Olahraga Menyenangkan [bukan menyegarkan]

Perempuan dan belanja. Sebuah hubungan yang.... Hmmm, entahlah. Mereka di suatu waktu tampak seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Bergandengan tangan erat. Sekali-kali saling memberikan pelukan hangat dan mesra.

Di antaranya, tampak jarang sekali menggumbar rindu. Dimana ada kesempatan, perempuan dan belanja selalu saja meminta untuk bertemu. Atau mungkin hanya sekedar curi-curi pandang.


Belanja dan perempuan. Hubungan mereka di suatu waktu justru tampak seperti bom waktu. Andai si perempuan mampu mengontrol emosinya lebih baik. Atau mungkin lebih bijak. Atau si belanja mengambil sikap untuk berhenti menggoda si perempuan dengan segala tipu dayanya. Keduanya mesti saling mengingatkan dan menjaga. Jika salah satunya teledor, jangan salahkan kondisi dompet atau rekening yang minim.

Untuk itulah, dalam kisah kasmarannya. Baik si belanja dan perempuan, seharusnya memiliki kontrol yang baik. Jangan mudah tergoda. Saling percaya. Fokus. Satukan misi. Namun, untuk hal ini, jika terjadi aktivitas "belanja di luar dugaan". Ini bisa saja dikategorikan "ujian". Sungguh sebuah ujian saat melihat harga-harga barang miring. Atau menemukan sesuatu yang sangat disukai terpajang menantang dan menggoda di sebuah etalase toko. Itu sungguh ujian.

Dan tentu banyak hal lagi. Banyak hal yang menjadi "soal" dalam "ujian" itu. Bahkan tak jarang juga muncul pembenaran. Benar bahwa yang dibeli adalah sesuatu yang dibutuhkan. Tapi, aahhh terserah. Entah itu kebutuhan atau keinginan, berbelanja adalah kehendak bebas perempuan mana pun dan dimana pun.

Perempuan, belanja, dan hipotalamus
Sumber : inet.detik.com
Belanja dan perempuan atau perempuan dan belanja. Apalah namanya.  Dimana kondisi struktur hipotalamus yang berbeda antara perempuan dan lelaki. Justru menjadi jawaban hubungan perempuan dengan belanja, dan sebaliknya. Yang dalam kondisi seperti inilah sehingga perempuan diidentikkan dengan selalu memikirkan belanja. Sedangkan lelaki diidentikkan dengan selalu memikirkan seks.

Yang pada umumnya, namun tidak semua perempuan melakukannya. Ber-belanja, selain digunakan sebagai aktivitas untuk membeli segala kebutuhan bulanan atau keluarga. Juga sebagai pengalihan dari rasa tertekan atau stress. Pada kondisi seperti ini, tampaknya perempuan yang memilih jalan ini menghasilkan endorfin yang banyak. Sangat wajar jika mereka mampu meredam perasaan tertekannya.

Masih tentang hipotalamus dan takdir perempuan dengan belanja. Kenyataan bahwa dunia perempuan senantiasa berkaitan dengan per-belanja-an. Adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Hal ini terlihat, saat di pusat perbelanjaan seseorang menemukan perempuan dengan beberapa jinjingan belanjaannya. Realitas semacam itu bukannya sesuatu yang mengejutkan. Bahkan saat melihat perempuan dengan belanjaan 2 trolly. Itu sudah biasa bukan?

Ini sama normalnya, saat menemukan seorang pria melirik perempuan yang dianggapnya menarik. Si pria ini bahkan bisa saja cuek, cuek bahwa sekarang ini ada perempuan yang menggandengnya. Sedangkan matanya masih tertuju pada perempuan menarik tadi. Adalah sesuatu yang biasa saja bukan?

Juga saat bertemu sekelompok lelaki atau mendengar percakapannya. Meski tidak semuanya, namun kebanyakan sepertinya, iya. Orientasi pembicaraan mereka berkaitan dengan perempuan, biasanya seputar ukuran tubuh mereka. Parahnya, mungkin saja membahas aktivitas seks yang terlintas di benaknya. Seseorang tidak perlu terkejut saat mendapati kenyataan seperti ini bukan?

Dan hipotalamus yang berbeda ini, justru membuat perempuan dan belanja serta lelaki dan seks memiliki kisahnya masing-masing. Menciptakan sebuah pemakluman. Dimaklumkan jika perempuan suka belanja. Pun, juga dimaklumkan saat lelaki berbicara tentang seks.

Namun, selayaknya, pemakluman ini tidak biarkan sampai di luar batas. Sekali lagi, jika perempuan tidak mengontrol dirinya dalam hubungannya dengan belanja. Atau lelaki tidak mampu menahan hasratnya. Siap-siap saja. Ada bom waktu yang sewaktu-waktu dapat memecah kesunyian.

Olahraga menyenangkan [bukan menyegarkan]
Adalah saya. Juga seorang perempuan. Dan romantika saya dengan belanja memiliki irama tersendiri. Kami sepakat untuk hidup dengan penuh dinamika. Saya yang kadang, atau mungkin sangat sering tergoda rayuan barang-barang yang tampak memukau itu. Atau mungkin si belanja yang kadang merengek dengan manja agar dirinya diwujudkan dalam realitas. Ber-belanja.

Adalah saya. Yang tidak jarang, dengan bahasa "menemani" teman saya melakukan aktivitas berbelanja. Justru menemukan, bahwa akhirnya jumlah kantongan atau barang belanjaan saya lebih banyak dari teman yang saya temani. Ini sungguh dramatis. Kata teman saya.

Akan tetapi, di antara semua teori per-belanja-an yang saya temui. Mulai dari trik agar tidak mudah tergiur dan fokus. Sampai pada metode manajemen keuangan yang bijak. Mulai dari resep "tentukan apakah ini keinginan atau kebutuhan". Sampai pada taktik bawa duit pas-pasan. Ber-belanja memiliki gairahnya tersendiri.

Adalah saya. Yang tidak terlalu peduli apa dan kenapa para perempuan sesering mungkin berbelanja. Toh, saya juga melakukannya, meski dengan pertimbangan yang berbeda. Yang bagi saya, berbelanja adalah dimana seorang perempuan secara merdeka menggunakan kehendak bebasnya terhadap sejumlah nominal uang yang dimilikinya.

Adalah saya. Yang justru mendefinisikan kegiatan ber-belanja sebagai salah satu kegiatan olahraga. Bagaimana tidak, jika dihitung-hitung. Kegiatan berbelanja justru memakan waktu paling tidak satu jam. Yang dalam enam puluh menit itu, perempuan bersedia melakukan aktivitas "jalan" tiada henti, hanya sedikit lelah.

Yang dalam sebuah situs yang merujuk pada Fox News. Berjalan kaki selain masuk dalam olahraga murah meriah yang bisa dilakukan kapan pun oleh siapa saja. Kegiatan berjalan ini diprediksi mampu membakar 80 sampai 100 kalori per milnya. Meski hal ini bergantung dari kecepatan berjalan masing-masing. Dimana dengan berjalan santai mampu membakar sebanyak 97 kalori. Namun, berbeda jika berjalan dilakukan dengan penuh semangat. Dengan semangat yang penuh, seseorang mampu membakar 167 kalori hanya dalam kurun waktu 30 menit.

Dan adalah saya. Yang bagi saya, berbelanja seperti itu justru tampak seperti olahraga yang menyenangkan, bukan menyegarkan.

You Might Also Like

0 komentar