Telanjang Rame-Rame

Ilustrasi dari kompasiana.com


Pilpers dan telanjang. Adakah kaitannya? Jika jawabannya tentang beberapa nazar para pendukung salah satu kandidat. Tentu bukan. Ini "telanjang" bukan tentang nazar akan telanjang, jika salah satu kandidat terpilih.

Ini bukan sembarang telanjang. Tapi kalau mau telanjang sembarangan, yah silahkan. Asal siap dicap tidak waras saja. Tetapi, jika butuh telanjang tanpa teguran. Silahkan ke nude beach. Di sana zona "take everything off". Bebas lepas pokoknya. Bebas lari-lari sambil lepas-lepas pakaian.

Yang dalam sebuah pencarian pada salah satu search engine. Dalam situs Thrillist.com, merekomendasikan beberapa tempat nude beach di seantero dunia. Top 10 malah. Sudah seperti tangga lagu saja. Diantaranya adalah;  Spiaggia di Guvano - Corniglia, Italia dan Red Beach - Crete, Yunani. Atau mungkin Valalta - Rovinj, Kroasia serta Bellevue Beach - Klampenborg, Denmark.

Pilihan lain, ada Samurai Beach - Port Stepherns, Australia dan Wreck Beach - Vancouver, Kanada. Bisa juga ke Es Trenc - Majorca, Spanyol atau Grance Saline - St. Bart's. Alternatif terakhir, yaitu Plage de Tahiti - St. Tropez, Prancis atau Praia do Pinho - Balneario Camboriu, Brazil. Datangi dan rasakan sendiri bagaimana telanjang di sana.

Telanjang kali ini tentu saja tak melulu tentang tak berpakaian. Yang sesuai defenisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ialah tidak tertutup (berselubung, berpakaian, dan sebagainya). Namun, maknanya bisa berubah.

Bisa saja menjadi tidak mempunyai pakaian sama sekali, seperti "telanjang bulat". Lain waktu, dapat pula diartikan dengan terhunus atau tidak bersarung. Ini erat kaitannya dengan keris atau pedang. Seperti pada kalimat, "Ia memakai pedang telanjang".

Edisi telanjang kali ini juga bukan tentang mereview sebuah film dokumenter yang disutradarai dan ditulis oleh Sekar Ayu Asmara. Perempuan yang satu ini adalah produser musik dari Ca-Bau-Kan dan penulis, produser, dan sutradara Biola Tak Berdawai. Sekar adalah pekerja seni yang memepelajari bidang seni secara otodidak. Dirinya cukup dikenal sebagai komponis, produser, pelukis, sutradara, dan penulis. Hampir semua album penyanyi Rita effendy, lagunya diciptakan dan diproduseri oleh Sekar.

Balik ke "Telanjang?". Film dokumenter berdurasi 40 menit ini dibuat Sekar untuk menentang disahkannya UU Pornografi. Yang dalam film ini, penontonnya dapat mengetahui secara jelas pendapat dari beberapa pekerja seni tentang UU pornografi. Mereka yang dapat ditemui pada film ini, antara lain; Sujiwo Tejo, Jajang C. Noer, Ari Lasso, Ratna Sarumpaet, Garin Nugroho, Ayu Utami, Olga Lydia, Nia Dinata, Dian Sastrowardoyo, Frans Magnis-Suseno, Isabella Yahya, dan Eko Supriyanto.

Kembali pada telanjang versi ini. Ini lekat dengan pemilihan umum (pemilu) yang baru-baru diselenggarakan. Mari melihat lagi tentang proses pemilu yang tak biasa ini. Setelah tahun 2004 untuk kali perdana dapat terlaksana pemilu secara bebas. Pemilu di tahun 2014 yang diselenggarakan Indonesia cukup menarik bukan? Secara nyata jumlah pemilih meningkat.

Dari situs resmi KPU.go.id. Untuk Pilpres tahun 2014 sendiri, jumlah pemilih 186.772.030 orang. Sedangkan pada tahun 2009, mencapai jumlah 171.068.667 pemilih. Belum lagi banyaknya masyarakat yang tanpa memiliki undangan memilih. Justru dengan bermodal KTP dan KK mengunjungi TPS.

Ini bisa dijadikan parameter, bahwa kesadaran politik masyarakat sudah mulai meningkat. Di sisi lain, berkaitan dengan para relawan dan pendukung. Mereka bahkan secara terang-terangan menunjukkan kecintaan mereka terhadap salah satu calon. Mulai dari adegan puja-puji. Akhirnya, tak sedikit yang jadi pemuja. Sampai pada tindakan negative/black campaign. Fitnah sana, fitnah sini. Tuduh sana sini, giliran dituduh balik malah marah.

Sampai pada sesi ini, tetiba media sosial lebih kejam dari ibu tiri. Betapa tidak, adegan puja-puji dan perang kampanye hitam dilakukan di medan jejaring sosial. Teman sesaat berubah jadi lawan, hanya perkara beda calon pujaan.

Dalam pertarungan kedua calon ini. Yang masing-masing slogannya ada kata "salam" dan "jari"-nya. Para pendukung ini, tidak sedikit yang hanya bertaklid buta pada orang-orang "di atasnya" atau "partainya". Ada juga yang dengan keteguhan hati yang luar biasa, justru memandang pilihannya sebagai manusia tanpa dosa. Pokoknya doi segala-galanya. Ciri-ciri pendukung baru kali pertama jatuh cinta.

Ada juga yang mendadak kritis. sibuk sendiri memusingkan tindak-tanduk lawan idolanya. Segala hal yang bisa dishare di semua jejaring sosial yang dimilikinya dilakukannya. Sayangnya, dirinya lupa adegan "ngecek n ricek". Akibatnya, kabar abal-abal itu dengan mudahnya dibagikan tanpa rasa tanggung jawab. Padahal dia, si pecinta mati itu. Bisa saja bertindak adil dengan terlebih dahulu mencerna apa yang akan dibaginya. Juga dengan meneliti asal-usul kabar yang akan dibagikannya. Nanti kabarnya tidak shahih bagaimana? Tidak malukah? Fitnah sih iya.

Peperangan media sosial ini akhirnya mengantarkan para pendukung berada pada satu titik. Mereka pada akhirnya secara sadar maupun tidak. Mulai menelanjangi diri mereka. Melepas satu demi satu propertinya melalui status atau perbuatannya. Yah, rame-rame telanjang. Ada yang menunjukkan betapa bijaknya dia menanggapi respon negatif dari orang-orang di sekitarnya. Tetap fight. Senantiasa menebar positive campaign. Ada yang telanjang dengan cueknya. Tipe ini untuk orang yang tidak mau tahu. Pokoknya serang lawan dengan segala cara. Gempur sampai titik malu penghabisan. Semua arah mata angin dilaluinya. Tekanan darah naik, marah, dan mencaci mereka yang tak sejalan. Intinya, negative thinking. Tetapi. ada juga yang tidak mendaftarkan diri dalam drama telanjang rame-rame ini. Dia, si tipe tak ambil pusing. Mau satu jari, mau dua jari. Mending urus jari manis anak orang yang belum tuntas-tuntas itu.

Kenyataannya drama telanjang rame-rame nampaknya belum usai. Bahkan sehari setelah KPU memutuskan siapa jadi juaranya. Kedua kubu masih saja bersitegang. Lari sana-sini sambil rame-rame telanjang. Yah, mereka masih doyan telanjang.

You Might Also Like

0 komentar