Hujan Hari Kamis

Aku tidak membutuhkan Theobroma Cacao sekarang. Masa ini, persetan dengan kandungan cokelat dan tete-bengek hormon-hormon itu. Terserah mau mengelabui otak bagian mana dengan pasukan serotonin-nya. Aku tidak ambil pusing. Keniscayaan cokelat terhadap berat badan juga tidak mampu mengusikku. Tidak secuil pun. Masalah bahagia itu tak sekedar berapa gram jenis makanan mood booster yang kau kunyah. Bisa saja hanya sebatas persepsi. Atau sebuah penerimaan maha tinggi tentang realitas. Mungkin juga ada sesi berdamai dengan diri sendiri dan bla bla bla. Tetapi tidak dengan cinta.

Bahagiaku tak butuh coklat. Mengapa begitu? Di suatu fajar, Syaikh Nizami pernah berbisik padaku. Pernyataannya kini tergiang-giang ke seluruh penjuru mata angin. Menempati setiap sel rumahku, kamar tidurku, meja kerjaku, ruang kantorku, dan bahkan perabot yang kumiliki. Melintasiku dan lompat-lompat dalam setiap pergeseran detik. Tapi tunggu. Aku benci jam yang tak berdetak dalam detik. Jam yang hanya mampu bergeser tanpa tik, tak akan membunuh hening. Apalagi menetaskan bahagia. Dia hanya mampu melahirkan waktu dari percintaannya tanpa sempat orgasme. Menit-menit dalam ejakulasi dini yang pongah.

Bagaimana mungkin aku tidak gila
Bila melihat gadis bermata indah
Yang wajahnya bak mentari pagi bersinar cerak
Menggapainya balik bukit, memecah kegelapan malam

Itukan ucapmu, Nizami. Dulu aku tak percaya bualanmu. Bahkan tak ku gubris saran-saran cintamu. Tapi keyakinanku mulai goyah. Apalagi saat engkau berhasil mengajakku menikmati sepotong senja dalam tradisi minum teh bersama Einsten. Nizami, kau sungguh tahu titik kelemahanku. Senja, teh, dan Einsten. Kali ini aku pasti mendengarmu. Bukan, bukan kamu Nizami. Tetapi teman minum tehku, Einsten. Ahhh, Nizami, kau mungkin telah bersungguh-sungguh membaca karya Lao Tzu. Tak sekedar membaca dugaku. Engkau mungkin sudah mengencani si cantik, The Art of War tiga atau empat kali setidaknya. Dirimu didera kasmaran dengannya dan kini berhasil menjebakku untuk menikmatinya walau seteguk dalam siasatmu. Oh iya, sebelum pulang tadi. Einsten sempat berujar padaku saat menjabat tanganku. Ku pikir jabatan tangan teman minum tehku ini sangat hangat. Sehangat tangan lelaki itu. Lelaki yang ku temui di suatu Selasa pagi dengan rambut ikalnya yang menawan. Lelaki dengan suaranya yang khas. Tidak serak atau bass. Lelaki yang ku tahu sebatas nama saja. Tetapi dia memiliki mata rembulan. Mata yang bersinar hidup dan meniupkan kehidupan. Kata Einsten, saat jatuh cinta. Hukum gravitasi tak akan mempan bagi sepasang kekasih. Ada-ada saja dia. Tawaku hampir meledak. Tapi ku tahan. Aku terlalu mengaguminya. Mungkin juga tersisip malu. Dia benar.

Hari ini. Tiba-tiba saja aku butuh sepertiga masanya ku lalui dalam rebas. Mungkin lebih lama. Aku ingin basah. Bukan dingin. Aku mau berbalut rinai hujan. Menari. Aku mendadak ingat lelaki itu. Tapi aku tidak menangis. Aku bukan perempuan penangis. Menangis hanya akan lahir saat aku telah berjuang. Mengeluarkan banyak keringat. Berkoar-koar dalam dalam. Berusaha. Sedikit berdarah dalam kiasan maupun realitas. Darah yang nyaris kering bahkan tanpa sempat menebar bau anyir dan amis. Barulah kita menangis. Tangisan dalam hujan itu menyenangkan. Sekaligus menenangkan. Aku butuh hujan. Kenangan dan kegembiraan atau apa saja hasil produk dari hujan bukan butuhku. Aku hanya butuh hujan. Bukan setelah hujan. Meski aku akan menemukan bau khas tanah setelah hujan. Aku ingat, aku selalu saja membiarkan Petrichor membaui lorong hidungku. Menempel di dalamnya lama dan lekat. Aku tak pernah menolaknya. Dan itu adalah waktu dimana aroma ini bergerak bebas sesuai kehendaknya. Tanpa bisa terbendung. Sekali lagi ku tegas, aku hanya butuh hujan. Juga butuh lebih dari sekedar namamu. Ruang berkomunikasi, mungkin. 

"Aku butuh hujan", umpatku.

Sungguh. Karena hujan ialah basah yang tak mungkin dicegah. Begitu pun aku saat ini. Dan itulah hujan di hari kamis.

You Might Also Like

0 komentar