Perempuan, Sabtu Malam

Perempuan. Yang dalam berbagai versi didefinisikan berbeda. Dalam lintas generasi pun, perempuan juga mengalami perubahan. Tidak dari makna saja. Bahkan meliputi segala yang berbau perempuan. Dan ini bukan hanya tentang meminta kesetaraan. Bukan. Lebih dari itu, perempuan sebenarnya punya peran besar dalam memainkan perannya sebagai perempuan. Bukannya dipermainkan karena dirinya perempuan.

Perempuan. Terlahir dengan 4 pilihan. Ibu, istri, saudara perempuan, atau anak perempuan. Dalam setiap pilihannya, tentu perempuan mengembang misi yang berbeda. Namun, secara luas, baik menjadi ibu, istri, atau anak perempuan. Perempuan masih dianggap sebagai pihak kedua, setelah lelaki. Dan ini bukan tentang mereka yang melekakatkannya. Atau pengaruh budaya tertentu. Tidak. Bahkan tidak dengan agama tertentu. Tak sedikit, justru si perempuanlah yang membuatnya dinilai sebagai perempuan kedua.

Dan perempuan....

Perempuan. Hmm, bagaimana saya mesti menggambarkan ciptaan tuhan yang kompleks ini. Ahhh, biarlah saja perempuan memiliki makna berbeda di setiap kepala orang-orang. Dalam setiap imajinasi. Tetapi bukan menjadi objek fantasi mesum tentunya.

Ilustrasi Seorang Perempuan
Sumber : brian-shine.blogspot.com
Dan saya memiliki pengalaman tersendiri sebagai perempuan. Dulu di tahun akhir duduk di bangku sekolah menengah atas. Entah, disambar apa, saya tetiba ingin terlihat menjadi perempuan. Yang dalam penglihatan saya, perempuan itu mestilah anggun. Dan masih dalam pahaman saya di kala itu. Anggun identik dengan manut dan mengenakan rok plus dengan si heels.

Dan dimulailah perjalanan menjadi perempuan saya. Mulailah saya merengek meminta dibelikan peralatan sebagai perempuan. Tentu hal ini mengundang senyum di rumah dan di depan keluarga. Akhirnya jadi perempuan juga kamu. Itu kalimat yang senantiasa terlontar. Saking seringnya, kala itu saya bahkan menghafal bagaimana mereka mengucapkan kalimat itu. Juga dengan bagaimana ekspresi mereka. Yah, begitulah kerja otak. Jika kita selalu melakukan atau melihat hal yang sama berulang kali, maka jangan heran jika otak menyimpannya.

Berkaitan dengan misi menjadi perempuan. Saya senantiasa bersyukur dilahirkan dengan memiliki bapak dan mama yang selalu mendukung anaknya. Yah, mesti tidak semua hal tentunya. Tidak, jika seandainya saya meminta untuk dibelikan jet pribadi. Tentu sangat-sangat tidak untuk jet pribadi itu.

Namun, saya dianugerahi orang tua yang tidak hanya menyatakan "tidak". Mereka terlahir bagi saya untuk menyampaikan kenapa mereka memilih "tidak" untuk apa yang saya pinta. Mereka memberikan hak saya untuk bersuara, meski pada akhirnya mereka menggunakan hak preogatifnya sebagai orang tua. 

Tetapi, saya tidak pernah terluka untuk setiap "tidak" yang mereka fatwakan. Karena kami akan melalui perdebatan yang cukup panjang untuk hal-hal seperti itu. Alot. Hasilnya sudah pasti bisa ditebak. Mereka tidak mengabulkan permohonan saya. Tetapi, mereka justru menghadiahi saya untuk banyak hal. Pengalaman ditolak, mengungkapkan pendapat, dan keluar sebagaimana pemenang meski hasil votingan tidak sesuai harapan.

Kembali tentang anggun dan tetek-bengeknya. Ternyata menjadi perempuan pada umumnya, susahnya minta ampun. Ampun-ampunan saya mengeluh tentang pergelangan kaki yang terkilir saat si heels bertingkah. Rok yang seharusnya menjuntai indah, terrusaki nilai estetikanya dalam sekejap. Bukannya terlihat anggun, si doi malah senantiasa saya angkat saat akan berjalan. Dan yah, anggun kagak, berantakan iya. Zero. Itulah poin saya.

Tentang perawatan badan ala perempuan. Hmmm, bagaimana saya menuliskannya. Saya memilikinya hanya sebatas perlengkapan mandi, body lotion, bedak tabur bayi, dan parfum beraroma pria. No pedi and medi. Lulur kadang-kadang, itupun kalau mama sudah hampir mewek liat saya penuh daki. Make up untuk ke acara kondangan pun pasti pinjam punya mama. Dan itulah enaknya punya mama yang punya alat perhiasan lengkap. Tapi karena pada dasarnya memang tidak suka ke kondangan. Tidak suka pakai baju yang saat digunakan mesti terlihat manis. Saya cukup memilih lipstick dan cilla'. Cilla' itu loh yang digunakan untuk menghitamkan bagian bawah kelopak mata. Dan lipstick hanya di saat saya mau memakainya saja. Atau berkat permintaan panjang mama. Ups, plus sendal jepit, karena si heels hanya mampu saya digunakan mulai dari pintu gerbang - gedung - pintu gerbang acara saja.

Hampir setahun saya berada pada fase trial and error. Dan setelah hampir menyentuh angka 12 bulan. Saya memutuskan untuk keluar dari alur itu. Ada yang mesti saya ubah. Perubahan itu bukan hanya tentang apa yang saya sebagai perempuan kenakan. Tetapi tentang apapun yang saya kenakan, maka jadilah perempuan. Dan lebih dari itu, saya memang tipikal orang yang mudah jenuh terhadap sesuatu.

Keputusan saya diterima oleh bapak dan mama. Orang tua saya memilih saya untuk tampil sesuai yang saya nyamankan. Bukan tentang apa yang orang lain sangka tepat untuk saya. Atau perubahan labil tanpa sebab jelas kala itu.

Kali ini, baik saya dan orang tua sama-sama belajar tentang menjadi perempuan. Obsesi mama yang ingin melihat saya seperti dirinya,  anggun dan mempesona itu pupus. Mama tak pernah memaksa saya sepertinya. Meski mama sering mengatakannya pada saya. Mama hanya tersenyum saat saya memutuskan memakai rok. Dan masih saja tersenyum saat saya memilih memakai lagi sepatu sport kemana-mana.

Berbeda dengan bapak. Bapak mendidik saya menjadi perempuan dengan beberapa literatur buku yang senantiasa beliau hadiahkan saat saya berulang tahun. Atau untuk prestasi dan hal baik yang saya lakukan. Masih tentang memakai rok. Saya pernah menanyakan tanggapannya tentang hal itu. Beliau berkata untuk tidak mempermasalahkan apapun yang saya kenakan. Selama saya memakai baju candanya. Namun, beliau menegaskan satu hal. Tentang pakaian nyaman dan bagaimana penghargaan pria terhadap perempuan. Materi kelas berat untuk saya di kala itu.

Dan kini. Perjalanan menjadi perempuan terus saya lakukan. Bahkan semua perempuan pun melakukannya. Bukan hanya tentang memakai duet maut, rok dan heels. Bukan hanya sekedar pandai seputar dunia kosmetik dan sekitarnya. Tidak pula dengan bersikap manut. Jika membawa nama tuhan. Tuhan bisa saja cukup menciptakan pria yang memiliki otak dan berakal. Perempuan untuk diberi aksesoris otak saja.  Tetapi nyatanya, potensi yang dianugerahkan sama. Hanya saja tugas dan kewajiban berbeda. So, masih mau manut tanpa mikir dulu?

Menjadi perempuan, lagi-lagi bukan hanya tentang keahlian memasak. Untuk kategori ini, maka saya akan digolongkan menjadi pria. Ranah kebersihan pun adalah tanggung jawab bersama. Dan perempuan bukan hanya seputar sumur - kasur - dapur. Itu mempersempit wilayah kerja perempuan. Menghina iya. Menjadi perempuan bagi saya ialah mempersiapkan diri untuk melewati masa sebagai anak perempuan, saudara perempuan, istri, dan ibu. Dan bagaimana menjadi perempuan yang kita inginkan.

Perempuan. Dinomorduakan. Budaya patriarki. Kehidupan rumah tangga. Kontroversi. Melahirkan dan mendidik penerus bangsa. Karir. Keindahan. Kesetaraan gender. Membangun negara. Dan lainnya. Ahhh, begitu banyak tentunya. Komplit dan komplek, iya. Tetapi pilihan untuk tetap mengambil perannya sebagai perempuan harus menjadi pilihan bagi setiap perempuan. Sebagai perempuan di kehidupannya. Sebagai ciptaan yang merdeka. Sebagai manusia yang memanusiakan manusia.

Maka perempuan, memilihlah.

Dan inilah saya, perempuan, menulis hal kecil tentang perempuan, di kala sabtu malam.

You Might Also Like

0 komentar