Menyoal #MakassarTidakAman

Sudah sepekan lebih, tagar #MakassarTidakAman muncul ke permukaan. Yang pada akhirnya tak hanya menjadi bahan mentah tulisan di blog dan web dari segala sudut pandang. Tepat seperti yang saya lakukan sekarang ini. Media online pun meliris tema serupa dengan kemasan argumen para pemegang kekuasaan. Mulai dari aparatur negara, pemimpin daerah kota sampai provinsi. Juga keprihatinan dari orang nomor dua negri Merah Putih.

Merujuk pada www.tempo.co yang diterbitkan pada Selasa, 24 Pebruari 2015, dalam akun pribadinya, Jusuf Kalla berkicau dalam beberapa poin terkait kondisi kota Makassar : "1. Menanggapi Petisi Warga Makassar yang dikrimkan kepada saya terkait maraknya aksi kekerasan oleh Anggota Genk Motor di Makassar,"

"2. Pagi tadi saya sudah berbicara dgn Kapolda Sulselbar sekitar pkl 9.45 wib ttng masalah tersebut,"

"3. Saya telah meminta Kapolda Sulselbar dan pihak terkait agar menuntaskan kasus tersebut agar masyarakat kembali merasa aman dan nyaman."

Hashtag #MakassarTidakAman mulai melesat menggeser kandidat yang lainnya untuk skala lokal. Acapkali berselancar di facebook atau twitter, hashtag ini doyan muncul pada beberapa status. Ada yang hanya sekedar berbagi kecemasan, share testimoni tentang ke-aktual-an ketidakamanan yang dialaminya, bertukar petuah agar aman saat mobile, atau sekedar memuntahkan kejengkelannya.

Perkara keamanan itu kebutuhan primer. Dimana setiap individu membutuhkannya. Tak peduli jenis kelamin, usia, suku, dan pembeda dalam skala apapun. Setiap pribadi memilik hak memperoleh dan merasa aman dalam berbagai bentuk. Entah pada level mengapresiasikan pendapatnya, beragama, juga sampai pada keamanan secara fisik. Dalam hal ini, setiap orang tentu tidak ingin mengalami kejadian buruk seperti penodongan, pemukulan, perampokan, atau dibunuh oleh kelompok dengan merek geng motor.

Naik daunnya tagar ini disinyalir bermula dari kembali maraknya berita tentang aksi kumpulan pengguna roda dua ini di beberapa lokasi di kota Makassar. Wacana ini disebarkan secara masif melalui jejaring sosial. Padahal sebelumnya, hal serupa juga terjadi. Tak hanya di kota Makassar saja. Persoalan geng motor sudah menjadi cerita bertaraf nasional di Indonesia. Bahkan beberapa negara juga mengalami kasus serupa dengan pola perilaku yang berbeda dari oknum pelakunya.

Segelintir dari beberapa warta terkait geng motor, seperti pada regional.kompas.com tertanggal 22 Pebruari 2015, hari Ahad. Diberitakan tentang perampokan yang dialami seorang pengendara motor bernama Rida Ahmad yang berusia 15 tahun di jalan Racing Center, Makassar. Aksi geng motor ini berlangsung pada hari Sabtu, 21 Pebruari 2015 dengan beranggota 6 orang. Kepala Polsekta Panakukkang, Komisaris Polisi (Kompol) Tri Hambodo membenarkan terjadinya peristiwa perampokan ini.

Masih dengan nada serupa, pada situs makassar.tribunnews.com  yang di-publish pada hari Selasa, 24 Pebruari 2015. Mewartakan tentang adegan penjarahan yang dilakukan geng motor beranggotakan enam orang di jalan Penghibur pada sebuah minimarket. Kejadian ini berlangsung pada hari Senin, 15 Pebruari 2015. Para pelaku selanjutnya diamankan oleh Unit Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Sketor Ujung Tanah Makassar.

Menyoal tentang #MakassarTidakAman, pihak Kepolisian dalam pemberitaan pada tribunnews.com yang di-posting pada hari Selasa, 24 Pebruari 2015, mengisyaratkan akan mengambil tindakan tegas.

Dikutip dari media elektrik tersebut, Kepala Polrestabes Makassar, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Fery Abraham berujar, "Tidak pandang usia, mau anak-anak, jika melakukan perlawanan dan membahayakan jiwa orang, saya perintahkan anggota agar tembak di tempat kawanan geng motor itu. Jadi, bukan hanya geng motor saja, tapi semua jenis kejahatan di jalanan yang menggunakan motor."

Selain itu, Fery juga memaparkan tentang meningkatnya keresahan masyarakat dan menyoal tentang hashtag #MakassarTidakAman yang disebarkan melalui media sosial dan akan mengambil tindakan terhadap pelaku penyebaran.

Dikutip dari situs tersebut. Menurut Fery, saat ini ada kelompok yang membuat masyarakat Makassar resah dengan banyaknya beredar informasi Makassar tidak aman melalui media sosial maupun jejering sosial. Dengan begitu, pihaknya pun melakukan pelacakan dan mencari pelaku yang menyebarkan keresahan itu.

"Ada kelompok yang membuat masyarakat resah. Kita sementara cari dan lacak siapa orangnya. Kita nanti akan proses dan nanti pelakunya dikenakan Undang-undang Informasi Teknologi (ITE)," tegasnya.

Masih menyoal tentang #MakassarTidakAman, walikota Makassar, Danny Pomantau memilih langkah berbeda. Hal ini dapat dilihat pada situs Suaranews.com  yang saya akses pada hari Kamis, 26 Februari 2015 pukul 13:20 WITA. Danny justru lebih fokus untuk menelusuri siapa dalang #MakassarTidakAman dan berusaha menangkap penyebarnya. 

Menyoal tentang #MakassarTidakAman. Sebagai masyarakat, saya sebenarnya kecewa. Ketimbang secara nyata melepas keresahan masyarakatnya dari teror psikis semacam ini. Kenapa justru lebih memilih mencari dalang penyebar tagar tersebut? Andai jika dalangnya ditangkap, tidak lantas membuat Makassar menjadi aman bukan? Bapak salah fokus namanya. Dan pak, sebagai saran saja. Mengapa tidak mencoba menanganinya dengan #MakassarAman pak?

You Might Also Like

2 komentar