Belajar dari Si Kaya dan Miskin

Sewaktu saya masih kecil. Ada sebuah permainan yang sering saya dan teman-teman sebaya mainkan. Saya tidak ingat betul apa nama permainannya. Tetapi bagian yang paling saya sukai dari permainan ini adalah saya bisa menyanyi sembari berteriak sesuka hati saya. Meski berteriak dan bernyanyi adalah dua hal yang berbeda. Tetapi bagi saya, melakukan kedua hal itu sekaligus ada pengalaman yang paling menyenangkan.

Permainan itu dimainkan secara berkelompok. Hanya ada 2 kelompok. Kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok dengan anggotanya yang paling banyak adalah kaum mayoritas. Kelompok ini biasanya berisi anak-anak yang memiliki rasa kesukaan antar anggota yang cukup tinggi. Entah didasari oleh kesukaan terhadap sesuatu atau pada siapa misalnya. Tetapi tentu saja, mereka memiliki sebuah kesamaan setidaknya. Lantas, kelompok mayoritas ini akan dijuluki si kaya. Sedangkan golongan minoritas disebut si miskin. Pemberian panggilan 'si kaya' dan 'si miskin' parameternya berdasarkan kuantitas personil kelompok tersebut. Penyematan si kaya dan miskin didasari pada lagu dari permainan ini.

Saya dan teman-teman tak pernah memandang permainan ini lebih dari sebuah permainan. Kami meminimalisir mempermasalahkan status kaya-miskin, mayor-minor. Sebelum, selama, bahkan setelah permainan usai diselenggarakan. Kami semua mencoba untuk belajar memahami. Bahwa predikat yang dilekatkan pada kelompok mayoritas, bisa dengan mudah dipasang-cabutkan. Begitu pula dengan individu-individu yang menyandang status miskin. Betapa tidak, dalam dunia anak-anak dengan emosi yang cukup labil itu. Kami dapat dengan mudah berseteru dengan teman kami yang lain. Untuk perihal remeh-temeh misalnya. Perubahan emosional cukup fluktuatif ini memberi efek signifikan pada pembagian kelompok. Kami selalu memiliki potensi untuk berpindah status sewaktu-waktu. Si miskin mendadak kaya. Atau konglongmerat jatuh miskin.

Dalam pelaksanaannya, permainan ini terbilang sangat mudah. Kedua kelompok berdiri dalam posisi saling berhadapan. Dimana setiap personil grup akan saling berpegangan tangan dan bernyanyi. Pada kami, anak-anak kecil ini. Kami cukup plural menerima perbedaan. Permainan ini tak mengenal apa jenis kelamin dari masing-masing anak. Ini permainan yang bisa dimainkan baik lelaki maupun perempuan. Bukan sebuah kemutlakan sebagai imbas karena memiliki jenis kelamin tertentu. Hal ini membuat kami jadi mengenal jenis kami masing-masing. Kami menjadi cukup adaptif. Belum lagi dengan isu perbedaan keyakinan. Di otak kami yang tahunya bermain ini. Keyakinan itu adalah urusan yang tak perlu dibawa-bawa dalam ranah permainan. Kami, si anak-anak ini berkomitmen untuk tidak saling membatasi satu dengan lainnya hanya karena persoalan kitab suci kita yang tak sama. Atau nabi yang berbeda. Ideologi kami adalah kebahagiaan. Tak percaya? Coba saja perhatikan bagaimana perilaku sosial anak-anak. Cukup dengan bermodal jenis game yang sama. Mereka lantas hanyut dalam permainan itu. Mungkin sesekali mereka akan berdiskusi. Tetapi percayalah, isu yang menjadi concern mereka hanyalah seputar game tersebut.

Lantas bagaimana permaian sangat mudah ini dilakukan. Langkah kedua, setelah berdiri saling berhadapan. Setiap dari kami akan memegang tangan teman kelompok kami. Untuk adegan berpegangan tangannya, kami yang masih di bawah usia akil balig ini. Tidak mempersoalkan dan dipersoalkan untuk melakukan adegan itu. Karena kami, si anak-anak ini tak memiliki niat lain. Hanya ingin memainkan permainan ini. Perkara jabat-menjabat atau gandeng-mengandeng hanyalah bagian dari "how to play" tanpa sensasi asmara. Yang ada, pernah suatu ketika. Tangan saya digenggam erat, atau mungkin lebih tepat dengan cara yang cukup kasar. Genggaman erat yang jauh lebih terasa menyakitkan, ketimbang hangat itu saya peroleh dari anak yang sehari sebelumnya sudah saya ajak berantem. Jelaslah masih ada nanar di matanya, masih panas hatinya. Sedangkan saya dengan senyum sumringah tanpa ingatan tentang perkelahian kemarin, langsung main raih tangan saja saking bersemangatnya ingin segera berdendang dan tak lupa berteriak.

Selanjutnya, kedua kelompok yang telah bersiap sedia itu. Akan menyanyikan bait demi bait sebuah lagu. Kelompok minoritas akan mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk mulai bernyanyi, 'Beta miskin, miskin, miskin. Mari ye te mari ya'. Yang kemudian akan dibalas oleh kelompok yang satunya, 'Beta kaya, kaya, kaya. Mari ye te mari ye'. Si miskin pun akan bertanya, masih sambi bernyanyi, 'Kau mau ambil siapa?'. 'Saya mau ambil si fulan,' balas kelompok mayoritas. Pada adegan ini, kelompok si kaya sebelumnya telah bermusyawarah antar anggotanya, hingga mencapai mufakat siapa saja anak yang akan mereka ambil. Beserta dengan urutannya dan tujuan meminta sang anak. Kelompok minoritas, kemudian akan mempertanyakan urgensi dari mutasi anggota mereka dengan bait, 'Kau mau kasih apa?'. Selanjutnya, kelompok yang satunya akan menjawab tujuan permintaan mereka. Permainan akan berlangsung sampai kelompok minoritas hanya bersisa 1 orang saja. Scene berikutnya, permainan dilanjutkan dengan acara uber-uberan. Kelompok kaya dengan seluruh anggotanya akan berupaya menghindari serangan seorang miskin. Sementara si miskin akan berupaya mengambil orang-orang dari kelompok mayoritas itu satu per satu. Kelompok mayoritas akan dipimpin oleh seorang ketua yang lagi-lagi telah didiskusikan siapa orangnya. Orang tersebut adalah orang yang suka mengayomi anggotanya. Senang memperjuangkan kaumnya. Melindungi rakyatnya. Dan yang terakhir, memiliki strategi jitu untuk menghadapi lawannya apapun situasi dan kondisinya.

Begitulah bagaimana permainan ini terjadi. Dimana yang tersisa dari permainan ini adalah tawa gembira, rasa bersama, sedikit lecet ketika terjatuh di saat berlari, baju beserta badan penuh keringat dan lumayan berdebu, juga teriakan orang tua kami yang memanggil anak-anaknya. Karena sepotong senja sudah merah merona, pertanda kami wajib membersihkan diri. Mandi. 

You Might Also Like

0 komentar