Karena Berbeda Lantas Mengapa?

Beda Warna
Sumber : Blogspot.com
Again. Ramadhan di tahun ini diliputi oleh warna-warni dalam mengawali jatuhnya hari perdana puasa. Bagi golongan Nahsabandiyah maupun An-Nadzir. Mereka sesuai dengan dasar masing-masing, sepakat memulai puasa pada hari Senin. Golongan Muhammadiyah? Mereka sepakat memulai shalat tarwih pada malam Selasa. Nahdatul Ulama, bagaimana? dan apa kabar pemerintah? Keduanya karena hilal belum tampak, maka puasanya akan berlangsung pada hari Rabu.


Kenapa berbeda? Pertanyaan ini banyak terlontar, apalagi jika melihat bahwa pada dasarnya kesemua golongan ini melekat pada 1 aliran utama, agama Islam. Kesadaran kita tentang keragaman sedikit banyak mesti dikembangkan dan dipelihara. Kesemua golongan tersebut punya landasan masing-masing, berdasar pada fiqih dan metode perhitungan yang mereka tempuh.

Wacana perbedaan ini sudah lama didengungkan. Kita tidak perlu kaget atau tampak syok. Santai saja. Sikap yang perlu kita tunjukkan, yakni bagaimana kita memandang perbedaan sebagai sesuatu yang lumrah. Itu saja. Tidak mau berbeda? Itu tentunya pilihan yang sulit. Negara ini isinya orang-orang yang memiliki aneka ragam pemahaman. Tidak suka? Pindah negara saja. Terbersit untuk menyamakan keragaman ini? Apa Anda lupa bahwa dasar negara kita, Bhinekka Tunggal Ika yang secara tegas menyatakan bahwa bumi merah putih dipenuhi dengan begitu keheterogenan manusia-manusianya. Atau hak apa yang Anda miliki hingga merasa apa yang Anda percaya menjadi sebuah kebenaran, sehingga menjadi penting untuk membuat orang lain ikut kepada Anda. Punya landasan? Tunggu dulu, orang-orang itu pun punya landasan. Lantas, kalau kita berbeda, mengapa? Terima saja. Peluk perbedaan itu.

Saya memiliki keluarga yang cukup heterogen. Sepasang tante dan oom yang beraliran An-Nadzir. Sepasang tante dan oom beserta anak sulung mereka yang Muhammadiyah sementara anak bungsunya selalu mengikuti jadwal puasa dan lebaran yang dikeluarkan pemerintah. Saya sendiri? Ayah saya orang Nahdatul Ulama. Ibu saya sebelum wafatnya memiliki fahaman yang hampir menyerupai Muhammadiyah. Saya juga punya pahaman sendiri tentang agama yang salah pilih.

Berbeda. Kami memaknai perbedaan itu diawali dengan penuh tanya dan terkadang dengan rasa emosi. Betapa merasa keluarga akan pecah ketika perbedaan muncul. Sejalan dengan berjalannya waktu, akhirnya kami sadar bahwa menerima jauh lebih indah ketimbang saling tuduh mana benar atau salah. 

Ramadhan dan lebaran selalu saja menjadi hal menarik di keluarga kami. Jika keluarga yang lebaran duluan, mereka akan menunggu sampai pada sanak saudara yang lebaran paling akhir. Saat lebaran paling akhir inilah baru semua keluarga mulai bersilaturrahim. Bagi kami, kapan pun awal puasa dan jatuhnya lebaran itu hal prinsipil dan biasa. Tidak mesti berakhir di meja diskusi.

Kenapa kita tidak fokus bersama untuk terkesan lebih kritis pada orang-orang yang tidak mau berpuasa ketimbang mengurus perbedaan memulai puasa. Kita mungkin telah salah fokus. Perbedaan itu sunnatullah. Perbedaan sudah diprediksi Rasulullah. Menanggapi perbedaan pun sudah disabdakan Tuhan. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. See. Jelas bukan. 

Berbeda? 
Ah, lantas mengapa jika berbeda....

You Might Also Like

0 komentar