Hembuasan Kerinduan Dalam Lontara Rindu

Sumber Gambar : karyaflp.net
Novel ini berkisah tentang Vito dan Vino, saudara kembar yang tidak tinggal seatap sejak usia mereka terbilang belum menyentuh remaja. Perpisahan yang mesti mereka rasakan berasal dari perbedaan ideologi antara ibu dan ayah mereka. Ilham, ayah mereka adalah seorang pengikut Tolotang sejati, di sisi lain sang ibu juga merupakan muslimah yang taat.

Hidup dengan dunianya masing-masing, Vito dengan ibunya sedangkan Vino tumbuh berkembang bersama sang ayah. Keduanya, baik Vito maupun Vino menjalani kehidupan dengan kerinduan yang mendalam. Vito justru merasakan kepedihan yang sangat mendalam. Dirinya tidak diperkenankan mengetahui segala hal yang berkaitan tentang ayahnya.

Ibu dan kakeknya berhasil mengunci 'sejarah tentang ayahnya' serapat mungkin. Bagi Halimah, ibunya Vito, kisahnya bersama Ilham di masa yang lampau mampu memberi bekas luka yang begitu dalam. Tidak hanya bagi dirnya tapi juga bagi ayah Halimah.

Dalam pencariannya, Vito menjalani hari-harinya bersama teman-temannya di sekolah dengan penuh suka-cita. Mereka bahagia dapat mengenal pak Amin, guru yang selalu mampu memberi 'pemaknaan' tentang kehidupan, membimbing mereka dengan kearifan lokal yang mampu ditafsirkannya sesuai masanya dan mengajarkan murid-muridnya untuk istiqamah berpegang teguh pada ajaran Islam, tidak hanya sebagai sebuah pengakuan dalam kalimat syahadat.

Melainkan membuat mereka memahami betapa Islam memang jalan yang mampu membimbing mereka. Pun juga ibu Maulindah, guru wanita yang satu-satunya sarjana di desanya ini menjadi teladan betapa niat dan kerja keras mampu membuat kita menjahit sayap bagi diri kita sendiri untuk meraih impian kita di atas sana.

Peta Kabupaten Sidenreng Rappang
Sumber : blogspot.com
Novel yang mengambil latar tempat di desa Cenrana, Panca Lautang, Sindenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan ini memperoleh penghargaan terbaik pertama dalam "Lomba Novel Republika 2011". Sang penulis, S. Gegge Mappangewa dengan baik menyisipkan nilai-nilai keluhuran dalam tulisannya.

Novel ini bukan hanya berkisah tentang perjalan manusia saja. Bukan hanya tentang penderitaan atau perjuangan. Ini tentang kerinduan mendalam. Kerinduan yang tak hanya dimiliki sepasang kekasih. Namun, kerinduan ini di sisi lain ternyata mampu meneteskan air mata dari hati-hati yang terluka.

Hal yang paling menarik dari novel dengan 34 bagian ini, karena kepiawaian sang penulis dalam mengurai kisah demi kisah. Adanya penyematan sejarah 'Nenek Mallomo' tidak hanya dijadikan sebagai 'bagian yang terpisahkan'. 'Nenek Mallomo' dan bagaimana kondisi sosial budaya di tanah Bugis juga diceritakannya. Pembahasan singkat yang ditulis S. Gegge Mappangewa tentang kebudayaan orang Bugis, membuat para pembaca pada akhirnya tidak hanya membeli buku ini hanya untuk sepenggal cerita. 

Pada dasarnya novel ini mampu dijadikan sebagai tulisan yang dapat menggugah dan mencerahkan. Bagi para tenaga pengajar dan pendidik, maka novel ini menjadi layak dikonsumsi. Kisah tentang pak Amin seyogyanya tidak hanya sampai pada kisah saja, akan tetapi bagaimana pembaca mampu menyelami makna sebenarnya yang ingin disampaikan penulis.

Rumah Adat Tolotang
Sumber : pustakasekolah.com

Sebagai sebuah novel, tulisan ini memang 'bagus'. Namun, di sisi lain, beberapa hal di dalamnya perlu memperoleh perhatian. Ada bagian yang dirasakan mengalami perubahan yang signifikan atau terkadang terkesan dipaksakan. Misalnya saja, kondisi psikologis Vito yang berubah drastis dirasa terlalu dipaksakan oleh penulis.

Seberubahnya seseorang menjadi sangat berbeda itu karena sesuatu yang hebat, maka semestinya diawali dengan pergolakan bathin yang panjang dan berliku. Apalagi jika mengingat umur Vito yang masih remaja, masih labil tentunya. Dimana kebanyakan dari anak seusia itu sangat sulit menerima dan berteman dengan kenyataan. Sosok Vito yang dikisahkan berubah menjadi 'dewasa' serasa dikarbit.

Pada bagian dimana Ilham dan Halimah pada akhirnya memilih untuk silariang. Ilham berpindah keyakinan menjadi Islam dan hidup bersama Halimah. Namun sayangnya, problem mendasar dalam novel ini justru tidak dibahas mendalam. Bagaimana pada akhirnya Halimah dan Ilham berpisah dan akhirnya menimbulkan kebencian mendalam.

Bukan hanya sekedar berkisah tentang Ilham yang masih menjalankan beberapa prosesi Tolotang, tapi bagaimana perjalanan pencarian keyakinan Ilham juga patut dikisahkan. Gejolak ini yang selayaknya diwartakan dalam novel ini. Apalagi diakhir cerita dikisahkan Ilham pada akhirnya memilih untuk ber-Islam secara kaffah.


Judul buku: Lontara Rindu
Penulis : S. Gegge Mappangewa
Penerbit : Harian Republika
Jumlah Halaman : viii + 343 halaman
Ukuran : 135 mm x 205 mm
Jenis : Novel

You Might Also Like

1 komentar