Yang Tidak Bisa Saya Sebutkan Namanya

Sabtu malam. Melewati malam minggu kali ini dengan tidak biasa. Bersyukur pada akhirnya seorang guru meluangkan waktunya, mengajari saya tentang banyak hal yang bermanfaat.  Latar belakangnya dalam dunia jurnalis yang seabrek itu, meyakinkan saya akan kualitasnya. Pertemuaan saya dan guru saya yang baik hati ini, bermula dari sebuah kontes menulis tentang hukum di tahun 2008. Bedanya, saat itu dan sampai sekarang, saya masih menjadi penulis pemula, sedangkan guru saya iu sudah menjadi editor pada portal p2kp.org atau pnpm-perkotaan.org bahkan sejak tahun 2005. Sebelumnya, guru saya ini pernah makan asam garam dunia jurnalis di salah satu media cetak harian selama 2 tahun. 

Dalam kontes itu juga, saya tidak hanya menemukan guru, tetapi juga sahabat. Bahkan saya menemukan spirit booster saya yang selalu membuat hati saya galau. Wanita ini selalu memporak-porandakan hati saya dengan semua yang berbau Korea. Namun, seperti koin dengan 2 sisi. Saya justru termotivasi dengan rentetan impian-impiannya. Dirinya tidak hanya membuat list impiannya, tetapi berani mewujudkannya.

Masih berkaitan dengan perlombaan menulis, ada seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara, bahkan kedua orang tuanya pun resmi menjadikan saya anak bungsunya. Tanpa dirinya, saya tidak mungkin mengenal guru saya dan spirit booster saya. Bahkan sampai sekarang pun, dirinya masih senantiasa ikhlas direpotkan oleh diri saya yang banyak maunya ini, terutama untuk masalah makan-makan. Dialah orang yang mengajak saya mengikuti perlombaan itu. Memotivasi saya. Mengingatkan saya tentang impian Mama saya. Terima kasihku. 

Dan masih banyak orang-orang spesial yang saya temukan. Ada pemimpin RWH yang darinya saya belajar untuk senantiasa survive dalam mengarungi kehidupan ini. Darinya pula saya melihat sosok perempuan Indonesia yang pekerja keras dan cerdas. Dan ada masa dimana dirinya begitu memahami saya saat deadline tulisan di depan mata, sementara Mama saya sedang sakit. Pun bahkan saat Mama tiada, dirinya bersama para anggota RHW menunjukkan ucapan bela sungkawa yang terdalam.

Masih ada sahabat saya yang sampai sekarang sukanya berpetualang, meski sudah punya seorang putra yang lucu. Ibu muda ini pecinta sejarah banget. Ada pula seorang dosen cantik yang diam-diam saya kagumi kecerdasan dan keanggunannya. Juga ada si pemilik suara seksi dan jambul yang menawan itu. Dia yang akhir-akhir ini justru membuat saya iri dengan hasil memotretnya saat menjelajah di beberapa daerah di Indonesia. Dia yang sampai sekarang belum menentukan pilihannya, untuk menjadi follower saya di jejaring sosial berikon burung biru itu.

Ada juga seorang guru teladan asal Nganjuk yang keberadaannya sekarang saya tidak ketahui. Melaluinya saya mempelajari betapa giatnya dirinya menulis. Jadi ingat dia berjuang mati-matian mencari warung internet untuk mengirim tulisannya atau hanya sekedar mengecek hasil diskusi grup RHW di milisnya.

Terakhir, saya juga punya seorang Daeng. Saya menemukannya tidak di kontes menulis itu. Daeng saya ini sebenarnya membuat saya iri dengan kemampuannya. Dia mengetahui banyak hal, dimana seharusnya saya wajib mengetahuinya karena itu disiplin ilmu saya.  Ini iri yang membuat saya malu. Ini iri yang positif.

Dan inilah orang-orang yang membuat saya senantiasa bersyukur. Mereka adalah orang-orang yang saling memberi manfaat satu dan lainnya. Membuat saya melihat banyak hal. Mereka yang tidak bisa saya sebutkan namanya. Ini bukan kisah si Harry Potter. Mereka hanya terlalu berharga, andai saja hanya dituliskan namanya.....

You Might Also Like

4 komentar