Dari Rumah Sakit ke Toilet

Senja, begitu saya mengenalnya. Dia adalah perempuan paruh baya dengan baterai semangat yang tak pernah kosong. Cerdas dan kritis, suka masak sekaligus penganut aliran pengobatan herbal tingkat lanjut. Senja memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan dengan salah satu wujud dari fasilitas kesehatan (faskes). Rumah sakit. Sebuah perangkat kesehatan yang beberapa di antaranya sampai saat ini masih belum betul-betul menyehatkan penghuninya. Sesuai susunan katanya, rumah sakit.

Senja pernah berkisah betapa tidak memuaskannya pelayanan sebuah rumah sakit di daerah kami. Padahal, ketika orang-orang memasuki bangunan rumah sakit ini. Baik pembesuk, calon pasien, pasien, dan eks pasien akan menemukan beberapa baliho yang menampilkan betapa berstandar internasional-nya tempat tersebut.

Senja memiliki seorang tante yang saat itu menderita diabetes dengan riwayat kesehatan terjadi sumbatan di otak. Tantenya yang dirawat itu selama proses perawatannya pernah terjatuh dari kursi roda, hal ini disebabkan kondisi kursi roda yang sudah tidak dalam keadaan prima. Suasana kamar pun terlihat tidak steril untuk ukuran sebuah faskes paparnya. Belum lagi, kemudian tantenya dipulangkan padahal kondisinya belum pulih benar. Tantenya ini berdomisili jauh dari ibu kota provinsi, dimana dari kabupaten asalnya dia dirujuk ke rumah sakit tersebut. Itu bukan asal rujukan, melainkan karena rumah sakit umum pemerintah tersebut diakui memiliki fasilitas yang cukup memadai dengan embel-embel taraf internasional.

Realitasnya, menyeimbangkan peringkat atau status standar pelayanan dengan pelayanan itu sendiri tidak mudah. Jangankan bertaraf internasional, implementasi beberapa pelayanan publik dengan merujuk pada standar pelayanan minimum saja masih tampak seperti anak belajar merangkak. Mungkin terdengar kasar. Tapi pil pahit ini wajib teguk bagi masyarakat dan juga pihak penyedia layanan.

Cerita yang lain saya temukan pada Indah. Istri dari salah seorang teman kerja saya di kantor. Suatu petang yang cerah, Indah dan suaminya terkasih itu menyempatkan diri meluangkan waktu bersama. Sepasang suami istri ini memutuskan untuk mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Namun, sore cerah itu tiba-tiba menjadi kecut. Hal ini disebabkan sebuah peristiwa yang kurang menyenangkan dialami Indah. Sewaktu memasuki salah satu toilet di mall itu, Indah menemukan kondisi kamar kecil cukup kotor. Maaf, toilet belum disiram sampai tuntas. Fatalnya lagi, gagang tempat air mengalir terdapat kotoran manusia yang masih menempel. Jengkel sekali Indah menemukan ini. Menurut Indah ini bukan kesalahan dari pihak mall. Ini karena pengunjung yang memang kurang perhatiannya terhadap kebersihan fasilitas publik.

Kisah Indah memang berbeda dengan Senja. Jika Indah secara empiris membuat konklusi bahwa pahaman beberapa oknum masyarakat tentang betapa krusialnya menjaga kebersihan perangkat publik masih sangat minim. Lain juga dengan Senja. Dia lebih fokus tentang oknum dari perangkat fasilitas kesehatan yang masih dinilai apatis dalam menangani pasiennya. Padahal baik faskes maupun toilet umum adalah sesuatu yang langsung beririsan dengan manusia. Kepentingan manusia. Lebih ekstrim lagi, nyawa manusia.

Baik Indah maupun Senja hanyalah bagian kecil dari masyarakat yang pernah meneguk jamu pekat. Selanjutnya yang tertinggal hanyalah kenangan buruk dan jangan heran jika kepercayaan terhadap perangkat kesehatan akan semakin dipertanyakan. Juga orang-orang kemudian akan lebih berhati-hati saat memasuki toilet umum. Tetapi, jauh sebelum Senja bertutur tentang tantenya. Sudah ada semacam dogma bagi beberapa orang bahwa fasilitas kesehatan yang ada di tanah merah putih ini memang masih memiliki standar di bawah rata-rata. Rendah. Maka selayaknyalah seluruh pihak. Entah masyarakatnya, pemberi layanan, pengambil kebijakan, apalagi kepala daerah agar tak bersikap apriori terhadap isu-isu ini. Masyarakat dinilai penting memiliki paradigma yang baik dan kuat guna melahirkan individu dengan kadar kebersihan sosial yang tinggi. Jika tidak bisa maksimal, yah cukuplah sampai fase paham dan mau menjaga kebersihan diri sendiri.

Jika diperhatikan, beberapa tahun ini timbul tren di ranah jaga-menjaga kebersihan fasilitas publik dan peningkatan pelayanan masyarakat. Coba lihat, beberapa kepala atau pimpinan daerah tampak mencoba concern dan marak menyuarakannya. Sudah seharusnya malah. Mereka selayaknya sadar betapa jauh dari standar 'best service' masyarakat diperlakukan. Dimana perubahan-perubahan seperti ini mesti dilakukan dari dua arah. Lapisan atas dan bawah mesti bekerja sama. Penyedia layanan konsisten dengan komitmen peningkatan pelayanannya. Masyarakat juga konsisten menjaga fasilitas umum yang digunakannya. Mutlak.

Sebuah harapan yang masih dalam perjalanan panjangnya. Saya berharap kelak, ketika seseorang mendengar kalimat rumah sakit dan toilet umum. Maka sudah tak ada lagi Indah dan Senja dalam wujud yang lain. Dimana untuk mewujudkan itu, kita semua mesti terlibat. Wajib. Saya, anda, kita, dan mereka.

You Might Also Like

0 komentar