Inilah Wajah Puskesmas Pattingaloang

Diskusi Reguler Jurnalis Warga Di Puskesmas Pattingaloang
Sumber : www.facebook.com
Pada diskusi reguler Jurnalis Warga yang berlangsung pada hari Sabtu (22 Juni 2013), kegiatan tersebut dilaksanakan di puskesmas Pattingaloang, kecamatan Ujung Pandang, kelurahan Pattingaloang Baru. Puskesmas yang terletak di kawasan pesisir ini beroperasi untuk membantu sekitar 25.000 anggota masyarakat, berdasarkan data kantor kecamatan dengan jenis kasus penyakit yang cukup beragam.

Puskesmas Pattingaloang merupakan satu dari sekian badan publik yang dengan jelas memaparkan prosedur yang mesti dilalui pasien dengan mencantumkan alur pelayanan pengelolaan pengaduan pelayanan serta alur pelayanan pasien rawat jalan dan rawat inap dalam bagan yang dapat dilihat oleh pengunjung. Selain dari itu, pihak puskesmas juga memberikan informasi jadwal pemeriksaan, grafik jenis penyakit yang paling banyak diderita masyarakat, data kegiatan bias, gambar tentang perkembangan pasien yang mengalami kelumpuhan menyelam, struktur organisasi puskesmas, dan menyediakan kotak sebagai respon dari pelayanan yang diberikan pihak puskesmas.
Bagan Alur Pelayanan Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap
Sumber : Pribadi

Kotak Respon Untuk Pengunjung
Sumber : Pribadi

"Setiap harinya pihak puskesmas menangani sekitar 200 orang pasien yang datang berobat. Dimana hari Senin dan Sabtu, jumlah tersebut bisa membludak," ujar Pelaksana Tata Usaha Puskesmas Pattingaloang, Ahmad.

Pihak puskesmas juga mengalokasikan waktu untuk jenis pelayanan tertentu. Jadwal pemeriksaan ibu hamil dilakukan pada hari Rabu dan Sabtu, sedangkan untuk pelayanan imunisasi dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Selain itu adanya beberapa fasilitas yang dimiliki pihak puskesmas sangat membantu dalam pengoperasiannya, seperti adanya ruang fisioterapi dan laboratorium sederhana. Untuk laboratorium, pihak puskesmas pada akhirnya akan mengirimkan sampel ke puskesmas Tabaria.

Ruang Laboratirium Puskesmas Pattingaloang
Sumber : Pribadi
Ruang Fisioterapi Puskesmas Pattingaloang
Sumbe : Pribadi
Ahmad menjelaskan, "Puskesmas ini memiliki ruang fisioterapi untuk menangani anak-anak yang tidak mampu berjalan normal atau untuk anak-anak yang lambat perkembangan jalannya. Selain dari itu, terapis kami juga membantu pasien yang sedang mengalami kelumpuhan. Pasien-pasien kami telah diberikan jadwal khusus dalam menjalani terapinya."

Penanganan beberapa penyakit dilakukan secara serius oleh pihak puskesmas Pattingaloang, ini dapat dilihat dari kerja sama para kader dan pihak puskesmas dengan terus melakukan evaluasi secara berkelanjutan.

"Bersama dengan para kader, pihak puskesmas melakukan kunjungan rumah terhadap para pasien untuk mengetahui ada tidaknya perkembangan yang dialami pasien. Upaya lain yang ditempuh dalam memaksimalkan kinerja puskesmas, yakni sebulan sekali diadakan pertemuan antar kader dan pihak puskesmas untuk membahas kinerja puskesmas," ucap Ahmad.
Papan Struktur Organisasi Puskesmas Pattingaloang
Sumber : Pribadi

Papan Visi dan Misi Puskesmas Pattingaloang
Sumber : Pribadi

Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pihak puskesmas, jenis penyakit dengan angka penderita tertinggi yang tercatat di puskesmas Pattingaloang adalah penyakit ISPA atau infeksi gangguan pernafasan. Terdapat pula catatan tentang penangan pasien yang mengalami kelumpuhan menyelam.

Ahmad mengatakan, "Puskemas Pattingaloang juga menangani kasus kelumpuhan menyelam yang dialami nelayan dengan sistem RBM atau rehabilitasi bersumber masyarakat. Ada beberapa dari penderita telah dapat berjalan lagi seperti dahulu."
Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pattingaloang
Sumber : Pribadi

Papan Data Kegiatan BIAS Puskesmas Pattingaloang
Sumber : Pribadi

Dikemukakan Ahmad bahwa untuk menangani beberapa kasus penyakit, pihak puskesmas memiliki kendala tersendiri. Untuk kasus penyakit HIV misalnya, maka dilakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitar. Namun, penyakit malu yang diidap masyarakat justru menjadi faktor utama sehingga pendataan dan penanganan terhadap penderita mengalami kendala. Pro aktif dari pihak masyarakat, para kader, dan pihak puskesmas diharapkan dapat mengatasi hambatan tersebut. 

Ahmad menegaskan, "Mengenai penyakit seksual seperti HIV.  Hambatan utama karena masyarakat masih terlalu malu untuk mengakui hal tersebut. Bahkan tidak sedikit yang merasa hal itu adalah aib, apalagi jika ada orang lain yang mengetahuinya."

You Might Also Like

0 komentar