Cita-Cita, Bukan Cita Citata

Cita-cita, bukan Cita Citata yah. Cita-cita. Pernyataan yang acap kali saya, anda, dan kalian dengar serta mungkin juga kita perdengarkan. Apa cita-cita kamu? Kurang lebih, begitulah bunyinya. Pertanyaan jenis ini paling sering dilontarkan kepada mereka yang berusia masih sangat belia, atau dianggap sedang menentukan jalur hidupnya. Pun pada seseorang yang dipandang tak jelas masa depannya. Untuk kalimat terakhir kok terasa sedikit kejam yah. Fokusnya kepada mereka yang tak jelas masa depannya. Kejam sekali mengatakan atau melabeli mereka tak bermasa depan. Padahal kita tidak dua puluh empat jam penuh bersama mereka untuk cukup tahu tentang rutinitasnya. Bahkan kita tak cukup dekat untuk saling mengetahui isi kepala atau hanya sekedar bertukar tanggapan.

Menyoal tentang cita-cita. Saya teringat sewaktu masih kecil dahulu. Pertanyaan jenis ini secara kuantitas saya temui dengan nilai kemunculan yang tinggi saat masih menginjak masa taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Ketika berada di ruang kelas, dimana lebih banyak waktu yang digunakan untuk bermain-teriak-makan-nyanyi. Guru saya masih saja sempat mengeluarkan pertanyaan pamungkas ini. Belum lagi saat baru bertemu dengan sanak saudara dan keluarga. Setelah dengan manis menanyakan tentang nama yang diberikan orang tua kami. Lalu berguman sudah berapa lama kami menjejal dunia ini. Kemudian pada akhirnya bertanya lagi. "Kalau sudah gede mau jadi apa?". Tuh khan, ujung-ujung itu lagi.

Lantas, setelah sekian tahun meredup. Kemudian tampak ke permukaan lagi saat akan mengakiri sekolah jenjang menengah pertama. Tak sampai di situ, pertanyaan selevel cita-cita nongol lagi kala masa menengah atas akan khatam. Bahkan setelah melalui masa perjuangan dalam serunya mengerjakan tugas akhir. Selepas memperoleh gelar kesarjanaan, pertanyaan itu muncul lagi. Rajin betul orang-orang ini bertanya pada saya, pikir saya suatu waktu. Seberapa pentingkah arti cita-cita hingga selalu saja arisannya naik? Begitu butuhkah seseorang dilontarkan pertanyaan tentang apa yang dia inginkan? Tidak adakah metode lain selain mengajukan pertanyaan semacam itu dengan repetisi yang tak terduga untuk dapat mengetahui alur hidup orang lain?

Kembali ke masa kecil. Ketika saya dilontarkan perihal apa cita-cita saya. Saya memulainya dengan memilih menjadi seorang pelukis. Kala itu, saya sungguh menggilai warna dan lekukannya. Saya menyukai aroma yang keluar dari pensil warna, kuas, atau krayon saya. Saya jatuh cinta pada objek yang berhasil saya cipta di kertas putih itu. Tetapi, bosan karena hanya sanggup menggambar itu-itu saja. Saya mengakhiri keinginan saya. Beberapa bulan saya memutuskan untuk memilih tidak memiliki apa keinginan saya. Hingga suatu ketika saya menonton sebuah acara televisi. Entah mengapa saya justru memutuskan kelak akan memiliki pekerjaan yang bisa membuat saya mengunjungi daerah yang ada di Indonesia maupun dunia. Saya terhipnosis dengan canda tawa orang-orang yang diambil dari berbagai penjuru kota. Saya penasaran dengan rasa airnya, bau tanahnya, bahkan dingin saljunya. Pilihan profesi yang sesuai dengan keinginan baru saya ini cukup beragam, saya bisa saja menjadi pramugari, host acara petualangan atau travelling, public speaker, bangun usaha tour and travel, wartawan, motivator, dan apalagi yah? Sampai saat ini, saya justru memilih menjadi seorang guru. Tetapi semangat untuk berkeliling tetap terpelihara dengan baik dan aman.

Sayangnya, peralihan cita-cita dari pelukis ke pengeliling tempat tidak akan dialami oleh banyak anak-anak di jaman saya. Di kala itu, profesi yang kami kenal sangat sedikit. Pengetahuan kami sungguh terbatas. Kami hanya dibayang-bayangi dengan pekerjaan tersohor atau memiliki hidup dengan latar pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Kala itu, pekerjaan sekelas dokter, aparatur negara, pilot, pramugari, atau jadi orang kaya atau terkenal seperti menjadi alternatif pilihan. Ini seperti menjawab soal pilihan ganda saja. Jawaban sudah tertera, tinggal kita saja yang memutuskan mau menyilang yang mana. Sungguh, kami sungguh fakir dalam keragaman profesi. Imbasnya, kami  memiliki cita-cita yang itu-itu saja. Miris bukan?

Cita-Cita Lelaki Kecilku
Masih berkaitan tentang cita-cita. Hari ini saya dikejutkan dengan sebuah pernyataan dari keponakan lelaki saya. Ponakan saya ini sudah memasuki tingkatan ketiga di sekolah dasar. Dia merupakan anak yang memiliki paras yang menawan turunan dari ibunya. Serta kecekatan yang diwariskan ayahnya. Lelaki kecil saya ini mengatakan bahwa dia kelak akan menjadi seorang arsitek.

Keterkejutan saya lahir bukan karena keputusan yang telah dibuat dan sampaikannya. Melainkan karena hampir setiap tahun dia akan mengumumkan cita-cita terbarunya. Saya terkejut untuk apa yang dipilihnya. Dan kali ini pilihannya jatuh pada arsitek. Jika sebelumnya dia mengumandangkan akan menjadi dokter, pilot lalu tentara. Menilik ke masa kecil. Orang-orang yang berlatar masa dengan saya, ketika sudah memiliki cita-cita. Sangat tidak akan seaktif lelaki kecil saya ini dalam mengubah-ubah alur impiannya. Kebanyakan dari kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah alur kapal kehidupan kami. Atau terkungkung dengan jenis profesi itu-itu saja.

Keseringan mengganti jenis profesi atau impian bagi lelaki kecil saya ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Tidak ada salahnya merubahnya karena dalam perjalanan kehidupan ini tentu kita akan banyak melihat-mendengar-mengetahui pelbagai hal, beragam argumentasi dan kritikan. Tentu itu akan mengubah pola pikir kita. Merubah tujuan hidup. Masih jauh memang jika menarik kesimpulan bahwa ponakan saya ini telah banyak melihat-mendengar-mengetahui pelbagai hal, sehingga dengah gagah melakukan aksinya. Tetapi kita boleh saja membuat spekulasi bahwa pada zamannya lelaki kecil saya ini, nyatanya mereka diberikan akses yang besar dalam usianya yang dini untuk mengetahui bahwa profesi di dunia ini sangat banyak. Dimana mereka diberi kebebasan untuk menentukannya dan tak salah jika melakukan perubahan.

Seputar tentang ragam jenis pekerjaan. Saya jadi teringat sebuah kegiatan yang lahir dari program Indonesia Mengajar-nya Anies Baswedan. Bukan, saya tidak sedang mem-promosikan sosok Menteri Pendidikan kabinet Jokowi ini. Pun tidak sedang mem-promosikan program Kelas Inspirasi-nya. Hanya saja saya menyukai semangat dari program Kelas Inspirasi-nya ini. Dimana dengan metode yang menarik, Anies Baswedan dan crew-nya memperkaya khasanah varian profesi bagi anak-anak yang sekolah terpilih untuk dikunjungi. Tidak hanya sebatas menyampaikan perihal macam-macam jenis pekerjaan. Tetapi program ini langsung menghadirkan orang-orang dengan profesi itu. Seperti menghadirkan seorang pemadam kebakaran yang sedang memakai pakaian dinasnya. Lengkap dengan mobil pemadamnya, jika memungkinkan. Bahkan orang-orang ini tidak hanya menjadi boneka untuk dipajang dan memuaskan mata anak-anak itu. Orang-orang ini diberi waktu untuk berbagi kisah dengan anak-anak ini. Juga para anak sekolah ini dipersilahkan melakukan interaksi fisik maupun dalam bentuk pertanyaan guna lebih mengetahui lebih dalam tentang orang yang berada di depan mereka. Menyenangkan bukan?

You Might Also Like

0 komentar