Ramadhan Kali Ini

Ramadhan Mubarak
Sumber : Blogspot.com

Ramadhan.

Bulan mulia ini senantiasa menjadi bulan yang sangat dinanti hampir seluruh umat muslim di belahan bumi manapun. Tak jarang setiap dari kita memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulanNya ini. Hal yang paling sering yakni menyalakan petasan pada hamper setiap malamnya bagi anak-anak. Masih ingat sewaktu kecil, mama saya memuliakan kedatangan bulan ini dengan mengganti semua horden jendela dan pintu, seprei tempat tidur, bersih-bersih setiap ruangan, dan merapikan perabot rumah. Pada saat sahur pertama pun, mama selalu memasak makanan enak kesukaan kami. Boleh sesuai request-an penghuni rumah atau cukup mama yang menentukan menunya, tapi dijamin enak. Bagi saya, tidak satu pun masakan yang mama buat tidak enak.

Hal-hal seperti itu cenderung tidak pernah saya lakukan setelah kepergian mama. Yah mungkin karena saya tidak setelaten mama. Pun juga saya masih selalu merasa sedih jika melakukan sesuatu yang berkaitan dengan mama.

Ramadhan setelah kepergian mama hampir membuat saya kehilangan adat untuk memuliakan bulan yang agung ini. Bagaimana bisa saya begitu menganggapnya biasa sementara Rasulullah saya memuliakannya dengan ibdaha yang tiada henti. Bukan karena saya tidak memahami dan tidak mau memuliakan bulan itu yaa Rabb. Saya hanya masih belum mampu melaluinya.

Pagi tadi ketika tidak sengaja melihat tayangan infotainment di televisi, saya melihat berita tentang istri almarhum Ustadzx Jefri yang sedang berziarah ke makam beliau. Yang terlintas di hati saya hanya betapa sedihnya melalui Ramadhan pertama tanpa orang yang kita sayangi dan cintai. Berat. Bahkan bagi saya, sampai saat ini pun itu masih terlalu berat. Bukan. Bukan berarti itu tidak bisa dilalui. Nyekar pun tidak pernah saya lakukan di awal Ramadhan, itu seperti menambah kepedihan yang saya lalui. Saya lebih memilih nyekar di bulan-bulan lain. Nyekar sendiri. Sendiri bertemu mama dan bapak. Sendiri menceritakan betapa saya kini masih menjadi anak bandelnya beliau-beliau.

Dalam Ramdadhan bahkan hatiku pernah dipenuhi keirian melihat orang-orang di sekitarku. Mereka masih bisa berkumpul bersama dengan keluarga mereka. Saat sahur, ada ibu yang datang dan membangunkannya. Saat sore tiba, ada ayah yang akan menanyakannya tentang menu yang diinginkannya untuk berbuka. Sungguh. Saya iri. Tapi kemudian saya tersadar. Saya sadar bahwa ketika Tuhan memutuskan memeluk mama dan bapak dalam pelukanNya. Tuhan masih menyediakan saya orang-orang yang senantiasa merangkul saya, menangani keegosian saya, melayani kemanjaan dan kebawelan saya, bahkan dengan sabar mereka selalu menasehati saya. Tuhan masih sayang dengan saya. Tuhan mengirimkan saya sahabat dan saudara yang tiada henti khawatir saat saya diketahui sakit. Tuhan mengirimkan saya orang tua dari sahabat dan saudara saya. Mereka dengan ikhlas berbagi kasih dengan saya. Ibu-ibu mereka dengan tulus memasakkan saya, sehingga saya bisa lagi merasakan masakan dari tangan ibu. Mereka meminjamkan ayah mereka untuk saya.

Ramadhan.


Saya punya harapan di Ramadhan kali ini. Saya hanya ingin melaluinya dengan hati yang tenang. Tidak merasakan sedih dan kesepian.

You Might Also Like

0 komentar