Bukan Salah Media Sosial


Yah. Itulah pahaman saya. Bukan salah media sosial. Jika ada beberapa orang mengalami penipuan di salah satu jejaring sosialnya. Bahkan jauh sebelum media sosial lahir. Penipuan sudah terlebih dahulu unjuk gigi. Tidak pula dengan aksi penculikan atau perampokan. Hal yang disebabkan (mungkin) karena si korban memasang status "sedang sendiri" atau "bepergian". Dimana informasi semacam ini, justru sangat bernilai bagi beberapa orang. Pelaku kriminal tentunya.


Dalam berbagai bentuk, kejahatan punya caranya masing-masing. Hanya saja, kali ini mereka memilih perkembangan teknologi. Menggunakan sosial media. Yang sedianya tidak hanya sebagai tempat berbagi fikiran si pemilik akun. Juga berbagi informasi data pribadi atau sekedar aktivitas mereka. Kalau begini ceritanya, salahkan saja si pelaku yang "pandai" memanfaatkan eksistensi media sosial.

Sekali lagi. Bukan salah media sosial tentunya. Tentang hal seperti ini. Sesuatu yang di-generalisasi-kan. Saya mengingat cerita seorang teman. Pernah suatu ketika, saya dan dirinya terlibat percakapan panjang tentang sebuah kisah. Kisah seorang perempuan yang menjalani kehidupan rumah tangga dalam kondisi yang buruk. Sebagai akibat dari keadaan tersebut. Si perempuan, selain memilih berpisah dengan suaminya. Juga memutuskan untuk tidak akan menikah lagi. Baginya, menikah adalah pilihan yang akan menggiringnya ke kondisi buruk lagi. Meski dengan pria yang berbeda.

Ilustrasi Evolusi Kemampuan Manusia
Sumber : bincangmedia.wordpress.com
Jika ingin menganalogikan kisah si perempuan. Maka, saya dan teman saya memilih pisau sebagai objeknya. Yah, tentulah beda manusia dengan pisau. Apalagi jika dikaitkan dengan pernikahan dan perjalannya. Tetapi, saya dan teman saya hanya ingin menggambarkan "kesalahan berfikir" secara sederhana.

Andai seseorang menggunakan pisau. Entah dengan berbagai tujuan. Baik atau buruk. Semisal memotong sayur atau membunuh. Seumpama pisau tersebut digunakan untuk memotong sayur. Yang selanjutnya pisau itu tanpa sengaja (akibat kekeliruan sang pengguna). Tangannya teriris pisau tersebut dan berdarah. Maka siapakah yang layak disalahkan? Sangat tidak mungkin menyalahkan sebilah pisau. Karena dia hanya bisa bergerak atas kehendak pemegangnya. Jelas. Penggunanya. Siapa lagi! Sayangnya baik pernikahan, teknologi, dan media sosial pun tak jarang dikambinghitamkan untuk berbagai macam kondisi.

Kembali lagi pada media sosial. Mungkin tampaknya mereka yang memahami "media sosial memberi dampak buruk". Setidaknya perlu menelaah lebih dalam lagi. Meningkatnya tindakan kriminal, baik di dunia cyber maupun nyata. Tidak lantas membuat seseorang mesti menghapus akunnya pada semua media sosial yang dimilikinya.

Jika mau membuka mata lebih lebar. Teknologi "broadcast" dan "grup dengan inovasi berbeda" yang menjadi keunikan blackberry messenger misalnya. Justru memudahkan banyak pihak dalam membagikan informasi positif. Bahkan hal ini juga menjadi pemicu. Sehingga para pebisnis membagikan informasi produknya melalui jejaring sosial jenis ini.

Belum lagi dengan jejaring sosial seperti instagram. Dimana seseorang dapat dengan mudah mempromosikan keindahan daerahnya. Bukankah dengan demikian justru memberi income untuk ranah wisata? Ini di luar dari ketidak mampuan pemerintah dalam mengelolah dengan baik objek-objek wisata di daerahnya masing-masing.

Lain lagi dengan email. Ini aplikasi yang cukup primitif dan tradisional. Dimana untuk membagikan informasi secara banyak. Seseorang mesti tergabung dalam mailinglist. Dan melalui email-lah, saya banyak menemukan ajakan "kampanye". Bukan tentang caleg tentunya. Baik melalui media cetak atau elektronik sudah penuh dengan hal seperti itu. Bahkan ada yang berkampanye lewat salah satu sinetron dengan rating tinggi. Tetapi kampanye tentang penyelamatan hutan, misalnya. Atau undangan diskusi. 

Mau contoh jejaring sosial manalagi? Jika mau sedikit membuka fikiran. Apapun media sosial yang dimiliki. Pada sadarnya seseorang membuatnya untuk berkomunikasi dengan orang banyak. Yang dalam bahasa agama saya dikenal dengan sebutan "silaturrahim". Dan bukankah (masih dalam merujuk pada ajaran agama saya), setiap orang yang memelihara silaturrahim-nya memiliki derajat tersendiri. Juga mendapat janji berumur panjang dalam keberkahan dan memperoleh rejeki yang banyak dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang.

Bukan salah media sosial.

You Might Also Like

0 komentar