Mengapa Sakit Semenderita Ini?

Mestinya sakit tidak perlu semenderita ini. Merambat nyaris begitu cepat dan konsisten. Hanya di area itu-itu saja. Tidak ada variasi. Stagnan. Tak pula bosan. Mentalnya perlu diubah. Repetisi itu membunuh ruh kehidupanmu. Padahal musim sebentar lagi berganti. Hitam menjadi putih. Langit cerah. Bunga merekah. Manusia lebih banyak yang gerah.

Nyerinya begitu teliti. Masuk melalui gerbang utama. Juga memanfaatkan celah. Menyabotase apa saja. Tetapi nyeri ini sungguh profesional dan to the point. Tanpa preludium. Dia begitu gagah langsung menyerang titik saraf. Memangkas ranting senyuman satu demi satu dengan sekali tarikan nafas. Nyaris tanpa bekas. Diiringi sebuah teriakan keras.

Nyilunya begitu rajin berkunjung. Kala pagi dengan hembusan sejuknya, nyilu juga merembes masuk ke pori-pori. Saat matahari meluruskan bayangan dengan obyeknya, nyilu justru sedang menjilati setiap sel penuh gairah. Bahkan saat senja dalam usaha kerasnya melahirkan jingga di langit, nyilu malah semakin khusyuk menjalar. Jangan ditanya tentang malam. Bagi makhluk nocturnal, lebih dari insomnia. Bahkan dalam gelap, nyilu justru hanya menyisakan kurang dari 60 menit waktu tidur. Tak ada waktu mengunyah lembar-lembar buku. Tak ada orgasme. Keyboard laptop tak terjamah. Pena masih mematung di tempatnya. Soporeus memutuskan menjadi musafir. Sementara kreativitas berhibernasi.

Mestinya sakit tidak perlu semenderita ini. Menjalar sampai ke leher. Terkadang menghentak-hentak ke segala penjuru. Sakitnya punya sono-nya sendiri. Tetapi, mana ada lagu merdu dalam paduan duo nyilu dan nyeri? Bubarkan saja grup musiknya. Dalam usia produktifnya, bahkan dengan solo karir pun. Tangisan pilu lahir prematur dan kembar. Mengancam ekosistem dan populasi kebahagiaan.

Mestinya sakit tidak perlu semenderita ini. Tak perlu membuat kuas sampai berwarna merah. Itu darah. Juga tak perlu sampai membuat meringis. Meski dilakukan saat gerimis.

Mestinya sakit tidak perlu semenderita ini. Sudah lebih dari 5 satuan hari engkau bersemayam. Engkau pecinta sekaligus pendendam. Engkau kejam. Rindumu fluks. Kasihmu abstrus.

Bagaimana bisa sakit semenderita ini?, protesku.

Perempuan cantik berbalut atasan putih itu hanya tersenyum manis. Senyumannya sangat manis dan tulus. Saat perempuan itu menyentuhku, tercium aroma kayu manis. Aku hanya mampu meringis. Sentuhannya kali ini tepat di sel-selku yang sedang bermasalah. Tetapi perempuan itu tidak salah.

Lebih dari yang saya khawatirkan. Gigi anda tak hanya berlubang. Tetapi juga mengalami infeksi. Wajar jika sakitnya menjalar, tutur perempuan itu.

Pantas saja sakit ini menggerogotiku, umpatku.

You Might Also Like

0 komentar