Penerimaan Ucapan Selamat Yang Tertunda

Seperti kebanyakan hari-hari yang memiliki "hari khusus". Kemarin, tepat tanggal 25 Nopember diperingati sebagai hari Guru Nasional. Menjadi tidak heran, jika di beberapa media sosial banyak yang menulis status seputar hari Guru Nasional. Mulai dari ucapan terima kasih kepada para gurunya, sampai pada mengkritisi kondisi finansial guru. Ucapan itu datang hampir memenuhi beranda atau timeline di media sosial. Bergerombol. Hampir dengan nada yang sama. Semoga ini tak hanya sebatas ajang "ambil bagian" atau tradisi tahunan.

Selamat Hari Guru Nasional
Gambar : stat.ks.kidsklik.com
Memilih untuk tidak ambil jatah dalam "mengungkapkan" kalimat selamat hari guru adalah pilihan. Bukan tidak menghargai. Bukankah setiap orang punya caranya masing-masing dalam mengapresiasikan perasaan mereka? Tidak mengungkapkan bukan parameter melupakan jasa-jasa mereka. Hanya saja, untaian kalimat sepanjang dengan makna sedalam bagaimanapun. Tak ada yang bisa membalas apa yang pernah guru-guru itu berikan. Tidak untuk kesabaran mereka, saat memberi kita pengetahuan baru. Juga tidak dengan ketulusan dan kasih sayang mereka.

Guru. Kekinian justru menjadi profesi yang banyak dilirk orang. Alih-alih mendapat tunjangan sertifikasi, sayangnya ada yang terlupakan. Guru adalah pendidik. Dan mendidik tentu berbeda dengan mengajar. Hampir dari setiap orang, bukan hanya guru. Tentulah bisa mengajarkan hal atau pengetahuan baru ke orang lain. Berbeda dengan mendidik. Kerja yang satu ini memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Ketulusan yang melimpah. Sikap memaafkan yang selalu bisa diakses kapan saja. Kepedulian dan kasing sayang yang senantiasa terpupuk. Sayangnya, masih sedikit yang memahaminya. Juga mengimplementasikannya. Lebih mendasar, sindiran ini juga untuk saya.

Kesadaran bahwa mendidik adalah proses yang tak pernah usai, nampaknya menjadi pemikiran yang usang bagi beberapa oknum. Namun, wajah dunia pendidikan tak perlu sedih. Di luar sana, masih banyak bertebaran guru dengan kasih sayang melimpah. Masih banyak guru yang ketulusan dan kesabarannya seperti tak lekang oleh waktu. Masih banyak guru yang senantiasa mencari metode baru dalam pembelajaran mereka. Masih juga  banyak guru yang senantiasa dinantikan kehadirannya bagi murid-muridnya. Bahkan masih ada guru yang sanggup membuat siswanya sedih, kala perpisahan di depan mata.

Dalam praktiknya. Menjadi guru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau menjentikkan jari, lantas menyulap sebuah kondisi. Selain mesti memiliki kontrol emosi yang baik. Penguasaan kelas juga penting. Hal ini yang di mata kuliah tidak akan pernah ditemui. Sejauh ini, semua pengetahuan pembelajaran yang diterima para calon guru hanya secara teori saja. Padahal kondisi di lapangan sungguh berbeda. Memang begitu banyak referensi tentang pembelajaran yang dapat dikonsumsi para calon atau guru itu. Namun, disadari bahwa ada komponen berbeda saat seseorang berada di kelas.

Kelas. Ruang yang berisi banyak kepala itu. Menuntut guru tidak hanya mapan secara teori saja. Bahkan tidak hanya berkisar mata pelajaran yang diampuhnya. Ada kondisi psikologis siswa yang tak boleh diacuhkan. Ada juga latar belakang keluarga yang mesti menjadi catatan penting sang guru. Belum lagi kondisi finansial dan tempat serta teman bergaul siswanya. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang baik antar seisi ruangan itu. Guru dan siswa. Penerima pelajaran dan pengajar.

Sampai di sini. Entah mengapa masih ada yang berkecamuk. Dalam "profesi" ini, saya belum seperti itu. Masih jauh perjalan mencapai makna guru. Bahkan ada perasaan "kecil", saat ucapan selamat hari Guru itu mengalir ke saya. Dari jejaring sosial maupun pesan singkat. Saya mempertanyakan ke"layak"an itu. Jelas. Saya belum layak. Dan maaf untuk penerimaan ucapan selamat yang tertunda itu..

You Might Also Like

0 komentar