Menuju 65

Pagi masih malu-malu. Padahal mentari sudah tampak tak sabar. Ingin bersinar, lebih dari sekedar berpijar. Pagi pertama pada halaman bulan Yanus, ini adalah baris pagi yang pesimis. Padahal seharusnya manis. Tak suram seperti lorong jalan tanpa lampu. Tak masam bak bulir jeruk nipis. Tapi apa mau dikata. Pagiku tetap saja pesimis dengan beberapa tetes sikap sinis. Garnishnya adalah secangkir kopi tak manis. Pedis sangat bukan.

Masih di pagi yang tak merah. Bukan pula hitam ini. Abu-abu menyeruak. Membaur pada setiap oksigen yang aku hirup. Meng-abu-kan udaraku. Pagiku. Diriku. Mungkin juga senjaku kelak. Padahal aku ingin pagi yang cerah dalam merah yang merekah.

Sudahlah, tak ada pagi yang ku rindu. Cuma ada pilu. Aku sendu. Kenapa dimana-mana banyak debu?

Ritual Agung Malam Hari
Meski tak ku temui pagi yang ku ingini. Tapi setidaknya malam selalu memelukku erat. Tidak ketat. Itu menganggu pernapasanku. Kamu juga begitu bukan?

Dan malam adalah saat yang paling mengerti diriku. Memahami setiap sel-sel tubuhku. Memaklumi setiap gerak-gerikku. Memaafkanku. Menggendongku. Me-nina bobo-kanku. Tak sering mengenyangkanku. Dan fungsi mengeyangkan ini semakin hari kian menjadi. Ritual agung malam hari aku menyebutnya. Sebuah kegiatan yang dilakukan malam hari. Dilakukan di waktu dini hari. Aku bisa tak tidur, jika tak melakukannya. Saking patuhnya aku. Atau mungkin ini jenis penyakit akut yang menggerogoti malam-malamku dalam hasutan lapar yang maha dashyat.

Ritual agung malam hari hanya mefatwakan sebuah hal. Makan. Dalam hukum kausalitas, aku hanya menemukan sebab lapar. Padahal, bagaimana bisa aku lapar sejadi-jadinya di pukul dua belas malam. Aku sudah sangat kenyang di angka delapan malam. Mama sudah berapa kali menegur kegiatan di luar kewajaranku yang satu ini.

"Mbok ya anak gadis jangan suka makan larut malam gitu ahhh. Ntar melar lho," celoteh mama acapkali menemukanmu sedang mengubek-ngubek kulkas. Atau paling parah karena dirinya terbangun akibat suara pertarungan wajan dan spatula kayu-ku. Tetapi, pernah juga mama request dibuatkan makanan. Tapi itu jarang.

"Neng, buatin mama nasi goreng dong. Nasi goreng buatan neng, enak juga tuh," bujuknya. Aku sih nurut saja.

Kembali pada ritual agung malam hariku. Resah aku dibuatnya. Bukan karena isi kulkas yang menipis. Tak pula karena energi untuk memasak yang mulai terkikis. Resahku adalah gundah perempuan biasa. Resahku mengandung dilema. Meneruskan hubunganku dengan malam yang doyan melaparkanku di jam-jam tertentu. Memutuskan mengakhiri perjalanan kami dengan melalui malam-malam panjang dalam menahan rasa lapar. Tragis manis namanya kalau begini.


Gundah keperempuananku hanya sebatas jarum. Jarum yang menunjukkan berat massa diriku. Yang kian hari semakin melengking. Memasuki nada-nada tingginya, tanpa setitik kemerduan. Selebihnya hanya koor pihak asing yang menyudutkanku. Padahal gendut bukan dosa pada ideologi tertentu. Juga tak melanggar norma sosial. Kenapa gendut dimarginalkan, dipandang sebelah mata? Mana ada gendut yang menawan. Yang menarik hanya rekening yang gendut.

Kalau begini jadinya. Aku terpaksa memilih mengkhianatimu malam. Mengakhiri kisah romantis kita. Bukan karena suara-suara mereka yang menekanku dari sudut pandang berat badan. Aku hanya tak sanggup melihat jejeran pakaianku di lemari menangis. Mereka sesenja tadi tersedu-sedu. Konon terdengar kabar bahwa diriku akan memindahkan mereka ke rumah baru. Memberikan mereka pada perempuan lain. Itu semua karena sebuah alasan. Aku menuju 65 kilogram.

You Might Also Like

0 komentar