Mencari Tuhan dan Teman, Segelintir Faedah Jejaring Sosial

Media sosial memang bukan produk baru lagi saat ini. Bagi mereka yang tinggal pada kawasan  perkotaan dipastikan hampir setiap orang di sana memiliki akun pada jejaring sosial tertentu. Media sosial pada akhirnya menghapus limit jarak dan waktu, kapanpun atau dimana pun seseorang dapat berkomunikasi dengan siapa saja yang juga menggunakan jejaring sosial yang sejenis sebagai media komunikasi.



Media sosial yang menurut Wikipedia yakni “Sebuah media online dengan para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan komunikasi, dimana ini meliputi blog, jejaring sosial,wiki, forum, dan dunia virtual.”

Pada kenyataannya, kebutuhan terhadap media sosial tidak hanya pada wilayah komunikasi saja, ini juga berkaitan dengan bisnis, tren dan harga diri seseorang. Sebagai contoh jejaring sosial dengan logo seekor burung berwarna biru yang diberi nama “Larry the Bird” berasal dari nama seorang pemain basket NBA, Larry Bird.

Media sosial yang dikategorikan micro-blogging ini mengajak para penggunanya untuk lebih memadatkan informasi yang akan disampaikan dalam statusnya, mengingat jejaring ini hanya menyediakan ruang 140 karakter saja. Namun, justru dengan keterbatasan tempat ini banyak dimanfaatkan bagi para pebisnis untuk melakukan aksi publikasi tentang produk mereka. Penyebaran iklan secara online marak dilakukan melihat meningkatnya pengguna media sosial.

Berbeda dengan jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg, media sosial ini diawal kiprahnya muncul dalam pentas dunia maya, justru turut andil dalam wilayah silaturrahim. Ini dapat dilihat dari kebanyakan penggunanya yang menemukan kembali teman-teman seperjuangannya dulu, mereka-mereka yang tak pernah didengar kabar berita dalam durasi yang cukup lama. Pada akhirnya euforia perjumpaan di dunia maya menghantarkan hasrat untuk bertatap muka secara langsung, yang dalam istilah media sosial disebut ‘kopi darat’ atau ‘kopdar’.

Ilustrasi Pencarian Memanfaat Komputer
Sumber: di sini
Saat akan melakukan kopdar biasanya para user menentukan waktu dan tempatnya, tinggal pilih saja, bagi mereka yang mementingkan pamor pasti akan mengajukan tempat-tempat mewah yang menyediakan tempat khusus bagi para pelanggan yang memakai baju parlente itu. Ada juga yang lebih mementingkan asas ke-strategis-an tempat kopdar, penganut aliran ini biasanya orang dengan tingkat kesibukan menengah sampai pada level sibuk. Permintaan ke-strategis-an tempat itu justru memudahkannya bergeser dari satu pertemuan ke pertemuan selanjutnya. 

Lain halnya dengan golongan yang memang tujuannya mau ketemu tanpa syarat, mereka menomorsatukan acara bertemu tanpa memandang tempat yang dituju, biasanya ini idaman para pelajar yang mampu menyihir tempat apapun menjadi tempat menyenangkan untuk berkumpul atau mereka si cuek yang mungkin sudah bosan dengan tema yang mengikat setiap pertemuan.

Layaknya persaingan pada umumnya, setiap jejaring sosial mempunyai ciri khas yang menarik perhatian para user atau calon penggunanya, sudah tentu ini mesti dilakukan bagi para ‘pemilik’ jejaring sosial itu, disitulah nilai jual yang bisa mereka agung-agungkan kepada dunia. Ada media sosial yang khusus digunakan untuk memberitahukan kepada orang-orang dimana posisi sang pemilik akun, ini memudahkan sebagian pihak untuk memantau pergerakan pasangan mereka meski kebenaran dari ‘check in’ sang pemilik akun masih bisa dimanipulasi.

Ada juga jejaring yang mengajak para usernya untuk saling berbagi foto yang mereka miliki atau sukai. Jenis media sosial ini mampu melahirkan fotografer dadakan yang tidak sedikit hanya menggunakan handphone biasa saat mengambil gambar. Namun, tidak sedikit dari fotografer amatiran atau dadakan ini justru memperlihatkan kepada pengguna lain tentang sudut pandang yang berbeda dari suatu objek. Mereka menunjukkan kita keindahan dari sisi yang berbeda. Sayangnya di sisi lain, seperti membangunkan singa yang tertidur, media sosial jenis ini justru menciptakan generasi narsis yang tidak terhitung jumlahnya.

Pada media sosial, kita lebih sering untuk mengutarakan isi fikiran kita kepada orang lain atau teman kita di jejaring itu. Bukankah itulah gunanya kolom kosong yang senantiasa menanyakan isi pikiran kita, dimana lokasi kita, apa kabar kita? Yah terkadang memang jejaring sosial tampak sangat perhatian bagi penggunanya ketimbang manusia terhadap manusia yang lain. Status yang diposting cukup beragam, tergantung dari siapa yang menulisnya, bagaimana isi hatinya, atau bagaimana cara dia mengungkapkannya.

Beberapa ada yang bahkan menulis catatan atau note untuk hal-hal yang membutuhkan space lebih banyak atau menjelaskan sesuatu dengan lebih mendetail. Penyisipan gambar atau video memberi warna tersendiri untuk setiap postingan seseorang, ini seperti menambahkan protein bagi tulang, bagi orang-orang visual, adanya gambar arau video mampu menghidupkan dan memperkuat isyarat yang akan disampaikan sang penggunggah atu juga memberi makna ganda.

Jika seseorang meras galau, ada juga yang memilih membagikan perasaannya melalui jejaring sosial. Ini seperti curhat online yang artinya secara sadar dan tanpa paksaan kita telah membagikan curahan hati kita kepada masyarakat umum dan menjadi konsumsi publik. Secara tidak langsung perilaku ini mampu mengurangi kesakralan dari curhat itu sendiri.

Ada pula yang berbagi link, bisa tentang hasil penelitian, berita sampai pada hal-hal konyol yang menggelitik. Tidak sedikit pula yang menjadikan media sosial sebagai ajang untuk saling memotivasi dan memberikan semangat antar penggunanya. Upaya baik ini seperti aliran energi positif yang membanjiri kanal pertemanan kita di jejaring sosial.

Di sisi lain, tidak jarang kita temukan orang-orang justru menuliskan do’anya dan menjadikannya status. Jika dilihat sisi pertama, upaya ini bisa saja dianggap sebagai ajakan agar teman dunia maya-nya bisa turut andil meng-aamiin-kan permintaannya sebagai upaya mengetuk pintuNYA. Sisi kedua, ada memang akun yang sengaja berbagi do’a kepada teman atau pelanggannya.

Pada sisi ketiga, do’a ini juga mengindikasikan bahwa dalam dunia maya pun seseorang masih mengingat penciptanya. Namun, yang menjadi kritikan adalah tuhan sendiri tidak berlalu-lalang dalam media sosial, tuhan tidak punya akun bahkan pada salah satu jejaring sosial di jajaran top ten dunia pun, tuhan tidak akan ditemukan disitu. Bukankah kita perlu suasana khusyuk dalam menyampaikan permintaan kita? Bahkan saat kita akan menyampaikan keinginan kita pada orang tua, kita akan mencari waktu yang tepat agar keinginan kita dikabulkan, bukan?

Kumpulan Aplikasi Media Sosial
Sumber: di sini



Persoalan lain juga ada, beberapa aktris atau aktor bahkan fans club yang mereka miliki, pernah memiliki kasus hanya karena ketersinggungan akibat status dari pihak lain. Lantas marak pula perang status di media sosial, tidak jarang mereka bahkan saling me-mention atau menulis langsung nama pihak yang dimaksud, berani bahkan terlalu teledor mungkin. Apa berkomunikasi secara baik-baik sudah mulai pudar dalam budaya ketimuran kita?

Di antara keseluruhan aktivitas di jejaring sosial, perihal yang mesti diperhatikan secara khusus yakni maraknya tindakan kejahatan baik penipuan bahkan pelecehan seksual yang lahir dalam jumlah yang tidak sedikit. Kepolosan para pengguna jejaring sosial ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak. Penculikan pernah menjadi kasus yang mencoreng nama jejaring sosial buatan  salah satu mahasiswa MIT di awal tahun 2011. Tidak tepat jika kiranya dampak negatif ini hanya dibebankan pada eksistensi media sosial. Kecermatan dan kehati-hatian dari penggunalah yang mampu mengontrolnya. Ketika seseorang terluka saat memegang sebuah pisau, maka menyalahkan pisau bukanlah hal yang masuk akal. 

Lepas dari apapun aktivitas yang kita lakukan di media sosial, seseorang dapat dengan bebas menuliskan apapun sebagai statusnya dan itulah kemerdekaannya. Selamat menyelam di samudera media sosial, ada banyak nila-nilai kebaikan yang bisa diambil ketika kita mau bijak.

You Might Also Like

0 komentar