Dari Kamu atau Dia Sampai Paha Mulus

Dua atau Satu, Pilih Kamu atau Dia
Dua atau Satu, Pilih Kamu atau Dia. Seperti lirik sebuah lagu. Mendeskripsikan betapa sang pemilih dilanda kebimbangan di antara dua pilihan. Kamu atau dia.  Tak ada tiga. Tidak memiliki pilihan alternatif atau cadangan. Bedanya, kali ini pemilihannya berkaitan dengan penentuan "orang nomor satu"-nya Indonesia. Yang kadang-kadang dilafalkan dengan Endonesia. Alay sedikit, jadinya Endonesahhhh.

Tapi ahhh. Masih mau bahas tentang pasangan "Garuda Merah" atau lawan politiknya "Jokowi - JK adalah Kita"? Sudahlah. Toh, setiap hari diterbitkan warta tentang kedua pasangan ini. Tidak di media cetak. Dunia maya, tetapi bukan teknologi maya tentunya. Pun berseliweran berita-berita tentang itu. Lengkap. Mendetail. Mulai dari jadwal kampanyenya. Respon pendukung, lawannya, sampai pada penduduk yang dikunjungi lokasinya. Silahkan baca.


Ilustrasi
Sumber : www.merdeka.com
Namun, ada yang patut disesalkan dari suasana perpolitikan Indonesia. Sungguh. Sangat disayangkan, jika kebanyakan hal-hal yang berlalu-lalang di berbagai media ternyata masuk dalam kategori black campaign. Belum lagi dengan arus penyebaran berita-berita tersebut. Yang dimana sedikit dari para penerima berita mau mengklarifikasi keabsahan beritanya. Berita seenaknya diteruskan. Tergantung media sosialnya. Cukup klik "berbagi" atau pilih "broadcast message". Selesai. Yang dengan pola ini sesungguhnya tidak tepat digunakan atau dipelihara di negara ini. Kenyataan bahwa penduduk Indonesia [beberapa], masuk dalam kategori pemilih yang tak dewasa. Tidak melulu berkaitan dengan usia. Hanya saja, sikap ogah mengklarifikasi dan taklid buta itu memiliki efek negatif yang maha dashyat buruknya.

Di sini, di negara yang dalam undang-undangnya menjujung perbedaan. Kenyataannya tidak demikian. Untung-untung jika tidak menelan korban. Minimal kerugiannya yah sakit hati akibat cekcok berkepanjangan. Level kedua, sedikit lebab akibat adegan jurus tanpa bayangan. Yang dalam hal ini, saya teringat dengan broadcast sebuah gambar di kelompok jejaring sosial saya. Kalimat dalam gambar itu cukup menggelitik namun realistik. Asal jangan salah fokus saja. Begini kalimatnya, "Penduduk Indonesia terbukti belum dewasa. Beda klub bola, ribut. Beda agama, rusuh. Beda capres, panas. Beda kelamin, tegang." Betulkan.

Dan, ahhh. Sudahlah. Biarlah ranah politik itu bermain dengan panasnya. Sudah cukup banyak pihak, media, orang dan lain-lain yang mau meluangkan waktu dan kolomnya untuk mengangkat isu itu. Kenyataannya, 09 Juli nanti jawabannya.

Sampai di sini. Saya teringat pada seorang sahabat media sosial saya. Untuk menangani kejenuhannya akibat beranda yang dipenuhi status berkisar pemilihan presiden. Lengkap dengan debat para simpatisan atau pendukung. Dia menuliskan keinginannya untuk memiliki [lagi] presiden seorang perempuan. Mesti presiden tegasnya.

Baginya dengan pengetahuan sejarah yang dikuasainya. Sungguh, terdapat beberapa negara yang dipimpin perempuan-perempuan tangguh dan cantik. Bukan hanya sekali. Tak seperti negara ini, dimana Megawati hanya [sampai saat ini] mampu merasakan kursi panas kepresidenan sekali. Tak olehnya, tak pula perempuan lainnya. Oh iya, dia juga menetapkan syarat cantik, modis, dan cerdas tentunya. Itu presiden perempuan impiannya. Yang bagi saya. Untuk impiannya itu. Saya hanya bisa menyarankan agar peraturan tentang 30% anggota parlemen wajib perempuan. Yah, mesti ditambah lagi. Minimal mesti seorang perempuan dalam daftar nama capres atau cawapres.

Yang menggelitik bagi saya ialah, sempat-sempatnya dia memikirkan "cantik dan modis". Katanya, "Kenapa tidak?". Kita perlu pemimpin yang cantik. Yang kecantikannya lahir dari dalam dirinya. Yang kecantikannya justru menjadi cerminan kepribadian bagi penduduk perempuannya. Hal ini mengingatkan saya tentang Lupita Nyong'o. Sesaat setalah dinobatkan sebagai perempuan tercantik. Lupita menyampaikan pidatonya. Lupita menjelaskan tentang pesan ibunya. Bahwa kecantikan itu bukan apa yang engkau kenakan atau yang engkau makan. Kecantikan itu adalah engkau. Bagi saya, hal ini lebih lekat pada zona kepercayaan dan menghargai diri. Hal yang sangat jarang ditemukan pada kalangan perempuan dengan keluarga yang menganut sistem patriarki.

"Dan mengapa modis?", tanyaku. Baginya, modis itu berkaitan dengan kegiatan meng-up date diri di ranah fashion. Selain itu, akan meningkatkan kemampuan dalam hal kesesuian warna. Juga bagaimana perempuan belajar menghargai dirinya serta orang yang akan ditemuinya dengan mengenakan pakaian yang layak. Dapat pula mencerminkan kelas seseorang tandasnya. Yah. Okelah, kalau begitu. 

Brazil Beraksi dengan La La La La
Masih panas-panasnya tentang pasangan capres/cawapres di Indonesia. Dunia justru kembali dihadiahkan pertunjukkan dari aksi tim nasional negara-negara. Yah, setelah cukup rumit melalui hari-hari penuh kampanye. Entah black atau negative campaign. Kini saatnya bersuka cita dalam world cup.

Tahun ini, piala dunia kembali diadakan di Brazil. Yang sayangnya. Dalam permainan perdananya, tuan rumah menuai kekalahan. Tak hanya itu, justru pertemuan perdana antar negara lainnya, beberapa pertandingan melahirkan pemenang diluar dugaan.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak 2002, saya mendukung Jerman. Jika ditanya mengapa? Saya hanya menjawab, tentang sosok Miroslav Klose. Yah seperti inilah penggemar abal-abal. Padahal, semestinya saya menjawab tentang gelar "tim Pansher". Gelar yang diberikan karena kecepatan anggota tim dalam menyerang balik lawan. Atau tentang kuantitas keikutsertaan Jerman dalam piala dunia untuk kesebelas kalinya masuk dalam tiga besar.

Fakta lain yang muncul seiring dengan pelaksanaan piala dunia, tentang maraknya perjudian berkaitan dengan pelaksanaan piala dunia. Selain ditemani cemilan. Taruhan masih dianggap sebagai bumbu penyedap dalam menonton pertandingan bola. Dan di sinilah salah satu alasan ke-universal-an sepak bola. Dalam usia dan warna kulit serta ras manapun. Taruhan dilakukan bersama.

Ilustrasi
Sumber : inspirationhut.net
Dan hal menarik yang selalu saya nanti ialah world cup soundtrack. Brazil soundtrack tahun ini masih melibatkan Shakira dengan lagu La La La La. Selain Pitbull, Ricky Martin, J-Lo, dan kawan-kawannya. Sekali lagi, saya menyukai lagunya. Atau mungkin memang saya memiliki keanehan dengan menyukai  world cup soundtrack.

Masih tentang piala dunia. Saya sempat memikirkan status jejaring sosial teman saya. Yang katanya, efek piala dunia yang dirasakan Brazil juga memiliki dampak negatif. Seperti dengan meningkatnya angka prostitusi. Juga dengan kerusuhan antar para suporter. Yang lebih miris lagi tentang penggusuran warga setempat terkait dengan pembangunan stadion di Brazil.

Inilah Brazil beraksi. Dan hidup Jerman!!

Paha Mulus
Setelah bahasan perpolitikan dan piala dunia. Selanjutnya saya dan  teman saya tetiba berbicara tentang posmo lagi. Bahwa posmo tidak bisa dibenturkan dengan etika. Karena yang dibicarakan pada ranah itu adalah ruang publik dan kepentingan orang banyak. Semisal dengan seorang perempuan yang memutuskan mengenakan hot pants keluar dari rumah. Si perempuan itu tentu tidak bisa komplain jika banyak mata yang menjelajah memandang paha mulusnya. Si perempuan sebelum mengenakan pakaian tersebut tentu sudah tahu konsekuensinya. Ini bukan tentang kondisi masyarakat Indonesia yang masih mangap dan tak berkedip saat melihat perempuan seksi lewat di depannya. Bukan hanya karena mereka terkesan katrok. Jauh dari itu, yang namanya juga karena ini ruang publik. Maka apa yang ada menjadi konsumsi bersama. Jika tidak disukai, ada baiknya si perempuan mengganti celana yang dikenakannya. Jika dia tidak siap diperhatikan. Namun, lain halnya jika masuk pada wilayah pelecehan seksual.

Dari Kamu atau Dia Sampai Paha Mulus
Dan, yah inilah percakapan kami. Perbincangan menghabiskan malam namanya.

You Might Also Like

0 komentar