Mendadak Ngebun

Deretan Lidah Mertua dan Pandan Wangi
Lihat kebunku
Penuh dengan bunga
Ada yang merah dan ada yang putih
Setiap hari
Ku siram semua
Mawar melati
Semua indah….


Lagu Lihat Kebunku mungkin menjadi lagu favorit saya sekarang. Mendadak. Di antara padatnya orang yang sedang memfokuskan waktu untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Saya sendiri tiba-tiba ingin berkutat dengan teras rumah yang memiliki halaman kecil. Saya terusik. Sampai beberapa hari lalu, teras itu masih saja berantakan. Beberapa pot kosong dan pot yang hanya berisi tanaman semi hidup, nama halus dari sekarat bagi tanaman saya.
Pemanfaatan Botol Bekas Untuk Menanam
Mendadak. Itulah sebutan yang tepat untuk kondisi saya kini. Awalnya hanya niat merapikan lemari. Entah angin apa sampai saya mau repot-repot urus halaman depan rumah yang mungil itu. Halaman saya hanya ditumbuhi sekitar 5 -8 jenis tanaman saja. Pot-pot hampir di isi dengan jenis tanaman yang sama. Yah, saya sangat menyukai jenis tanaman Lidah Mertua. Tumbuhan jenis ini paling baik itu ruangan yang dihuni oleh perokok. Pun Lidah Mertua menurut hasil pencarian saya, menyumbang  jasa yang besar untuk menangani polusi. Polusi? Sebagai pengguna pribadi kendaraan roda dua, saya berhutang pada alam. Mungkin dengan menanamnya, setidaknya saya dapat menyicil untuk melunasi untang hasil karbon saya yang kemungkinan tidak akan pernah lunas. Kalau untuk masalah asap rokok. Saya tidak merokok. Tapi saya punya teman dan sahabat yang merokok. Setidaknya lagi, asap itu saya bisa netralkan dengan kehadiran si bintang pujaan saya, Lidah Mertua.

Beberapa Pot Yang Telah Dijamah Dan Ditata Kembali
Setelah memutuskan untuk terjun ke dunia taman-menanam. Bersamaan dengan itu saya juga memutuskan untuk menggunakan bahan bekas. Saya pikir menggunakan barang bekas seperti botol atau toples atau kaleng cat itu seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Saya menanam. Saya menyelamatkan sampah bekas. Pahlawan kesiangan mungkin. Yah setidaknya sesuai dengan saya yang sering hidup nanti saat siang hari tiba.

Niat saya untuk mulai menanam diawali dengan konsultasi dengan seorang kakak perempuan. Perempuan yang sepengetahuan saya dirinya cukup ahli di bidang ini. Hasil konsultasi keluar, saya mesti membeli pupuk campur dan sekam. Sedangkan hasil konsultasi ke diri sendiri membuat saya menghubungi teman-teman saya untuk memberikan botol bekas atau toples bekasnya ke saya. Selebihnya saya mengaisnya.

Pupuk Campur dan Sekam Sebagai Bahan Tempur Menanam
Membeli pupuk campur dan sekam tidak sehoror yang saya pikir. Saya hanya cukup datang ke penjual pupuk. Bertanya apa yang saya cari, boleh juga sekalian bertanya campuran apa yang baik untuk acara menanam saya nanti. Keluarkan duit. Bayar belanjaan. Pupuk campur dan sekam sudah berada di atas motor kesayangan. Transaksi selesai. Leganya. Dahulu saya mikirnya pupuk-pupuk itu bakal berceceran kemana-mana hingga membuat saya kotor atau pupuk itu mengeluarkan aroma khasnya sendiri. Ternyata tidak. Senangnya. Harga pupuk campur juga terbilang murah, hanya berkisar Rp. 10.000 per karungnya, sedangkan untuk sekam berkisar Rp. 5.000 untuk seplastik ukuran kecil.
Pot Berisi Pupuk Campur dan Sekam

Berhasil membeli hal yang dibutuhkan. Kini masa untuk menjarah botol bekas dan tanaman orang-orang di sekitar. Cukup pasang muka manis. Suara dengan nada rendah. Senyum-senyum dikit.
Misi saya yang lain yaitu hunt tanaman keinginan saya. Saya cukup fans berat dengan melati, pandang wangi dengan daun yang berukuran kecil dan serai. Misi pencarian melati di mulai di kantor JURnal Celebes. Selama ini saya suka ileran liat pohon melati di kantor itu. Akhirnya, saya bisa meminangnya untuk dibawa pulang beberapa batang. Dan Tuhan pun tampaknya merestui pencarian saya. Perjalanan pulang dari JURnal Celebes menuju rumah.  

Halaman Depan Yang Sedang Dirapikan
Saya berjumpa Pandan wangi yang sedang berjejer eksotik di pekarangan rumah orang. Penuh percaya diri, saya juga melakukan pelamaran untuk meminta Pandan ikut menetap di halaman rumah saya. Misi sukses. Saya sungguh bahagia.

Masih tentang tanaman. Tetangga saya, seorang ibu yang baik hati, memberikan saya beberapa jenis tanaman yang selama ini di peliharanya. Impian memiliki botol bekas pun diwujudkan oleh teman mengajar saya. Toples tak terpakai saya raih dengan mengutak-atik lemari perlengkapan dapurnya Mama. Hal yang saya cari ketemu. Kebahagiaan saya bertambah.

Hidroponik Perdana Primitif Buatanku Menggunakan Arang Sekam
Tidak berhenti sampai di situ. Sebagai seorang pemula di dunia tanam-menanam. Saya yang sangat amat super awam ini memutuskan untuk bersua dengan search engine sejuta ummat, mbah Google. Melalui mesin pencari, ini saya mencari modifikasi botol bekas untuk menanam. Hal menarik yang saya temukan justru tentang penanaman dengan cara hidroponik dan aquaponik. Tapi tunggu dulu, mereka terlalu rumit dan mahal. Hufttthh. Niat saya menyurut perlahan. Untung si mbah menawarkan cara yang lebih sederhana. Segera saya langsung mencari tahu lebih lagi. Alhamdulillah, akhirnya menemukan cara sederhana dan yang paling saya sukai adalah murah karena menggunakan bahan bekas.
Aquaponic 'Paksaan' Buatanku Dengan Seekor Ikan Bitte

Saya berharap keinginan memiliki hoby baru ‘menanam’ ini tidak lewat begitu saja. Bagaimana tidak menyenangkan dapat melihat tanaman tumbuh, memetik hasilnya sambil mendaur ulang barang-barang bekas.

Ayo semangat yah diriku….




Tulisan ini juga dimuat pada readersblog.mongabay.co.id

*Foto : Surya R. Labetubun

You Might Also Like

0 komentar