Zero Apa Menang....

Win Or Lose
Gambar: thequestforit.com
Titik nol. Permulaan atau mungkin kegagalan. Tidak ada apa-apa atau tidak menjadi apapun yang dituju. Zero apa menang adalah masa yang saat ini saya lalui. Memulai melakukan sesuatu yang baru, iya. Namun, belum tau dengan hasilnya kelak.

Zero apa menang juga dapat diartikan sebagai upaya untuk membuat diri saya sadar tentang sesuatu yang saya lakukan kini. Sudah memulainya, namun hasilnya nihil.

Zero. Titik nol yang saya maksud adalah saat saya berupaya menghilangkan ketakutan saya terhadap air, padahal saya sangat menyukai laut dan yang berkaitan dengannya. Memandang laut itu menenangkan. Menyentuh pasir di pesisir pantai itu mengasikkan. Bercengkarama dengan air laut itu sangat menyenangkan. Namun, dalam kondisi menyenangkan itu saya selalu was-was saat berada di dalam air.

Menangani ketakutan dengan air yah satu-satunya cara dengan menghadapinya. Ahhh, ini bukan pilihan gampang, saya sungguh benci itu. Tetapi ada sisi dimana saya merasa mesti membunuh ketakutan itu. Entah mungkin suatu saat, ketakutan ini bisa saja membunuhku. Penanganan yang saya pilih untuk menghilangkan ketakutan saya, yah dengan belajar berenang. Tentu hanya ini pilihannya.

Keputusan untuk belajar berenang ternyata tidak semudah itu. Awal mula saat melihat air di kolam tempat saya belajar [bahkan saat curhatan ini ditulis, saya masih belum bisa berenang :( ], saya selalu merasa ketakutan. Padahal saya didampingi dengan seorang guru yang berkompeten. Kalau pun tidak, saya pasti dalam pengawasan teman saya yang lain. Ahhh, ternyata saya masih penakut untuk mengakhiri ketakutan saya. Ditambah lagi dengan beberapa kesibukan, pertemuan saya dengan kolam semakin berkurang. Mestinya saya rajin ke kolam, yah minimal membasahi tubuh saya dengan air kolam, sekiranya ketakutan saya memuncak. Itu salah satu saran dari guru saya.

Berbicara tentang guru saya. Hmmm, saya mungkin masuk dalam daftar siswinya yang badung. Saya sering bolos, kadang nyegel kalau diberi instruksi, dan tidak menunjukkan perkembangan. Saya cukup malu untuk bertemu dengan guru saya sekarang, bahkan hanya untuk mengirimkan pesan ke dirinya.

Masih tentang guru saya. Mestinya saya belajar dengan sungguh-sungguh karena memiliki guru yang berkualitas dan baik. Saya hanya tidak bisa membayangkan bertemu dengan guru killer, dimana saat bertemu dengan air, saya mesti perang psikologis dengan trauma saya. Di sisi lain, saya juga mesti perang bathin dengan guru saya yang killer. Namun, saya justru mendapatkan guru yang sabar.

Zero apa menang pada kondisi saya kini belum bisa ditentukan hasilnya. Entah apakah kelak saya masih hanya akan menikmati laut sebatas pinggang saya dan terbelenggu ketakutan (zero). Ataukah saya berhasil berenang dengan perasaan yang nyaman dan berteman dengan air dalam arti yang sebenarnya (menang)....

You Might Also Like

0 komentar