Kartini Tanpa Sanggul dan Kebaya

Dua puluh satu April. Adalah satu hari dimana seorang perempuan bernama Raden Ajeng Kartini pada setiap tahunnya akan dikenang. Dipuja. Dipuji. Diteriakkan namanya. Dielu-elukan. Sudah tentu setiap orang yang umumnya berjenis kelamin yang sama dengannya, perempuan dan juga beberapa orang lelaki mengapresiasi tingkah laku yang dahulu Kartini perbuat. Bahkan juga menjalar ke instansi atau mungkin tempat menuntut ilmu, sebagai salah satu ikhtiar untuk mengakarkan memori perjuangan seorang tokoh. Ada semacam tradisi dalam upaya mengenang jasa Kartini dalam format yang serupa. Meski nyatanya tak ada peraturan tertulis dalam perundang-undangan secara resmi. Tetapi animo seperti itu tetap saja terpelihara. Mulai dari adanya acara penggunaan pakaian adat serupa kebaya atau ada juga yang menyesuaikan dengan jenis pakaian daerah asal atau domisilinya. Entah perempuan dalam skala mayoritas, maupun lelaki. Cantik atau tampan mulai anak-anak, kawula muda, bahkan orang dewasa dalam balutan baju tertentu menjadi sesuatu yang akan ditemukan di mana-mana. Yang lebih identik lagi adalah adanya semacam motivasi untuk mengikuti jejak Kartini, meski kebanyakan hanya sampai pada taraf tampilan saja. Kebaya konvensional, dandanan minimalis plus sanggul tradisional. Oh ayunya. Namun, ada juga yang sedikit lebih kreatif dalam memaknai "upaya mengenang jasa" itu. Seperti dengan secara rutin melakukan lomba. Entah materinya seputar wilayah domestik saja, seperti lomba memasak jenis makanan tertentu atau lomba memodifikasi jenis makanan tertentu. Pesertanya boleh saja lelaki atau perempuan. Ada pula seperti lomba menulis seputar Kartini atau tokoh perempuan masa kini yang dianggap memiliki girah perjuangan yang sama dengan Kartini. Lomba fashion show dengan dasar ide kebaya yang dikemas secara modern, lomba menulis puisi, bahkan sampai skala lomba debat  yang memang terkesan lebih intelek. Sungguh, banyak pilihan yang bisa dilihat-dipilah-pilih atau mungkin diperankan.


Dua puluh satu April. Sekiranya tidak hanya dijadikan sebagai sebuah momen yang boleh dikatakan seperti melakukan pemujaan terhadap sang idola dengan kegiatan yang nyatanya justru jauh menyimpang dari apa yang diperjuangkan si bintang pujaan. Kartini, seperti yang diketahui justru tercitrakan sebagai sosok perempuan yang cukup peka terhadap realitas yang ditemuinya. Dia adalah perempuan yang mencoba merasakan apa yang ada di luar dinding atau tempurungnya. Dia menjadi seseorang yang haus akan kekinian dalam konteks keilmuan. Meraba keadaan sosial dan menemukan betapa pedihnya kenyataan di luar sana, terutama berkaitan tentang kaumnya. Sayangnya, hari Kartini justru dimaknai menjadi sesuatu yang lebih sempit. Meski tak semuanya memang. Tapi coba tengok, ada berapa banyak instansi yang hanya memaknai Kartini dari tampilan saja hingga dengan santainya mengeluarkan ajakan untuk mengenakan pakaian tertentu guna menghormati perempuan Jawa, asal Kalinyamat itu. Belum lagi ada semacam perlombaan dandanan agar menjadi amat-sangat-mirip dengan Kartini dengan sanggul tinggi itu. Lagi-lagi hanya dimaknai sampai di situ saja. Lomba seputar ranah domestik juga bukankah sebuah pelecehan? Adegan masak-masak justru dianggap sebagai cara untuk menghormati Kartini. Padahal dalam curhatan Kartini terhadap temannya, sedikit banyak justru dia ingin menyuarakan betapa pentingnya agar perempuan lebih mementingkan untuk meraih pendidikan yang setinggi-tingginya bukan sanggul yang tinggi. Pun juga agar perempuan lebih memiliki pemikiran dan kehidupan yang baik di luar dari kemampuannya di wilayah domestik saja. Hingga dapat menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan cerdas. Bukankah seorang perempuan memang selayaknya memiliki banyak skill di luar dari area dapur saja? Pada kebanyakan kasus, urusan mendidik anak kebanyakan dititikberatkan pada ibu atau perempuan. Jika anaknya nakal, ibunya dipersalahakn. Si ibu dianggap tidak memiliki kemampuan dalam mendidik-mengurus-membesarkan si anak. Yah, jangan salahkan ibunya begitu dong. Wong, saat hari Kartini tiba, si ibu hanya diwajibkan dandan cantik plus membuat sepiring nasi goreng dengan menu yang tak biasa.

Dua puluh satu April. Di sisi lain, sebenarnya tak hanya membuat kita hanya perlu fokus atau terpaku pada seorang tokoh perempuan saja. Si Kartini. Kartini tidak memerlukan pemujaan bahkan pengultusan macam itu. Sebenarnya, kita bisa saja lebih memiliki rasa penasaran atau semacam rasa haus akan ragam nama dari tokoh perempuan. Ada banyak deretan nama yang lebih variatif dengan catatan prestasi yang tak biasa apatah lagi berstandar nasional dan bercita rasa nusantara. Ada Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Nyak Meutia, Dita Indah Sari, Malahayati, Nyi Ageng Serang, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk dengan para pendekar perempuan era kini. Mereka dengan latar belakang tak monoton, sebenarnya baik lelaki maupun perempuan dapat memetik hikmah yang lebih banyak. Dengan mengenali mereka lebih dalam, jangan heran jika kita mendadak akan dikeroyok banyak informasi dalam satu waktu. Ini juga merupakan salah satu ikhtiar dalam memperkaya khazanah pengetahuan. Bukankah sebuah perpustakaan membutuhkan berbagai jenis referensi? Bukankah ibu, pun ayah menjadi perpustakaan bagi anak-anaknya kelak? Maka tak ada salahnya menggandeng Kartini berjalan dengan tokoh perempuan lainnya bukan!

Dua puluh satu April. Adalah salah satu bukti bahwa kekuatan menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Kartini, perempuan yang wafat dalam usianya yang terbilang muda itu adalah tipikal perempuan yang senang berbagai kegundahan hatinya kepada temannya, Stella. Tetapi, Kartini bukan seorang penyurhat amatir. Dalam surat-suratnya, Kartini secara jelas mengumandangkan kegelisahannya tentang dogma agama tertentu. Tentang pasal ekonomi-sosial-budaya yang ditemuinya. Lebih utama bahwa makhluk dengan jenis kelamin perempuan justru selalu menempati posisi kedua di tanah airnya. Ada semacam pola patriarki yang mengakar. Sudah meluas dari hanya sekedar tuan tanah ke rakyat jelata bawaan para Kompeni. Pun penguasa ke bawahan. Guru ke murid. Pimpinan kepada anak buah. Orang tua terhadap anak atau orang dengan usia tua atau di-tua-kan terhadap para pemula. Sulung ke bungsu. Senior ke junior. Lalu lelaki kepada perempuan. Kartini menuliskan semuanya. Sedih dan senangnya. Nestapa dan asanya. Juga tersisip napas-napas perjuangan. Meski napas itu derunya sedikit lemah. Tak sekuat Cut Nyak Dien dan kawan-kawannya memang. Tetapi kelebihan Kartini terletak pada kekuatan menulis yang tanpa disadarinya, nantinya memiliki sumbangsih yang besar dalam menggerakkan para perempuan terhadap pemaknaan akan hak-hak hidupnya. Hak belajar yang dulu menjadi barang istimewa lelaki. Hak memperoleh perlakuan sederajat, tak ada satu atau dua. Harusnya kesadaran akan kekuatan menulis ini menjadi patut untuk dilakoni dan diteladani oleh para perempuan. Lagi-lagi tak hanya seputar kain kebaya.

Dua puluh satu April. Merupakan bukti bahwa kegundahan yang lahir dalam setiap tulisan Kartini bersumber dari kegigihannya membaca realitas dan buku. Kartini tidak menutup dirinya dalam menerima segala bentuk pengetahuan yang dijewantahkan dalam buku, koran, atau majalah yang tidak sedikit adalah hadiah dari teman curhatnya itu. Pun juga menjadi insan yang lebih peka dalam melihat-mendengar-mengecap lingkungannya. Ini berarti para perempuan penyanggul tinggi itu juga mesti meniru kebiasaan membaca Kartini. Masa iya hanya sanggup sampai pakai kebaya indah, berdandan cantik, tapi tidak mengerti maksud hati Kartini yang lebih menitikberatkan pada apa yang ada di dalam kepala kaumnya. Bukan pada apa yang ada di atas kepala(sanggul)nya!

Dua puluh satu April. Sekiranya semangat Kartini dapat betul-betul menjalar secara masif dan ditularkan dengan sebenar-benarnya. Terakhir, meski terlalu-amat-sangat telat, selamat hari Kartini!!

You Might Also Like

0 komentar