Sesuatu yang Disebut Pendidikan di Negaraku...

Pendidikan? Ia adalah salah satu faktor yang dianggap mampu mengubah manusia. Mengajari si pengenyam pendidikan hidup bersosial sekaligus beradaptasi dengan berbagai kondisi yang tidak diinginkan. Mengajarinya bertahan hidup, karena menyerah merupakan langkah yang terlalu mudah untuk dipilih.  Menghasilkan manusia yang mampu menghargai hakikat hidup orang lain.

Ilustrasi
Sumber : lianamaku.com
Pendidikan, yah selayaknya mampu dirasakan oleh seluruh masyarakat. Terlalu muluk mungkin. Tetapi itu adalah hak dasar manusia. Karenanya dengan masyarakat yang memiliki pendidikan. Tentu ada banyak masalah yang sekiranya mampu diatasi. Semisal ekonomi, kekerasan atau pelecehan, kemiskinan, dan lainnya. Yang dengan pendidikan mampu melahirkan generasi yang mandiri secara finansial. Lebih karena mereka sadar akan kemampuan atau bakat yang dimiliki. Lantas mereka mengembangkannya sehingga bernilai ekonomis. Bahkan dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di sekitarnya. Dan kemandirian finansial serta kreativitas dan kecerdasan mental yang mantap, juga menjadi jalan keluar untuk mengatasi kemiskinan.

Dan pendidikan dianggap mampu menjadikan manusia memanusiakan manusia yang lain. Yang juga merupakan fungsi dari agama. Di agama sendiri, menuntut ilmu atau pengetahuan atau menjadi manusia terdidik menjadi sebuah anjuran. Bahkan dalam agama Islam (yang asal katanya bermakna keselamatan), justru memberi kedudukan tersendiri bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Dimana sebenarnya, pencarian pengetahuan semuanya berujung pada pencarian terhadap ketuhanan.

Hardiknas, apa yang perlu diselamati?
Sesuatu yang disebut pendidikan... Emmm, yang di negara kami diberikan sebuah hari khusus. Hari Pendidikan Nasional namanya. Atau biasa disingkat menjadi Hardiknas. Yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei. Hari yang diberi warna merah. Sebagai tanda bahwa di hari itu seluruh pekerja kantoran dan pelajar dapat bebas menikmati hari liburnya. Tentu tidak berlaku dengan buruh atau beberapa pegawai swalayan besar dan toko minimarket.

Masih berkaitan dengan Hardiknas yang kadang posisinya membuat galau. Tidak lain karena terjepit di antara hari aktif dan libur. Hal inilah yang kadang kala membuat Hardiknas diplesetkan menjadi Harpitnas. Alias Hari Kejepit Nasional.

Yang entah sejak kapan dimulai. Tepat di hari pendidikan itu, tak sedikit para praktisi pendidikan atau pengajar akan mendapat ucapan “selamat”. Judulnya “selamat hari pendidikan”. Selamat untuk apa serta hal mana yang perlu diselamati? Hal ini selalu membuat saya bingung. Apalagi jika beberapa kerabat mengirimkannya pada saya. Hal ini juga terulang saat momentum hari Guru. Apa yang perlu diselamati?

Selamat Hardiknas. Serius? Masih bisa diucapkan saat dimana biaya sekolah semakin meningkat. Di kala bersamaan pendidikan justru menjadi bisnis yang cukup menjanjikan bagi beberapa pihak. Tak salah. Mungkin. Toh, ada mulut yang mesti diberi makan. Tapi bagaimana nasib mereka yang bahkan untuk makan sesuai standar gizi pun tak tercapai. Tetapi yah, segala perlengkapan dan metode cerdas dalam mendidik itu bukan harga murah. Maka menjadi layak, jika kini pendidikan dinilai sebagai sebuah infestasi.

Pendidikan yang dalam perjalanannya, mengajarkan anak manusia untuk memanusiakan manusia tanpa embel-embel apapun. Toh, mesti harus melihat dengan mata terbuka bahwa kini pendidikan lebih lekat pada berapa duit yang anda miliki. Semakin banyak duit anda, maka semakin banyak peluang sekolah "high class" yang dengan tangan terbuka dan senyuman sangat sumringah menanti. Sedangkan bagi yang kelas bawahan, bisa belajar hari ini saja sudah lebih dari cukup. Belum lagi dengan kualitas pengajar dan perlengkapan bahan ajar yang pas-pasan.

Pertarungan dalam dunia pendidikan kini tentulah berbeda dari zaman ke zaman. Jika awalnya hanya kalangan bangsawa atau ningrat saja yang bisa mengenyam dunia pendidikan. Rakyat biasa silahkan gigit jari. Lalu mulailah perempuan secara bertahap dapat menikmatinya. Untuk hal ini, kaum perempuan bolehlah berucap terima kasih pada Dewi Sartika. Atau mungkin kepada R.A Kartini, si tukang curhat. Yang curhatannya tidak melulu tentang gosip. Melainkan tentang realitas sosial yang dia saksikan.

Sesuatu yang disebut pendidikan itu...
Sesuatu yang disebut pendidikan itu.... Ahhh, silahkan saksikan dengan mata kepala Anda sendiri. Lantas bagaimana kita mesti bersikap? Pendidikan, janganlah menjadi barang mahal yang dipajang di etalase toko elit. Janganlah pula jadi benda antik yang hanya mampu dijalankan oleh orang-orang yang tidak up date dengan metode itu saja. Tidak pula yang darinya lahir rapor yang membuat peserta didik mesti merasakan amarah orang tua mereka, saat rapor mereka nilainya buruk. Bisakah seperti ini?

Sulit. Sukar. Namun, tidak mustahil tentunya. Yang kenyataannya ada juga sekolah gratis untuk mereka yang suka dengan pendidikan. Tentunya untuk mereka yang berada di garis kemelaratan. Ada pula sekolah yang tidak memberi rapor ke peserta didik mereka. Ada pula yang dengan pemahaman kecerdasan majemuk. Ada pula yang bahkan sekalipun seorang pelajarnya hamil, sekolah tidak secara egois mendepak remaja itu.

Iya, ada. Sayangnya masih sangat kecil porsinya. Tetapi biarlah seperti itu. Siapa tau suatu saat porsinya bisa bertambah. Bahkan dalam jumlah kecil sekalipun, tetaplah ada dan semangat. Mengenai jumlah sekolah-sekolah macam itu yang sedikit. Saya tidak pesimis. Saya teringat nasehat guru saya tercinta. Beliau berkisah tentang seekor burung pipit yang dengan paruh kecilnya. Menampung beberapa tetes air. Hanya untuk memadamkan api yang membakar nabi Ibrahim AS. Dan ketika ada yang menertawakan tindakannya. Si pipit tidak peduli. Hingga suatu waktu ada yang bertanya, tentang usahanya yang dikategorikan sia-sia belaka. Si pipit hanya menjawab, "Setidaknya dengan paruh saya yang kecil saya telah menunjukkan usaha untuk memadamkan api dan kecintaan saya kepada nabi Ibrahim AS".

You Might Also Like

1 komentar