Obral, Lebih Dari Sekedar Mantra

Entah sejak kapan dimulai tradisi ini. Obral. Toko-toko melakukannya. Tidak hanya market yang menjajakan pakaian sebagai kebutuhan sekunder yang universal. Untuk menyentuh dengan lembut hari para ibu-ibu, pihak toko pun selain memberikan potongan harga, juga akan dengan suka cita memajang segala model terbaru kebutuhan rumah tangga. Mulai dari toples, cangkir, gelas, atau mungkin peralatan memasak. Ini lebih dari sekedar terlihat up to date. Gengsi barangkali. Prestise juga mungkin.


Potongan harga ini juga merambat ke dunia fashion. Pakaian dan teman-temannya. Bisa dipastikan pada setiap perayaan hari raya besar umat Islam dan Kristen, kegiatan meng-obral wajib dilakukan. Pun saat akan terjadi pergantian tahun. Untuk bahasa 'cuci gudang', bisa dipastikan hal ini tidak akan dilakukan serentak. Para pemilik toko akan sangat jarang merayakan pesta cuci gudang di seluruh outlet yang mereka miliki. Item tertentu bisa jadi.
Obral
Sumber : blogspot.com


Kesemua barang hasil obral tadi disentuh calon pembeli dengan satu harapan mulia. 'Memiliki barang bagus dengan harga minim'. Kalau rumus itu digunakan pada seorang anak yang sedang dalam proses belajar, nampaknya tidak akan berhasil. Jika saja anak tersebut hanya diberikan waktu sedikit untuk belajar, lantas sang orang tua mengharapkan hasil yang maksimal apakah mungkin? Ah, mungkin analogi ini tidak berhasil menggoyahkan iman calon pembeli yang tetap istiqamah mencintai 'obral'. Bisa saja.
Tak terkecuali pakaian atau pun semua yang diobral itu. Tidak jarang para pembeli memilikinya dengan tujuan agar terlihat tidak out of date mengenai masalah pakaian misalnya. Atau agar peralatan masak yang mereka gunakan selalu mendapat ungkapan 'paling baru yah'. Ah, obral betul-betul lebih dari sekedar mantra. Obral mampu menyentuh sisi kemanusiaan terdalam manusia. Penghargaan. Untuk wilayah pergaulan yang suka memanjakan visual-nya. Barang atau benda yang terbaru akan mendapat badges 'keren'. Lebih dari itu semua kelas atau strata sosial seseorang kadang dipertaruhkan di sini. Penghargaan menjadi piala dari semuanya.

Dengan harga yang miring, pihak toko sangat banyak mendapat keuntungan. Selain secara nyata mampu menghipnosis para calon pembeli yang awalnya hanya wara-wiri. Kini sudah mulai menggenggam satu atau dua helai calon barangnya sebelum pada akhirnya barang-barang itu akan bernostalgia denga sang kasir, lalu terjadilah adegan perpisahan dengan suka cita pada kedua pihak. Kasir dan barang. Pembeli dan pihak toko.

Sisi lain dari ritual 'obral' ini adalah keramaian. Calon pembeli yang membludak membuat setiap toko senyum sumringah. Namun, space untuk bernapas dengan lega bisa dipastikan berkurang. Toko akan penuh sesak. Orang-orang pada berdesakan. Kemungkinan terjadi tindak kriminal terbuka. Tidak hati-hati, barang-barang berharga atau uang bisa saja lenyap. Bahkan moment padat merapat di waktu program obral berlangsung, juga dimanfaatkan bagi tipikal 'rajin menjamah'. Bagi pria yang suka senggol sana-sini gratis, pasti menyukainya.

Efek terdahsyat yang dirasakan orang banyak saat obral, di luar calon pembeli, pembeli, dan pihak toko. Banyaknya manusia yang fokus pada satu titik pusat perbelanjaan pada akhirnya mampu mengganggu kelancaran lalu-lintas di beberapa jalan secara temporal. Bahkan saat penggemar obral ini diam. Mendiamkan kendaraan mereka di area parkir tentunya.

Sungguh, obral jelas lebih dari sekedar mantra. Membuat orang membuang kenyaman dan memilih berdesakan. Melalui jalan yang jauh dan waktu yang lama, hanya untuk pusat perbelanjaan tertentu. Ada juga yang tidak mengubris dimana mereka mengistirahatkan kendaraan mereka, sehingga justru menguapkan kenyamanan berkendara orang banyak. Itulah OBRAL! Tertarik? Silahkan. Menolak? Itu pilihan Anda.

You Might Also Like

0 komentar