Suatu Selasa Siang Saya

Sampai saya mengetik tulisan ini, saya belum juga menyampaikan kepada teman kantor saya ini. Bahwa saya akan mengangkatnya pada tulisan saya kali ini. Saya hanya tiba-tiba saja ingin menuliskannya, sesaat setelah saya melihat aksinya di suatu Selasa siang.

Saya dalam keseharian adalah seseorang yang suka berdiri di depan anak-anak remaja sembari menyampaikan materi yang telah saya susun sebelumnya. Kebanyakan dari remaja ini berjenis kelamin lelaki. Mereka dalam usia menuju-sedang pubertas. Pekerjaan ini lebih dikenal dengan nama 'guru' atau kebanyakan orang menyebutnya sebagai pendidik. Ini beban berat bagi saya. Bukan, bukan karena peserta didik yang saya temui. Akan tetapi, baik guru maupun pendidik bagi saya adalah pekerjaan yang tidaklah mudah. Apalagi jika mengingat berbagai benturan yang dialami dunia pendidikan di Indonesia. Masalah pendidikan cukup sampai di sini saja. Berbagai buku, jurnal, berita, dan seminar sudah dengan leluasa membahas pendidikan negri merah putih ini dari berbagai lapis. Saya akan kembali menulis tentang teman kantor saya.

Teman kantor saya ini adalah seorang lelaki paruh baya. Dia sangat suka bermain sepak bola bersama peserta didiknya. Saking sukanya, dia bahkan dijadikan sebagai pembina pada ekskul futsal di kantor kami. Di satu sisi, aktivitas bermain bola itu tidak hanya sebatas bermain, berstategi, berkeringat, dan membakar kalori saja. Tetapi, dia justru menjadikannya sebagai media untuk saling membina silaturrahim antara dirinya dan para lelaki yang diajarnya itu. Oh iya, sebelum saya membahasnya lebih lanjut. Saya akan terlebih dahulu memperkenalkannya. Nama teman saya itu adalah Hasdin. Dia lelaki kelahiran bulan Pebruari yang memiliki beberapa saudari cantik dan seorang adik sepupu perempuan yang lucu. Saking cantik bin lucunya, saya sampai menitipkan salam via bbm.

Tulisan saya kali ini tidak akan membahas tentang adik sepupu perempuannya yang lucu itu. Tidak pula tentang rutinitas bermain futsalnya. Melainkan tentang aksinya di suatu Selasa siang. Teman saya ini telah dinyatakan lulus pada pendaftaran seleksi penerimaan pegawai negri sipil di salah satu kabupaten. Hasdin kelak akan menjadi guru di sebuah sekolah menengah kejuruan yang berlokasi sekitar 102 Km di sebelah Utara dari kota kami. Singkat cerita, Hasdin akan bermigrasi antarkota. Dari Makassar ke Barru. Di sinilah asbab dari aksinya itu.

Aksinya di suatu Selasa siang itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya yang turun gunung ke wilayah kekuasaan saya dan Nanik (teman kantor saya). Dapur. Hasdin di siang itu membantu saya dan Nanik. Dia memulai kegiatannya dengan menggoreng ikan. Kegiatan masak ini sebenarnya memasuki pekan kedua. Setiap kali para peserta didik meninggalkan sekolah atau waktu belajar mereka usai. Maka kami akan segera menuju ke dapur. Memasak. Sebab, ritual makan siang akan berlangsung sebelumnya kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengujian kompetensi kejuruan untuk para peserta didik di tingkat akhir. Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan aksi menggorengnya. Nanik dan saya justru selalu merasa bahagia jika ada orang membantu kami di dapur. Yah, berhubung hanya Nanik dan saya yang memiliki hak kuasa di dapur. Meski sesekali selalu saja ada orang-orang yang meringankan tugas kami. Tetapi bantuan Hasdin kali ini cukup menarik perhatian saya. Bukan, bukan karena ini kali pertama saya melihatnya memasak. Sebelumnya, saya dan teman-teman kantor saya pernah merasakan pisang goreng buatannya. Alasan dibalik menggorengnyalah yang justru menarik perhatian saya. Dia mulai memikirkan dirinya jika kelak mesti hidup di daerah dimana dengan banyaknya rutinitasnya kelak, maka bagaimana dirinya? Pintar memasak bukankah cukup membantu dirinya nanti. Permasalahannya adalah bahwa dirinya belum betul menguasai keterampilan memasak. Saya mahfum. Saudara lelaki saja juga seperti itu. Ranah memasak untuk lelaki kebanyakan di Indonesia, apalagi untuk wilayah Timur bukanlah sesuatu yang harus dimiliki dan diasah. Singkatnya, lelaki tak perlu bahkan tidak usah mau susah belajar memasak. Dapur itu teritorial kaum hawa. Titik.

Balik lagi ke perkara memasak. Sekilas ketika melihat teman saya itu menggoreng ikan. Saat itu pula saya mengingat tentang adik kandung saya. Ibo namanya. Bukan nama sebenarnya. Bukan pula alias. Hanya saja itu nama panggilan yang tidak ada sama sekali kaitannya dari deretan huruf yang membentuk nama aslinya. Adik saya ini juga tidak begitu ahli dalam kasus dapur, masak. Kalau persoalan cuci piring, saya bisa dengan senang hati menyerahkan padanya. Adik saya ini bahkan sangat teliti saat membilas objek cuciannya. Entah peralatan masak atau pakaian sekalipun. Adik saya ini telah berpisah hidup (makan-tidur-kerja) dengan diri saya. Kami sudah berpisah sekitar 5 tahun. Kami memutuskan untuk hidup tidak seatap setelah bersama-sama berdiskusi dengan pihak keluarga kami. Adik kesayangan saya ini kemampuan memasaknya parahnya tidak tanggung-tanggung. Saya yakin kemampuan Hasdin masih lebih baik darinya. Akan tetapi, setelah kami hidup terpisah. Pada akhirnya Ibo mau tak mau mesti menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan kondisinya. Itu realita yang tak terbantahkan. Ibo memulai segalanya dari nol, khususnya area domestik. Sukar mungkin, tetapi sampai saat ini adik lelaki saya yang super cuek ini selalu saja bisa melakukan hal-hal yang dulu saya dan dia tak pernah bayangkan. Batasan perempuan dan wilayah domestik bagi kami sudah out of trend. Saya dan Ibo memang masih merangkak dalam memiliki ragam kemampuan-keterampilan tersebut. Yang bagi kami, baik lelaki dan perempuan selayaknya dibekali kemampuan-kemampuan itu. Siapa yang menduga kelak akan ada situasi dimana seseorang mesti hidup sendiri? Kemandirian multi-keterampilanlah yang mampu menyelamatkan. Andai keterampilan semacam memasak pun belum dimiliki, saya yakin kekuatan untuk bertahan hiduplah yang akan berperan aktif. Kekuatan bertahan hidup ini adalah given yang bisa aktif kapan saja dan dimana saja.

You Might Also Like

0 komentar