Mata atau Telinga

Mata atau telinga? Iya benar. Bagian manakah dari kedua indera tersebut yang sangat mempengaruhi seseorang. Apa yang tampakkah? Apa yang didengarnyakah? Sejauh mana hal-hal dari yang ditangkapnya bisa mempengaruhinya? Bagaimana reaksinya? Atau pernahkah seseorang membandingkan respon dirinya saat melihat sebuah kejadian dengan mendengar sebuah hal?

Mata atau telinga. Kali ini bukan tentang metode pembelajaran yang dimiliki setiap peserta didik. Saya sedang tidak mengelompokkan mereka ke dalam visual, audio, dan kinestetik. Saya juga tidak sedang mengeksplorasi salah satu atau kedua dari panca indera itu. Hanya saja. Saya sedang mempertanyakan mata dan telinga saya, kalian, dan mereka.

Mata atau telinga saya beserta kedua teman kantor saya sedang diasah sebaik mungkin petang ini. Ahad, sembilan belas Februari tahun dua ribu lima belas. Hari kamis. Bertepatan dengan perayaan tahun baru Cina. Tahun kambing. Sayangnya di kota kami, sejak pagi hari tidak diguyur hujan. Rebas pun tidak. Langit hanya sanggup mendung tanpa mau menangis. Untungnya malam memiliki takdirnya sendiri. Gerimis lalu deras.

Idealnya, seperti hari libur pada umumnya. Saya dan kedua teman kantor saya, Nanik dan mbak Sari. Kami memutuskan menikmati hari bersama. Jauh hari sebelumnya kami telah merencanakan liburan itu. Pusat perbelanjaan menjadi tujuan kami. Di sana dalam rangka sebagai hadiah kelahiran saya. Nani dan mbak Sari telah memutuskan akan menikmati kuliner Asia yang menggoda iman. Mengenai selera makan. Kami sama-sama penikmat makanan Jepang. Tapi pada dasarnya, perempuan-perempuan ini pecinta makanan. Meski mbak Sari tidak terlalu suka pedas. Saya alergi cumi-cumi dan kepiting. Spesial Nanik, dia tak akan menghabiskan makanannya kalau lauknya ludes duluan.

Akhirnya, setelah menyelesaikan urusan perut. Kami memutuskan untuk melanjutkan ke fase pembakaran kalori. Sungguh, kami adalah perempuan yang tak hanya mampu makan atau menyerap kalori sebanyak mungkin. Tapi juga bisa langsung mengeksekusinya di tempat. Kami langsung  berolahraga. Jenis olahraga yang kami pilih adalah jalan santai. Ini adalah jenis olahraga yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan bersama teman di mall. Olahraga menyenangkan, bukan menyegarkan saya menyebutnya.

Tentang belanja. Meski kami ialah perempuan, tetapi fokus kami berbeda. Kami adalah perempuan yang dari titik temu atau rumah sudah memutuskan tempat-tempat apa saja yang akan kami singgahi. Benda atau produk apa saja yang kami akan beli. Lebih jauh lagi. Jika perlu, sebelumnya kami akan mencari tahu dulu keunggulan dari produk yang akan kami beli. Membandingkannya dengan jenis yang serupa. Poin harga juga masuk dalam bahan pertimbangan. Yang tak kalah penting, kami akan menanyakan pada diri kami masing-masing. Apakah produk itu adalah sesuatu yang kami butuhkan atau hanya yang kami inginkan.

Kembali ke persoalan membakar kalori. Setelah memasuki toko pakaian. Kami melanjutkan ke tempat untuk berbelanja bulanan. Beberapa kebutuhan pokok masuk ke dalam kereta belanja kami. Yakin telah membeli segala kebutuhan. Segeralah kami meluncur ke kasir. Rupanya hari libur selalu menaikkan jumlah costumer. Antrian di sana sini. Hampir semua kasir melayani para visitor toko itu. Dan tibalah kami saat mata atau telinga kami diuji. Hanya dalam hitungan detik. Tiba-tiba saja massa pengunjung berlari dengan panik. Mereka berlari ke satu arah. Pintu evakuasi. Sedangkan kami yang sedang antri berbaris memiliki reaksi dan emosinya masing-masing. Saya dan kedua teman saya langsung berusaha mencari informasi terdekat dan tercepat yang bisa kami raih. Saya dan mereka segera mengedarkan pandangan. Saatnya kami memaksimalkan mata kami. Di saat bersamaan, kami juga mengaktifkan fungsi telinga kami dalam kondisi sebaik-baiknya. Awalnya, saya hanya mengira gerak massa ini seperti pada sebuah reality show. Serial vampire ternama di Fox tidak sedang ambil jatah syuting di kota dunia (katanya) ini bukan? Maklumlah, saya sungguh-sungguh seorang yang imajinatif. Bahkan dalam kondisi membingungkan seperti ini saya masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu. Tetapi mata dan telinga tetap saya fungsikan. Begitu pula dengan Nanik dan mbak Sari. Kami masih tetap tenang. Bukankah ketenanganlah yang dibutuhkan saat suasana sebingungkan begini. Saya memberanikan diri maju menuju kasir. Melihat sebanyak mungkin tanda. Mengumpulkan beberapa premis tentunya. Saya dan kedua teman saya masih belum beranjak. Meski beberapa orang dalam jumlah tidak sedikit sudah bubar dari antriannya. Beberapa lari. Ada yang bahkan tampak menangis. Panik.

Saat kondisi seperti ini tiba. Saya selalu ingat perkataan mama saya. Tenang dan lihat dulu sebelum bertindak. Tidak henti-hentinya saya bertanya ke orang-orang sekitar saya. Ada yang bilang kebakaran. Ada yang diam. Ada juga yang bilang bom. Informasinya simpang siur. Sekejab itu juga, saya merasa sangat butuh konfirmasi dari pihak pusat perbelanjaan ini. Tampaknya jawaban saya temukan dalam hitungan detik. Beberapa pria dengan baju safari hitam terlihat kompak mengangkattangannya. Mereka menunjukkan bahasa tubuh "evakuasi". Kedua tangan mereka naikkan ke atas lalu menggerakkannya menuju pintu keluar. Itulah saat saya dan kedua teman saya memutuskan untuk bergerak keluar meninggalkan bangunan itu. Persoalan penyebab sudah tidak menjadi prioritas utama kami. Bukankah pria berbaju safari hitam ini tidak akan mempermainkan kami? Mereka sudah tentu mendapat arahan sebelum mengajak kami meninggalkan mall ini bukan? Masalah sebab akan kami tuntaskan setelah kondisi tenang. Sayangnya, diburu rasa panik tanpa sebab. Kebanyakan orang-orang ini malah berdesak-desakan tanpa pikir apakah yang mereka jepit itu perempuan atau anak kecil. Saya dan teman-teman saya menemukan beberapa anak-anak yang menjerit dan menangis karena desakan itu. Kami marah, juga jengkel. Beberapa kali saya dan teman-teman saya meminta orang-orang ini agar tenang. Jangan panik. Panik membunuh rasionalitas kita bukan?

Nyatanya, dalam hitungan menit setelah keluar dari bangunan itu. Tidak ada hal yang terjadi. Tak ada asap atau dentuman. Syukurlah. Akhirnya saya, Nanik, dan mbak Sari memutuskan untuk kembali melanjutnya acara belanja kami yang belum tuntas. Juga untuk meminta klarifikasi dari pihak berwenang. Begitu kami memasuki pintu utama mall ini. Kami diberitahukan lewat pengeras suara bahwa kondisi pusat perbelanjaan ini dalam keadaan aman terkendali. Hanya itu. Tanpa ada embel-embel lain. Kami kesal. Bukankah mereka punya utang penjelasan tentang kejadian tadi? Harusnya tidak hanya mengabarkan suasana aman. Tetapi juga memberi penjelasan tentang penyebabnya. Jika perlu, mereka selayaknya meminta maaf untuk hadiah ketidaknyamanan itu.

Untuk menjawab rasa penasaran kami. Kami langsung menemui beberapa pria berseragam safari hitam. Bukankah beberapa dari orang ini tadi justru yang menggiring kami dengan arahan tangannya? Mereka sudah tentu satu koordinasi. Mereka memberi penjelasan bahwa tidak ada bom atau ledakan maupun kebakaran di mall itu. Yang terjadi adalah jatuhnya beberapa material dari gedung yang sedang mereka bangun. Material yang tidak mereka jelaskan dengan detail. Lokasi gedung itu bersambung dengan mall ini. Material ini jatuh hingga melahirkan getaran yang dapat dirasakan oleh tidak sedikit pengunjung pusat perbelanjaan ini. Selesai. Lagi-lagi hanya sampai disitu. Sungguh, sampai detik saya mengetik tulisan ini. Saya masih kesal. Mereka mestinya harus jelaskan lewat pengeras suara penyebabnya. Lalu meminta maaf. Titik. Namun, bukankah media akan mewartakannya besok? Penjelasan pasti akan saya peroleh. Apakah benar material atau ada penyebab lain. Mungkin juga ada kata maaf dalam berita itu. Mungkin. Meski jika benar besok akan demikian, tetap saja saya kesal.

Terlepas dari rasa kesal. Apa yang kami alami senja ini betul-betul pengalaman yang membuat saya kembali mempertanyakan mata atau telinga saya. Juga punya mereka. Mata atau telinga. Salah satu atau keduanya. Sungguh dapat membantu kita membuat konklusi. Juga setidaknya menjadi salah satu media penyedia informasi sebelum melahirkan aksi. Dimana mata atau telinga ini juga mesti sangat dimanfaatkan oleh pihak berwenang dari pusat perbelanjaan ini. Mereka mesti cekatan, informatif, terkoordinir, tenang, dan solutif. Jangan sungkan menyalakan alarm. Jangan malu untuk berteriak jika memang perlu. Berlari jika dibutuhkan. Terbuka jika ditanyakan pengunjung. Sedikit improvisasi untuk kondisi di luar dugaan. Saya dan teman-teman saya sempat membahas. Andai jika kami bersama keluarga kami. Andai jika kabar bom itu benar. Maka, mata atau telingakah yang pengunjung gunakan dalam proses tabayyun? Kita tidak bisa hanya langsung berlari. Sontak panik tanpa asbab. Membiarkan adrenalin melengking begitu saja. Itu konyol. Apalagi sampai berdesakan dengan mengindahkan para orang tua, penyandang disabilitas, perempuan, anak-anak, dan ibu hamil.

You Might Also Like

0 komentar