Cukup Merah, Jangan Marah

Cukup merah, jangan marah. Karena aku benci merah, juga tak suka engkau marah. Dan, hei sudah berapa puluh jam terlalui. Aku serasa di dalam bui. Kau begitu rapat. Aku menyentuhmu. Atau engkau yang menyentuhku. Tak ada bedanya. Kita tak peduli. Kita hanya begitu menyatu. Begitu dekat. Meski tak saling mendekap. Detak dalam detik. Jantung siapa yang berpacu sekencang ini. Aku? Ataukah engkau? Aku sudah mulai merah.

Cukup merah, jangan marah. Aku tidak ingin merah. Jika tidak, aku bisa marah. Sungguh, apakah inginmu satu-satunya hanya seputar sentuh sana-sini? Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain di tubuhku. Engkau begitu menikmatinya bukan? Namun, mengapa selalu tak puas. Engkau selalu bergegas. Bisanya hanya meninggalkan bekas. Padahal aku ingin sepucuk kertas. Aku sudah mulai merah.


Ilustrasi
Sumber Gambar: brickartis.com
Cukup merah, jangan marah. Kenapa mesti merah? Kini aku marah. Aku marah sebab membenci merah dan engkau tahu itu. Aku merugi. Kau tak tahu balas budi. Masalah remeh-temeh, tapi engkau kehilangan ramah-tamah. Ceraikan saja aku dari kisahmu. Tapi mengapa aku selalu tergelincir pada merah dan marahmu? Aku semakin memerah.

Cukup merah, jangan marah. Kamu merah. Tapi tolong jangan marah. Kamu sudah dititik batas. Merampas semua batas. Tanpa batas. Bebas. Lepas. Aku pun terhempas. Aku semakin memerah.

Cukup merah, jangan marah. Aku merah. Engkau pun kini menuju marah. Marah yang merah. Engkau marah. Aku merah.

Cukup merah. Tidak polka dot. Murka aku dengan motif itu. Jangan marah. Apalagi meradang, menjilati setiap inchi lekukanku. Arrgghhhhhh. Usailah lekas. Tanpa bekas. Kalau tidak, aku mampus. Dewa ChlorTriMeton juga tak mampu menolongku. Malaikat Chlorpheniramin Maleat kalah olehmu. Kini, aku sangat merah. Saatnya bertobat. Menjauhi lautan, sumber merahku. Sebab marahmu dari lautan.

"Ampun. Alergi ini menyiksaku," ujarku dalam kondisi merah dan meredam marah.



*Tulisan ini juga dimuat di sini

You Might Also Like

0 komentar