Pinnochio, Bukan Review Pinnochio

Pinnochio. Entah sejak umur berapa, juga karena apa. Saya sewaktu kecil pernah mendengar kisahnya. Pinnochio juga pernah saya saksikan aksinya di layar kaca. Film kanak-kanak ini menyisipkan sebuah pesan moril. Marilah berkata jujur. Sebab jujur merupakan perbuatan mulia. Masih dalam film itu, kita juga akan diajarkan tentang hukum kausalitas. Yang di telinga kita lebih sering didengar dengan sebutan "karma". Sebuah alur cerita yang mengedukasi kita tentang konsekuensi atau sanksi. Seperti pepatah kita. Apa yang ditanam, maka itulah yang akan dituai. Berani berbohong, maka lelaki bernama Pinnochio ini akan siap menerima ganjarannya. Acapkali berbohong, maka hidungnya akan memanjang. Bukan mancung. Akan tetapi, jika dia mulai berkata jujur atau mengakui kebenaran yang disembunyikannya. Maka ukuran hidungnya akan kembali normal secara bertahap.

Pinnochio yang dalam lidah kita diujar dengan ejaan Pi-no-kio. Kali ini saya menemukan sebuah drama berseri dengan judul yang sama, Pinnochio. Tetapi ini bukan Pinnochio yang pernah saya dengar dan nonton kisahnya. Film ini bukan hasil buah tangan produk bangsa Barat. Bukan film yang dahulu pernah saya saksikan. Melainkan sebuah karya dari negara yang tidak sedikit penduduknya menghadiahkan anaknya operasi plastik. Juga, negara dimana para group band, baik boy atau girl band menjadi kiblat beberapa band "mendadak" negeri kita. Sayangnya, jauh dari kualitas yang diharapkan. Produk negri kita hanya bisa sampai memuaskan mata saja. Masalah olah vokal, fashion, dan koreo, kita masih jauh tertinggal. Kembali ke persoalan film versi Korea ini. Di kisahkan bahwa Pinnochio adalah sebuah sindrom dimana orang yang memiliki riwayat penyakit ini akan cegukan setiap kali dirinya berkata bohong. Cegukannya akan berhenti sampai si penderita menyatakan kebenaran atau berhenti membual. Jalan ceritanya berbeda dengan versi Barat memang.

Sekalipun memiliki alur yang berbeda. Tetapi setidaknya, keduanya hendak menghadirkan kita sebuah film dengan semangat "memelihara kejujuran". Jujur. Sebuah sifat yang kian lama semakin sulit dipertahankan-ditemukan-dilakukan. Sulit tidak berarti tidak dilakukan. Saya percaya, bahwa masih banyak orang di luar sana yang ditemukan-melakukan-mempertahankan-memilih bersifat jujur. Kata jujur sering digandengkan dengan kata bersih. Maka jadilah bersih dan jujur. Sebuah kalimat yang semakin dirindukan eksistensinya. Yang dalam ranah politik, dimana kepentingan pribadi bahkan mampu menaklukkan kepentingan partai. Apalagi hanya janji pada masyarakat. Slogan bersih dan jujur selalu saja terngiang-terlontar. Masyarakat sebagai kelompok yang ingin diwakilkan suaranya, senantiasa berharap dengan penuh bahwa perwakilan mereka adalah individu yang bersih dan jujur. Jika bisa, bersih lahir bathin serta jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

Sayangnya, pada beberapa kejadian yang ditemukan. Dimana bersih dan jujur dengan mudah diperoleh. Cukup bermodal atribut tertentu. Parah memang, jika si pengguna atau penyalah guna atribut ini justru cenderung menjatuhkan pilihannya para poin "keagamaan". Cukup dengan dalih petikan beberapa untaian ayat dari kitab suci. Mengenakan pakaian yang menggambarkan kasta "pengetahuan keagamaan" tertentu. Menjual nama deretan para pengantar "kalimat Tuhan". Maka jangan heran jika tidak sedikit orang langsung melabelnya bersih dan jujur. Sayang sekali, seharusnya pelabelan bersih dan jujur tidak hanya sebatas tampilan saja. Jika kelak si oknum ini melakukan tindakan yang tidak ekuivalen dengan jalan bersih dan jujur. Mau apa orang-orang yang sudah terlanjur melabelnya ini? Lantas, ujung-ujungnya malah menyudutkan keyakinan atau agama yang dianut si pelaku? Atau dengan santai berujar bahwa penampilan memang tidak dapat mengukur ke-bersih-an dan kejujuran seseorang. Yaaaah, mestinya dalil yang satu ini mereka teori dan praktikkan sebelumnya. Tetapi yang paling parah dari seluruhnya, ialah orang-orang yang berlagak legowo atau saya lebih senang menyebutnya mereka yang bertaqlid buta. Mereka yang tak peduli apa pun yang si pelaku lakukan. Bersih atau tidak, jujur atau tidak. Bagi mereka si pelaku tetap benar, ini hanyalah kebohongan yang disebarkan secara masif dan terstruktur. Merekalah yang tingkat fanatiknya sangat akut. Terkadang mereka jugalah orang-orang yang menganut faham "senggol dikit, langsung bacok". Sayang bukan.

Masih menyoal bersih dan jujur. Keadaan bersih dan jujur adalah kondisi yang dari dahulu selalu dirindukan. Bukan karena belum ada yang mampu melakukannya. Tetapi lebih pada kita (dalam bentukan apapun, masyarakat-individu-bahkan dalam kedudukan tertentu) menginginkan secara kuantitas, mereka yang berlaku bersih dan jujur meningkat. Meski godaan di luar sana bukan main kerasnya. Yah, bersih dan jujur memang pada akhirnya akan menyenggol ranah iman seseorang. Kuatkah dirinya untuk tetap bersih dan jujur? Sanggupkah dia menutup mata dan menolak tawaran untuk menanggalkan jubah bersih dan jujur? Pertanyaan ini adalah pertanyaan kita bersama. Karena bisa saja hari ini kita mengoceh tentang bersih dan jujur, tetapi bisa jadi besok kita justru sedang terpilih menjalani ujian bersih dan jujur. Hasilnya? Anda sendirilah yang menentukannya.

Bersih dan jujur senantiasa diharapkan ada. Apalagi jika dikaitkan dengan kesejahteraan rakyat. Kita semua sama-sama merindu sosok seperti itu. Masyarakat tentu menginginkan para pemimpin yang bersih dan jujur. Mereka juga menginginkan para aparat negaranya bersih dan jujur. Juga kepada para politisi, penulis, pedagang, guru, editor, pejabat, motivator, photografer, pengusaha, public speaker, koki, wartawan, penjahit, hair stylish, bahkan sampai pada skala tukang ojek sekalipun. Bersih dan jujur tampaknya menjadi harga mati. Lantas bagaimana dengan mereka yang tak mampu mengemban beban "bersih dan jujur" ini? Andai saja. Jika saja bisa berandai. Para pembohong itu atau mereka yang berlaku tak jujur, apalagi tak bersih. Jika saja apa yang dialami Pinokio bisa menjadi realitas bagi mereka. Entah dalam versi hidung yang memanjang atau cegukan. Siapa saja yang berkata selain kejujuran akan menerima ganjarannya. Maka saya akan meninjam konsekuensi dari film Pinnochio versi Korea Selatan. Dalam sebuah scene, seorang tokoh membandingkan resiko dari berkata bohong bagi Pinokio. Pilih mana cegukan tak henti-henti atau kentut terus-menerus?


You Might Also Like

0 komentar