Tetanggaku Sudah Bukan Idolaku Lagi

Alkisah di sebuah kompleks perumahan elit. Hidup berdampingan dua keluarga bahagia. Sebut saja keluarga Arief dan Syaiful. Kedua keluarga ini hidup rukun. Mereka saling menularkan kebahagiaan. Semisal, pak Syaiful yang kembali dari perjalanan dinasnya dari luar negri. Spontan keluarga Arief diundangnya untuk sekedar malam malam sembari membagikan buah tangannya. Sebaliknya, hampir dua pekan sekali pak Arief mengundang keluarga Syaiful ke rumahnya. Hanya untuk sekedar barbeque party kecil-kecilan.

Tidak sampai disitu, mereka juga saling menolong antar kedua belah pihak. Persahabatan kedua penghuni rumah itu memang sudah berlangsung lama. Namun, tak ada yang tau pasti sejak kapan dimulainya. Yang tetangga lain ketahui hanyalah kesamaan tempat kerja antara pak Syaiful dan Arief.

Sayangnya, kini santer terdengar kabar tentang kedua keluarga itu. Tidak diketahui siapa yang menyebarkan berita itu. Atau mungkin kebanyakan dari penghuni kompleks itu hanya peduli pada konten kabar burung itu. Keakuratan data tekadang terpelanting oleh kecepatan penyebaran berita. Apalagi jika objek dalam berita itu punya nilai tersendiri.

Kabar kurang menyenangkan itu, sudah seminggu masuk dari satu pintu ke pintu lain di perumahan itu. Tak satu pun pintu yang menolak menerima “tamu”nya. Mereka cukup beradab saat “tamu”nya datang. Diterimanya dengan baik. Bahkan diberinya lagi “cendramata” saat tamu itu pergi. Buruknya, cendramata itu adalah tambahan bumbu dari kabar itu. Sungguh sangat menyedihkan.

Hidup Bertetangga
Gambar: siapmenikah.com
Di antara kabar yang tersebar itu. Keluarga Syaiful yang dalam berita itu menjadi pihak dirugikan, dinilai hanya diam saja. Tidak terlihat gelagat untuk meredam kabar itu. Bahkan tidak terlihat langkah untuk menjernihkan kabar kurang menyenangkan yang sudah beredar luas itu. Pak Syaiful selaku pemimpin dari keluarga kecil itu, bahkan masih terlihat tenang. Hanya saja sudah beberapa senja dalam pekan ini, anak-anak pak Syaiful sudah tidak terlihat bermain dengan Sastro, anak semata wayang pak Arief.

Kabar yang tersiar berkisah tentang adanya dugaan perselingkuhan yang dilakukan pak Syaiful. Lantas dimana kaitannya dengan keluarga Arief? Salah seorang dari penerima berita itu menjelaskan bahwa bu Yahya, istri pak Arief adalah orang yang memergoki pak Syaiful dengan wanita idaman lainnya. Bahkan dengan yakin si penerima berita itu menyatakan bahwa Ningsihlah yang memberitahukannya. Ningsih, gadis manis yang diketahui sebagai salah seorang pekerja rumah tangga di kediaman pak Arief.

Tak diketahui berapa lama kemudian berita itu tersebar dan memberikan sanksi sosial bagi keluarga Syaiful. Anak-anaknya dijauhi oleh beberapa teman mereka. Istrinya sendiri, Rosa, bahkan ditekan oleh pihak keluarga untuk meninggalkan sang suami. 

Semuanya pada akhirnya berhenti saat wanita yang diduga menjadi wanita idaman lain pak Syaiful muncul. Di luar dari dugaan, wanita itu ternyata keponakan dari pemilik kompleks elit itu. Wanita itu bernama Shela. Seorang perempuan paruh baya bergaya moderen. Shela adalah salah satu mahasiswa pasca sarjana yang sedang melakukan penelitian terkait dengan perusahaan air terkenal di kota itu. Dimana perusahaan itu tak lain menjadi tempat bekerja pak Arief dan Syaiful. Shela pada akhirnya melontarkan realitas kepada para penyimak berita ini. Penyimak yang tak pernah mau pusing dampak buruk dari berita yang menyebar itu. Mereka tak peduli siapa pihak yang dirugikan dan selalu menerima apa yang mata lihat atau telinga mereka dengar. Kenyataannya bahwa pak Syaiful tidak berselingkuh dengan Shela. Beritanya berubah, kini.

Namun, akhir dari isu itu masih menyisahkan sebongkah pertanyaan. Dimana kemarahan yang selayaknya muncul saat seseorang merasa difitnah? Kenapa pak Syaiful tidak menunjukkan hal itu? Lantas, setelah diketahui tentang kondisi sebenarnya. Mengapa pak Syaiful tidak meminta keluarga pak Arief, terutama sang istri untuk meminta maaf? Bukankah pak Syaiful sudah melihat bagaimana anak-anak dan istrinya menjadi korban. Melihat mereka dicemooh tanpa pernah mau ditanya apa yang mereka rasakan? Apa ada rahasia antara kedua keluarga ini? Ataukah mungkin masa lalu yang bekerja?

Bongkahan pertanyaan itu hanya dapat dijawab dengan dugaan-dugaan yang bersifat temporal. Tak bernilai benar atau salah. Masih menjadi mungkin. Kisah kedua rumah saling bertetangga ini tidak bisa saja berhenti sampai di situ. Terlalu mudah.

Beranjak dari cerita dua tetangga lama yang akrab ini. Ada dua tetangga raksasa yang kini juga sedang dirundung masalah. Mereka tinggal di perumahan yang bernama bumi. Mereka adalah Indonesia dan Australia. Dua tetangga yang bahkan sudah lama saling tukar menukar rempah. Tak jarang saling menukar penduduk mereka yang terdampar satu sama lain. Saling mengunjungi dan memberi keuntungan satu sama lain.

Edward Snowden pada suatu kesempatan menyampaikan bahwa tetangga Indonesia itu, telah menyadap telepon seluler orang nomor satu tanah merah putih. Tak hanya sampai disitu, pihak Australia bahkan juga menyadap hanphone Ani Yudhoyono dan beberapa menteri di tahun 2009. Diketahui bahwa proses penyadapan berlangsung 15 hari.

Entah, apakah karena telah dikenal dengan negara yang ramah. Pemimpin tertinggi negara Indonesia ini justru tidak menunjukkan sikap tegas. Pun bahkan tidak mendesak Tony Abbott untuk meminta maaf atas kesalahannya itu. Bukankah penyadapan bukan hal yang diperkenankan? Ini juga menyisakan sebongkah pertanyaan. 

Yang heboh justru beberapa pihak dari rakyatnya. Ini seperti tingkah anak-anak pak Syaiful terhadap Sastro. Mereka yang terusik rasa kecintaan tanah airnya dengan penuh gelora turun ke jalan. Belum lagi merasa persahabatannnya dengan Australia ternodai dengan aksi penyadapannya. Melakukan demostrasi sambil membakar bendera negara tetangganya. Bahkan mengancam akan melakukan sweeping terhadap warga Australia yang membumi di Indonesia. Sayangnya, aksi yang dinilai sebagai bentuk perlawanan itu, justru seakan mengikuti alur cerita yang telah diatur pihak tertentu. Seakan meruncingkan masalah ke ranah nasionalime, padahal ada banyak hal yang bisa ditelisik, jika saja mereka mau lebih kritis. Andai memang mau melakukan perlawanan, kenapa tidak melakukannya dengan seksi dan penuh makna, bukan terlihat dangkal dan asal bunyi.

Nampaknya, bagi segelintir penghuni bumi khalulistiwa. Tetanggaku, sudah bukan lagi idolaku....




#Tulisan ini juga dimuat pada kompasiana.com

You Might Also Like

2 komentar