Pembeli Adalah Raja, Masihkah?

Nampaknya slogan 'pembeli adalah raja' belum betul-betul tersiar atau diaplikasikan di negeri Merah Putih ini. Entah, dari sisi yang menjajakan dagangan atau pun dari pihak pembeli sendiri. Keduanya kadang masih saling acuh. Kesadaran mereka akan hubungan istimewa yang temporal itu justru hanya menyisipkan sesedikit mungkin perasaan.

Penjual. Sebagai pihak yang menawarkan barang, kadang ditemui dengan angkuhnya menolak tawaran pembeli yang datang meminta nominal tertentu. Para penjual ini tentunya tidak salah. Ada dapur yang mesti mengepul. Ada anak yang butuh biaya sekolah. Ada impian yang masih dalam proses pencapaian. Ada pajak dan biaya sewa yang semakin lama kian menggila tarifnya. Bahkan untuk skala 'pasar', ada preman pasar yang masih 'mengais dengan sok gagah' kepada pejuang ekonomi kelas bawah ini (penjual).

Pembeli dan Modalnya
Sumber : jokosusilo.com


Pembeli? Jangan ditanya. Setiap dari kita senantiasa berpotensi jadi pembeli. Hanya dengan modal duit dan rincian hal yang diinginkan. Ini tentu berbeda dengan penjual, karena Anda butuh modal uang yang tidak sedikit, perencanaan yang matang, dan tentu potensi serta semangat menjual yang membara.

Bukan. Bukan ini yang mau dikaitkan dengan slogan 'pembeli adalah raja'.

Yang terjadi pada sebagian besar penjual di negri kita adalah senantiasa angkuh karena pengunjung pasti akan selalu datang ke tempat mereka. Sampai-sampai untuk masalah 'pelayanan' yang semestinya adalah prioritas utama justru terabaikan. Semisal; tidak sedikit penyaji kuliner yang peralatan makannya sudah cacat seperti pecah di bibir piring atau mangkoknya. Lain lagi dengan tragedi rambut yang numpang eksis di antara menu pesanan tamu. Kasus pesanan tertukar atau pesanan sangat lama tiba ke pengunjung bahkan menjadi hal biasa. Namun, untuk kasus kamar mandi yang tidak bersih, sungguh disayangkan jika masih dimaklumi oleh para pelanggan.

Seorang pembeli mestilah sadar. Harga masakan yang dipesannya itu sudah termasuk dengan kualitas pelayanan dari pihak penjual, kelengkapan alat makan, kebersihan toilet, serta keramahan pelayan dan penjualnya. 

'Pembeli adalah raja' sekiranya masih milik negara-negara yang betul-betul paham bagaimana semestinya memperlakukan tamunya. Ini juga masih dimiliki resto yang merujuk kepada negara-negara tadi. Untuk penjaja makanan biasa juga dapat ditemui. Namun, sayang karena masih lebih banyak yang tidak memahaminya.

Kesadaran akan slogan ini juga tidak berujung agar pembeli menjadi angkuh atau melakukan hal yang semaunya. Hanya saja, slogan ini justru dapat dijadikan alasan untuk penyadaran tentang betapa pentingnya peningkatan kualitas pelayanan, bahkan untuk segala sektor. Ini tidak hanya untuk 'pembeli' dalam makna harfiah. Ini dapat berarti bagaimana perilaku atau pelayanan seseorang kepada yang lainnya. Bagaimana seharusnya sebuah balai kesehatan agar sangat manusiawi dalam melayani pasiennya atau para pegawai sipil yang bertugas menangani administrasi tertentu, apalagi bagi mereka yang berkecimpung dalam 'penjualan jasa' tertentu.
#Tulisan ini juga merupakan peringatan kepada diri saya sendiri dalam objek yang berbeda...

You Might Also Like

0 komentar