata temanku yang lain
Salah atau benar hanya dapat diketahui dengan logika
Tetapi Agnes Monika bersenandung berbeda
Katanya, “Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika..” 

You Might Also Like

0 komentar