Suatu Pagi, Saat Burung Dara Masih Bertengger Di Kabel Listrik

Tidak seperti perjalanan biasaku. Hari ini, perjalanan itu bukan "lima belas menit" ku. Yah, perjalanan "lima belas menit" aku menyebutnya. Rumah-kantor yang hanya lima belas menit. Rumah dan rumah sahabatku pun hanya ditempuh dengan 15 menit. Bahkan dari rumahku ke rumah nenek pun menunjukkan waktu yang sama. Ajaib. Beda jarak, waktu tempuhnya sama. Ahh, mungkin ada masa di mana aku begitu memaksakan untuk konsisten di angka "lima belas menit" itu. Atau jarum di jam tanganku sedang membohongiku. Mungkin juga jalanan-jalanan ini sedang mempermainkanku. Seolah-oleh jauh, nyatanya jarak tempuh ku hanya "lima belas menit".


Hari ini aku tidak akan menemui "lima belas menit" ku. Karena aku akan menapaki jalan lebih lama. Lebih jauh dari yang biasanya. Hal ini, tentulah membuat kedua ban motorku sumringah. Hari ini mereka akan menjajaki jalanan yang berbeda. Berjumpa dengan tanah, debu, dan genangan air yang dahulu hanya dapat mereka dengar kisahnya. Kini, mereka dapat dengan bangga meninggalkan bekas jejak ban-nya. Kelak, dengan nada angkuh. Kedua ban ini akan berkisah pada para pelanjutnya. Bertutur tentang tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Berkisah tentang perjuangannya mencapai koordinat tertentu. Dan mungkin, bercerita tentang pemilik motornya yang sering kesasar. 
Ilustrasi Burung Dara
Tepat di minggu pagi kali ini. Meski hari ini, terasa pagi terlalu dini menyapa. Merampas rinduku yang belum tuntas pada sang malam. Namun, perjalanan itu tak bisa ditunda. Ngantuk itu mesti ku lawan dengan bantuan oksigen. Yah, bernapas lebih dalam. Tak mempan. Saatnya air dingin di bak mandi menunjukkan khasiatnya. Brrr.... Timba pertama berhasil membuatku melek. Merenggut rasa ngantuk itu. Yang bersisa hanya dingin, basah, dan segera ingin menyatu dengan handuk.

Mentari merangkak naik dengan malasnya. Awan mendung sudah berjaga-jaga. Dan aku yang sedari semalam sudah bersemangat dengan perjalanan ini. Perjalananku kali ini diawali dengan perjumpaan dengan seorang ibu. Tidak sempat aku bertanya tentang dirinya lebih dari yang biasa aku lakukan. Kami pun hanya bertukar tanya sepentingnya saja. Hanya pada jumlah dan jenis. Selebihnya, aku memboyong 4 bungkus nasi kuningnya ke tempat janjianku. Nasinya enak dan hangat. Perut kosongku, seketiba berisi. Menu pendampingnya juga enak. Bahkan terkesan murah untuk harga sepuluh ribu perak.

Roda motorku pun akhirnya menjajaki jalannya. Sayangnya, kebanyakan dari jalanan yang ku lewati kelak diisi oleh jalanan berliku, berlumbang, dan becek. Malangnya nasib ban-ban itu pikirku. Seharian kemarin aku sempat mendadaninya. Memandikannya. Dan hari ini, mau tak mau mereka akan berteman dengan kotor. Tetapi, ada kegembiraan yang bisa ku baca. Bagi mereka, kotor itu hanya bagian kecil dari perjalanan menuju tempat baru itu.

Kali ini, kedua ban motorku sudah mulai bawel mengisahkan keceriaan anak-anak SD berseragam Pramuka yang baru saja kami lewati. Keduanya melihat bagaimana anak-anak itu bernyanyi sambil saling menjahili satu sama lainnya. Ada yang saling dorong-mendorong. Ada yang hanya senyum saja. Ada pula yang tertawa lepas, tanpa malu dengan giginya yang ompong di bagian depan. Tampaknya kebahagiaan itu menular ke kedua ban-ku, juga padaku.

Rumah pertama dari tujuan kami, memiliki tuan rumah yang ramah. Seorang ibu yang aktif dengan 2 orang putri, yang berbeda karakter. Si bungsu yang ceria dan pemberani. Dan si sulung yang manja. Suaminya pun, menerima kedatangan kami dengan hangat. Beberapa lamanya kami saling tertawa lepas. Pun juga sang ibu berbagi beberapa kisah pada kami. Mengharukan. Kadang juga membakar semangat. Ahh, selalu saja kisah ketulusan memenangkan hati setiap pendengarnya. Ketulusan yang kali ini berhembus dari desa di kabupaten yang penuh sejarah.

Di rumah pertama itu, kami disuguhi makan siang yang lezat. Meski perut belum betul-betul kosong. Tetapi aroma ikan bakar dan sayur bening, sungguh menggiurkan. Belum lagi ulekan lombok dan tomat,  terpajang seksi di antara menu hidangan empuhnya rumah. Betul-betul tawaran yang tak boleh ditolak. Bawaannya bisa menyesal. Menyesal tidak menikmati hidangan itu. Terlebih lagi karena menyesal tidak menikmati jamuan dan kesantunan khas timur.

Langkah kaki kami kini beradu, lagi. Berlomba dengan putaran roda dan waktu. Kami akhirnya sampai ke tujuan kedua kami, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam. Dan lagi, ban-ban motorku tersenyum semakin lebar. Jalanan selanjutnya, hanya ditemuinya udara yang sejuk. Sawah yang masih hijau. Langit yang membiru. Kesemuanya merupakan lukisan hidup yang tak ternilai harganya. Sayang, jika kelak sawah-sawah itu dikonversi menjadi bangunan berhuni. Sedih rasanya, jika kelak udara itu perlahan-lahan tak sesejuk perawannya.

Rumah kedua kami, yang juga merupakan tujuan akhir. Di sini, kami dihidangkan buah mangga yang banyak. Beberapa kue tradisional, beserta deretan gelas es teh instan.  Di sini lebih semarak.  Namun, masih dengan kesantunan yang sama. Banyak anak kecil yang masih tampak malu-malu. Beberapa ibu muda yang terlihat sangat bersemangat dalam kesehariannya. Dan seorang nenek yang terlihat sangat menikmati penghujung hidupnya. Ubannya telah melenyapkan hitam. Entah sudah berapa kisah sejarah yang disaksikannya. Uban itu buktinya.

Di rumah yang memiliki halaman sangat luas itu. Kami memakan waktu lebih lama bertamu. Juga bercakap dengan lebih banyak orang.  Sementara itu, kedua ban motorku masih saja berharap untuk diajak jalan lagi. Memohon dengan penuh pengharapan. Aku mengindahkannya. Suara mereka semakin keras. Mereka terlalu bersemangat pikirku. Ternyata lebih dari itu, rasa keingintahuan merekalah yang membuatnya berbuat seperti itu. Dan sekali lagi kutekankan, perjalanan kita sampai di sini. Yang ada hanya perjalanan menuju rumah. Mereka terlihat sedih. Sedikit saja ku ganggu, bisa-bisa mereka ngambek padaku. Akhirnya ku bujuk keduanya. Ku janjikan akan mengajak mereka ke tempat baru lagi. Tapi tidak dalam waktu dekat ini ujarku. Puas. Mereka tersenyum. Ahh, betapa sederhananya kebahagiaan bagi mereka.

Aku. Teman-temanku. Kedua ban motorku. Kendaraan teman-temanku. Kami akhirnya pulang tepat saat senja mulai bersiap beraksi. Kembali melewati jalanan saat kami pergi tadi. Namun, dengan kecepatan yang berbeda. Bukan karena aku telah mengingat rute itu. Lebih karena rasa ngantukku yang belum tuntas.

Perjalanan di awal bulan Desember ku pun selesai. Dan November pun kembali menyusul pendahulunya, seperti September dan Oktober. Bulan penghujan. Juga milik sang manusia salju. Tak lupa teman si banjir. 

Dan inilah kisah di suatu pagi ku, saat burung dara masih bertengger di kabel listrik.

---



Tulisan ini juga dimuat pada kompasiana.com

You Might Also Like

0 komentar