Maaf, Saya Tidak Tahu Bu

Ujian, ulangan, tes, atau apapun merek yang dilekatkan padanya. Ujian selalu saja dijadikan tolak ukur untuk menentukan standar dari 'sesuatu'. Standar dengan berbagai parameter. Tergantung asas dan fungsi diadakan ujian. Juga bergantung pada siapa pelaksananya. Sampai di sini ujian sudah terdengar menyeramkan. Bagaimana tidak, hanya dengan sebuah ujian saja. Kemampuan seseorang diukur. Diubek-ubek kadar ke-profesional-annya. Dipertimbangkan kompetensinya. Diragukan potensinya. Dikupas per kulit kediriannya. Dicibir kekurangannya. Didepak jika perlu. Tamat.

Dalam banyak kasus, 'ujian' bisa berbuah simalakama. Tak jarang jadi polemik. Meski tidak sedikit pihak juga menganggapnya penting atau mulia. Semisal dengan adanya pelaksanaan ujian nasional. Tipe ujian ini selalu saja mengukir kisahnya setiap tahun. Ada-ada saja wacana yang bisa diberitakan. Pada jenis ujian ini, pelaksanaannya dapat dikategorikan kegiatan 'memakan buah simalakama' untuk beberapa tahun belakangan. Tidak dilaksanakannnya ujian nasional, maka ada beberapa peraturan yang dilanggar. Belum lagi dengan tujuan untuk meningkatkan standar pendidikan yang digembar-gemborkan itu. Jika dilaksanakan, maka ujian nasional tidak sedikit  menuai protes dari peserta dan keluarga peserta ujian. Standar yang terus-menerus naik itu membuat peserta didik beserta orang-orang yang memiliki jejak asam deoksiribonukleat dengan mereka didera stres. Ada ancaman ketidaklulusan di dalamnya. Bagi mereka, bagaimana bisa ujian yang hanya berlangsung 3 hari itu menentukan masa sekolah mereka yang 3 tahun?

Berbeda halnya dengan orang-orang yang berideologi "ujian-isme". Ujian dalam pahaman mereka menempati posisi yang maha penting dan super mulia. Ini tidak bisa disalahkan. Memang pada kenyataannya ujian selalu saja digunakan sebagai "saringan" untuk memilih dan memilah mana bibit berkualitas, mana yang tidak berorientasi masa depan dan menguntungkan kemajuan pihak tertentu. Tak salah. Justru ujian memang dianggap perlu untuk mengelompokkan spesies manusia sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pihak tertentu. Pihak-pihak dengan standar tertentu, misi tertentu, dan jenisnya sendiri. Hanya saja sebaiknya jangan terlalu me-maha-mulia-kan ujian. Bersikap biasa-biasa sajalah terhadapnya.

Wujud nyata dari dianggap perlunya ujian, salah satunya yakni dengan dilaksanakannya ujian penerimaan pada instansi-intansi pemerintah maupun swasta. Ini perlu karena setiap instansi punya alurnya masing-masing. Mereka butuh orang-orang dengan kualifikasi tertentu untuk menempati posisi yang disediakan. Andai tidak ada proses pilah-pilih pada saat ujian berlangsung. Ada kemungkinan seorang dengan latar belakang pendidikan tertentu akan menempati jabatan yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Tapi, ups, di Indonesia masih banyak yang terjadi seperti ini. Untuk varian ujian penerimaan ini sensasinya luar biasa, sungguh berwarna, dan emosional. Tidak lupa juga banyak drama joki dan penipuan yang muncul di beberapa scene. Serta lembaran-lembaran duit yang siap dipindahtangankan demi sesuatu yang dikenal dengan "nomor induk pegawai".

Dampak-dampak yang terjadi tentulah bukan salah 'ujian'. Kita bisa saja menitikberatkan pada pelaksa ujian atau pengambil kebijakan dan seterusnya. Ujian hanyalah benda mati yang dapat dengan mudah dipermainkan oleh siapa saja yang memegangnya. Ujian selayaknya hanya berdiri pada batas menakar jenis-jenis potensi yang dimiliki seseorang. Bukan untuk menghakimi, apalagi me-mati-kan girah hidup, kompetensi, dan peluang orang lain.

Ujian Kecil
Berbeda dengan bentuk-bentuk ujian dalam skala besar. Sungguh menarik melihat ujian kecil yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Bukan ujian hidup tentunya. Itu masuk dalam skala maha besar. Ujian kecil yang dimaksudkan adalah ujian atau ulangan semester. Mengapa mesti jenis ujian ini? Karena ini adalah ujian maha kecil dengan tingkat emosional di atas rata-rata.

Pernahkah kita mencoba menemani seseorang adik atau kakak atau siapa saja yang akan melaksanakan ujian kecil ini? Jika pernah, coba cermati kondisi psikologis sang peserta ujian sebelum dilaksanakannya ujian. Perhatikan pula reaksi orang tuanya. Dalam beberapa kasus, meski tidak semua mengalaminya. Ujian kecil ini mampu meningkatkan denyut jantung dan adrenalin seseorang. Jelaslah seperti itu, ini berkaitan dengan nilai rapor mereka. Dimana kebanyakan orang tua, peserta didik, tenaga pengajar, dan pihak sekolah masih saja mengkultuskan rapor. Menjadikannya satu-satu kandidat untuk men-judge peserta didik. Kasihan betul anak-anak ini. Padahal ada beberapa sekolah di Bandung dan Jakarta yang tidak se-mainstream itu. Bagi mereka, rapor hanya sebuah kertas yang berisi tentang hasil kerja anak mereka. Hanya formalitas saja. Mereka lebih fokus pada "proses" anak-anak mereka dalam memperoleh hasil itu. Tak mengapa nilai anak mereka rendah. Tapi mereka begitu peduli tentang karakter dan tahapan yang anak mereka lalui dalam mencapai hasil seperti itu. Sungguh tepat dan menyenangkan memiliki sistem bijak seperti ini. Saya sepakat dengan hal ini. Sangat.

Untuk jenis orang tua yang berideologi "hasil". Jangan salahkan betapa berkecamuknya emosi mereka dengan nilai anak-anak mereka. Masa penerimaan rapor tentu menjadi momentum menyeramkan sekaligus mendebarkan. Penuh amarah dan linangan air mata. Nilai naik atau turun satu oktaf saja, anak-anak mesti siap menerima konsekuensi tertentu. Hukuman fisik kadang menjadi opsi utama. Tetapi sayangnya, hanya sedikit dari orang tua ini yang memberikan apresiasi jika sang anak berhasil memekikkan nilainya. Sayang sekali.

Maaf, saya tidak tahu Bu!
Masih tentang ujian kecil dan rapor. Berangkat dari beberapa kisah nyata yang saya lalui. Para peserta didik selalu saja meninggi tingkat stresnya saat memasuki era "ujian". Ujian sepekan serasa seperti sebuah era yang berliku, berlangsung lama, sukar, dan suram. Mestinya mereka bisa menyambut era itu dengan suka cita. Berkumpul, bernyanyi, dan bergembira. Lalu mengikutinya dan keluar dengan tersenyum. Tetapi realitasnya, tidak seperti itu.

Beberapa kali, saya menemukan perilaku menjengkelkan dari mereka saat ujian berlangsung. Menyontek. Mereka menyontek, yang dalam pandangan saya adalah sebuah tindakankurang menyenangkan, mematikan kreatifitas, menurunkan kadar potensi diri, dan menunjukkan sikap "mau terlihat". Lagi-lagi berideologi hasil. Ingin nilai tinggi, tanpa mau peduli tentang bagaimana cara memperolehnya. Kasihan mereka. Sebegitu mengerikankah ancaman jika memperoleh nilai rendah? Atau sebegitu di-nina bobo-kankah mereka dengan pujian nilai tinggi?

Dalam kasus lain, saya juga menemukan jawaban yang mencerminkan tentang masa uniknya ujian. Mulai dari menulis ulang pertanyaan. Tentu saja soal essai memiliki kebijakannya tersendiri. Jika salah, minimal ada nilai 1 untuk menghargai kehadiran dan tulisan peserta. Ada juga yang menuliskan beberapa baris lirik lagu atau puisi. Ini juga masih dengan harapan memperoleh nilai minimum. Saya maklum. Ada yang curhat colongan. Ini kasus yang lucu saya fikir. Sampai pada saat saya menemukan beberapa anak-anak yang bahagia saya dengan jawaban mereka. Bukan karena jawaban mereka benar dan tepat. Tetapi anak-anak jenis langka ini dengan berani menuliskan kalimat, "Maaf, saya tidak tahu Bu". Saya sungguh senang menemukan jawaban ini. Saya fikir anak-anak sudah mulai meninggalkan zamannya. Mereka sudah mulai mementingkan proses.

Maaf, saya tidak tahu Bu. Saya pandang bukan sebagai sebuah penghinaan. Mereka tidak menghina saya. Mereka juga tidak sedang bermain-main dengan saya. Mereka dengan jujur sudi menyampaikan kemampuan mereka. Menyampaikan bahwa ada hal yang mereka tidak ketahui. Yang mungkin saja ketidaktahuan mereka ada andil dari metode saya yang kurang tepat saat mengajar. Mereka dengan caranya sendiri, dengan idealismenya berani menuliskan kalimat sederhana yang syarat makna itu.

Maaf, saya tidak tahu bu
Iya, saya tahu
Terima kasih sudah memberitahu
Mari saling bahu-membahu
Supaya kalian banyak tahu
Dan saya mengetahui bagian mana yang kalian tak tahu

You Might Also Like

0 komentar