Selamat Tinggal Lelaki Gondrongku

Lelakiku. Apa kabarmu? Sudahkah kau menghabisakan batang tembakau yang menumpuk di balik saku celanamu? Atau, apa hari ini sudahkah engkau mengerlingkan matamu untuk perempuan lain? Perempuan yang katamu. Rambutnya mesti hitam legam, panjang, dan terurai. Atau, oh iya. Perempuan baik versimu. Si tipikal penurut dengan senyum manis di bibirnya. Sudahkah engkau menemukannya?

Lelakiku. Bukan lelaki yang sebelumnya ku bahasa. Bagaimana keadaanmu? Apa kabar Selatan di sana? Masihkah polusi menjadi topik pembicaraanmu? Atau, masihkah engkau mengeluh karena beberapa penduduk negri Merah Putih ini belum mengerti definisi antri? Dan, seberapa sering engkau melupakan santapan makan malammu tanpaku? 

Lelakiku. Ini lelaki ketigaku. Bagaimana tidurmu semalam? Pun, bagaimana dengan sarapan buatan ibumu? Telur ceplok buatannya enak. Sayangnya itu masih sebatas cerita saja. Engkau tak pernah betul-betul mengizinkanku menyantapnya. Atau membiarkanku semeja menikmati sarapan kami masing-masing. Entah, apakah kami menyantapnya dalam kesendirian kami. Ataukah bertukar sapa, mungkin seutas gosip. Mungkin.

Lelakiku. Yah, ini tentang pribadi yang berbeda lagi. Hai. Tampaknya semalam, saat engkau berjalan. Engkau tersandung. Lantas sebongkah batu menghantam kepalamu. Tapi syukurlah, amnesia itu memudar. Akhirnya, engkau mengingatku. Tapi kali ini, jangan coba-coba mempermainkanku. LAGI. Kita mesti membahas hal ini sebelum banyak adegan kita lalui. Bahkan sebelum tanganmu menyentuh tanganku. Camkan itu. 

Lelakiku. Yang ini sosoknya langka. Sampai terkadang aku ingin menyuntik formalin pada "ciri khas"mu. Mengawetkannya. Memasukkanmu ke museum. Biar keunikanmu bisa dirasakan orang banyak. Sungguh, aku bukan orang yang suka menikmatimu seorang diri.

Hmmm. Lelakiku. Bagaimana keadaan jiwa-jiwa kalian kini? Kadang aku menantimu di alam roh. Menunggumu berbagi kisah kehidupanmu. Karena handphoneku sunyi dari panggilanmu. Bahkan pesan singkat pun terasa kering. Ku cek di jejaring sosial pun tak ada. 

Hei, lelakiku. Bukankah sudah 160 hari engkau tanpaku? Bukankah ada banyak kisah yang aku lewatkan darimu? Tidakkah engkau merindukanku, meski hanya setetes embun?

Tapi kabar yang ku dengar dari angin yang berhembus di terasku senja tadi. Kalian, para lelakiku itu semua kompak dengan rambutnya yang panjang. Lelakiku gondrong? Tanyaku pada daun-daun di pelataran kantorku.

Ahhh. Kalian pasti akan bertambah cakep kalau begitu. Tapi, aduh. Bukankah sebentar lagi kita akan bersua di tempat mengeyam ilmu? Di sana, tak seorang pun yang berlevel "menerima/mencari ilmu" diperkenankan gondrong. Lewat dari 30mm saja. Maka engkau terancam memiliki potongan rambut sangat cepak. Bahkan terkadang plontos.

Lelaki gondrongku. Arrrggghhhhh. Andai aku bisa meminta. Tetap saja pelihara rambut gondrong itu. Tolong. Toh, isi kepalamu tidak ditentukan dari seberapa pendek rambutmu. Toh, kreativitasmu tidak dapat dinilai dari seberapa plontos kepalamu. Toh, perilakumu tidak dapat diukur dari belahan rambutmu.

Arghhh. Saat seperti ini yang aku benci. Padahal, kalian sudah bersusah payah meluangkan 4 bulan untuk membiarkan rambut itu terus tumbuh. Kalian membelainya siang dan malam. Merawatnya dengan berbagai macam minyak dan pencuci rambut.

Tapi.... Sudahlah. Kita hanya bagian dari kehendak-kehendak itu. Dengan begitu. Sampaikan saja salamku pada dirimu yang dulu lelakiku. Selamat tinggal lelaki gondrongku. Akan ku temui engkau di ruang kelas.

You Might Also Like

1 komentar