Berlagak Berdasi

Semua berubah. Aku tak heran. Berubah itu keniscayaan. Malam menjadi siang. Beriak kemudian tenang. Sedih lantas tertawa. Bayi lalu remaja. Apa saja bisa berubah. Bahkan botol plastik yang benda mati itu juga dapat berubah. Disulap menjadi aneka kerajinan. Namun, perubahan yang terjadi pada tikus di rumahku sungguh keterlaluan. Geleng-geleng aku dibuatnya.

Jika dulu, para tikus itu sering mencuri makanan ringanku. Aku maklum. Toh mereka tak tahu cara meminta. Lalu mereka mulai memasuki lemari pakaianku. Aku masih memaafkannya. Bahkan, terkadang tak hanya numpang buang air, baik kecil maupun besar. Tak sedikit pakaianku mendapat tanda berkunjungnya. Beberapa bekas gigitan. Luas sobekan beragam. Letaknya acak. Tapi perihnya sama. Apalagi, jika pakaian itu hadiah dari ayah atau ibu.


Kini tikus-tikus itu berubah sejadi-jadinya. Mereka bahkan semakin cuek. Lewat seenaknya saja. Kadang menganggap diri sebagai pemilik rumah. Kurang surat tanah saja. Jika tidak, aku mungkin sudah lama didepak mereka. Para tikus itu juga semakin memperluas daerah kekuasaannya. Dahulu hanya pekarangan. Lalu lemari pakaian. Dapur. Lantas atap.

Ilustrasi
Sumber : blogspot.com
Namun, perubahan yang terakhir adalah yang paling sulit aku terima. Bagaimana bisa tikus-tikus di rumahku mulai mengadopsi perilaku para “tikus berdasi” itu. Mereka menjadi tamak. Memanfaatkan semua kondisi tanpa ampun. Menyikat semua yang ditemuinya. Bahagia di atas penderitaan mangsanya. Menumpuk kekayaan segunung. Membiarkan yang punya justru meringis. Sesekali, si pemilik bersumpah serapah atas hak yang terenggut.

Para tikus itu kini doyan melahap sayuran yang ku tanam. Entah kangkung atau sawi. Selada pun dilahapnya. Terakhir, daun mint yang sudah sebulan tumbuh kembang. Sekarang tinggal nama saja. Pupus sudah harapanku menyajikan teh mint untuk teman serumahku. Padahal, kami sepakat akan melakukannya 2 bulan ke depan. Tikus ini membuatku ingkar janji. Melahirkan rasa kecewa bagi temanku.

Tikus-tikusku sudah hilang toleransinya. Berkurang pemaklumannya. Menipis rasa tahu dirinya. Yang ada, beberapa potong besar ketamakan. Egoistis. Sukanya main serobot.

Para tikusku itu. Mereka kini sudah terlalu jauh melangkah. Melanggar batasan antara hewan pengerat dan tuan rumah. Sudah lupa daratan. Mereka selayaknya tahu. Mereka adalah penghuni got yang kini berlagak berdasi.

You Might Also Like

0 komentar