Cerita Tentang Cerita


Cerita pertama
Ini tentang golongan tertentu dengan keyakinan masing-masing
Miris mendengar saat beberapa golongan justru lebih memilih memestaporakan perayaan hari Kartini atau mother day, bahkan tidak sedikit organisasi Islam justru dengan sangat mengah memperingati milad organisasinya tapi sama sekali tidak merayakan atau bersuka cita bahkan menentang perayaan Maulid nabi Muhammad SAWW

Cerite kedua
Ini tentang dunia pendidikan
Dilema senantiasa melanda para siswa, tenaga pengajar, dinas pendidikan, pengawas sekolah, utusan dari pihak universitas negri, dan sekolah pada saat pelaksanaan ujian nasional
Siswa tertekan dengan standar kelulusan, random ragam soal yang majemuk, sampai tuntutan 'lulus' dari pihak orang tua
Guru dan pihak sekolah berada pada posisi buah simalakama antara berdiam diri tapi adanya kemungkinan nilai kelulusan rendah atau ber'aksi' tapi secara sadar bahwa perbuatan itu kurang baik
Dinas pendidikan, pengawas sekolah, dan utusan dari pihak universitas negri pada sibuk urus masalah soal dan 'kerahasiaan' soal yang dipertanyakan keperawanannya

Cerita ketiga
Ini tentang si kondom
Saat kampanye tentang HIV/AIDS atau sejenisnya terkadang dilakukan 'acara' pembagian kondom secara cuma-cuma atau dengan kata lain mereka melegalkan perzinahan
Pilihan yang aneh memang, kenapa sang pembagi kondom itu tidak berfikir untuk memajukan masyarakat dari sisi 'otak'?
Bukankah tingkat pendidikan yang rendah dipandang sebagai akar-muakar masalah sosial?

Cerita keempat
Ini tentang perbedaan
Cermatilah bahwa kebanyak dari orang mau menerima pengetahuan yang ditawarkan orang lain kepadanya atau pun mengakui kecerdasan yang dimiliki orang-orang tertentu, tapi lain halnya jika bersinggungan dengan keyakinan atau ekstrimnya tentang mazhab yang dianutnya
Terkadang lebih melegakan di bumi pertiwi ini jika seseorang jelas memiliki keyakinan dengan tuhan yang berbeda ketimbang beragama sama tetapi berbeda fiqh yang dilaksanakannya

Cerita kelima
Ini tentang sesuatu yang disebut jejaring sosial
Kenyataan bahwa jejaring sosial berada pada posisi 'emas'nya kini, namun tidak sedikit dari para penggunanya yang justru memutarbalikkan keadaan, kini orang yang jauh terasa dekat tetapi orang yang berada di sampingnya terancam diindahkan hanya karena jemarinya sibuk bermain dengan layar yang menampilkan jejaring sosial tertentu
Pada kondisi berbeda, tidak sedikit user dari media sosial menjadi tidak rasional, semisal ketika merasakan lapar atau letih bahkan ngantuk, tidak sedikit dari mereka justru lebih memilih menyatakan kondisi tersebut ke dalam status mereka ketimbang memilih untuk makan jika lapar, beristirahat jika letih, atau tidur jika ngantuk

You Might Also Like

0 komentar