Setengah Dari Sepuluh

Usia apapun biasnya hanyalah tumpukan angka yang kian masa semakin bertambah. Fakta yang tak terbantahkan. Menua. Berdebu. Gelambir di sisi tubuh. Membusuk, tak jarang. Aus. Jejeran kerutan. Penuh emosi, jika itu tentang manusai (bukan?). Dan kini adalah tepat lima tahun aku tak lagi mampu menangkap hijaunya rumput dari matamu, sejuknya angin pagi hari dari nafasmu, dan bahkan hitamnya langit dalam keindahannya dari rambutmu.

***
Bagaimana aku bisa mendeskripsikanmu? Sebab engkau tak mampu diwakilkan dalam untaian kalimat paling indah sekalipun. Engkaulah keindahan itu sendiri. Engkau benderang, tanpa mampu dijelaskan mengapa engkau mampu memiliki cahaya segemilang itu. Sebab engkaulah sinar itu. Dan tentang kasihmu. Adalah aku hasil dari kasihmu. Pada setiap sel yang menyusun organku. Dalam pergerakan aliran darahku. Di setiap tetes air mataku sekalipun. Kasihmu meliputi suka dan dukaku.

Tetapi, engkau tak melulu menjadi baik. Sebab engkau bukan sepenuhnya malaikat. Bukankah malaikat hanya mampu menurut. Tidak membangkang. Tak mampu meluapkan emosi, sebab anugerah itu tak pernah bersemayam pada mereka. Tak pernah menangis. Tak seperti dirimu. Engkau mampu menangis dalam pedih dan perih. Bahkan dalam air mata kebahagiaan. Di situlah kadang saya tak mampu mencernanya. Apakah engkau menangis karena sukaku atau dukaku? Dan marahmu memang mahal. Engkau hanya sesekali melakukannya. Karena engkau tahu, bagaimana bisa aku melalui hariku dalam murkamu. Yang bahkan dalam murkamu pun, sesungguhnya ada rembesan kasih yang masih sempat engkau titipkan pada hembusan angin atau rintik hujan.

"Adakah hari ini engkau bahagia melihatku?," adalah pertanyaan yang kini selalu muncul tiap kali mataku akan terpejam. Aku lelah. Aku ngantuk. Setengah dari sepuluh adalah tahun-tahun yang mengerikan. Waktu yang mampu menyulapku menjadi semakin egois, tak terkendali, keras kepala, manja, dan rinduku semakin menjadi. Lebih dan lebih.

***
"Sudah punya kekasih?" tanyamu. Sementara selang infus masih saja menggenggam jalur darah di nadimu. Bahkan selang oksigen belum juga sanggup berpisah denganmu. Engkau pun bahkan sudah 2 hari menolak makanan dicerna ususmu.

"Tidak," jawabku singkat.

Bisakah kita mengakhiri sesi pertanyaan kisah kasih ini, pintaku dalam hati.

"Bukankah sudah saatnya kau mencari lelaki yang tepat?" tanyamu.

"Lain waktu saja," ujarku ketus.

Lalu kita berdua hanya diam. Aku diam dalam marahku. Bagaimana bisa engkau masih saja memusingkan hal seperti itu. Padahal tubuhmu sudah sangat letih bukan? Letih dari suntikan tiap hari yang mengunjungimu minimal 3 kali sehari. Letih karena obat oral itu mesti engkau teguk dalam butir dengan frekuensi melebihi jumlah hari dalam sepekan. Belum lagi dengan jenis larutan tertentu yang mesti dicampurkan pada selang infusmu. "Biar obatnya langsung bereaksi," kata salah satu perawat.

Aku hanya melihatmu diam. Diammu hening dan dalam. Aku tak tahu apa yang sedang engkau pikirkan. Apa ada yang sedang berkecamuk? Aku hanya mampu menangkap diammu di kulit luarnya saja. Kali ini engkau seperti lorong yang temaram tanpa ujung. Aku takut melaluinya. Aku tak mau melaluinya tanpa genggaman tanganmu.

***
"Besok saya akan ujian akhir," kataku sambil memeluk pinggangmu.

"Lakukan yang terbaik. Saya tak pernah peduli tentang hasilnya. Pokoknya berproseslah dengan memperlihatkan segala kemampuan dirimu. Saya percaya padamu," paparmu lantas mengecup keningku.

"Kalau saya selesai ujian akhir. Kita akan makan dimana?" tanyaku.

"Sudah punya kekasih?" tanyamu. Lalu aku melepas pelukan pingganggku untukmu. Engkau hanya tersenyum lalu terus menggodaku.

***
Dari tahun ke tahun aku tak lagi bersamamu. Aku mulai terlatih meski juga tertatih. Kini samar-samar aku mulai terbiasa melihat hijaunya rumput dari mataku sendiri. Meski masih cukup kabur. Aku mulai mencoba merasakan sejuknya angin pagi dari nafasku. Meski lebih banyak hari kulalui tanpa pagi yang sejuk. Tanpa melihat matahari yang merangkak naik. Pagiku berbeda dengan pagimu. Jujur saja, aku terlalu benci untuk menemui pagi. Sebab pagi merenggutmu dariku. Dari mimpiku di malam hari. Pagi juga kadang datang terlalu tergesa-gesa. Padahal apa yang bisa kita peroleh jika terburu-buru?

***
Hari ini, Rabu, tepatnya sebelas Maret dua ribu lima belas. Aku sudah tak lagi melalui malam dalam tangis. Isakan itu sudah berganti iramanya. Tangisanku kini lebih beragam, lebih bervariasi. Tak melulu olehmu. Meski sebenarnya berhilir padamu.

***
Aku masih semanja yang dulu. Setia dalam keras kepalaku. Juga masih tak memperdulikan jam makan dan tidur. Acuh terhadap warna dan bentuk tren pakaian perempuan kekinian. Bukankah engkau akan marah dengan semauku ini?

Aku juga masih belum menemukan kekasih. Bukankah engkau masih mengkhawatirkan hal ini?

Bukankah aku masih bandel? Tetapi tenang saja. Aku (mencoba) mulai terbiasa dengan kehidupan yang dari dulu engkau ceritakan saat engkau mengelus rambutku. Atau saat aku mendekapmu. 

***
Setengah dari sepuluh. "Apa kabar Mama? Aku dan adikku sudah jarang berkelahi kok. Laporan selesai."

You Might Also Like

0 komentar