Berpetualang Di “Detektif Gagal Dan Dukun Gaul"

Tampilan Sampul Buku
Gambar : facebook.com
Berangkat dari kegemaran sang penulis yang suka berpetualang, akhirnya menelorkan buku setebal 247 halaman ini. Sebuah buku yang kisahnya berangkat dari jejak petualangannya bersama Kamandaka, seorang dukun yang dalam bahasa kerennya disebut paranormal yang juga merupakan personel dalam komunitas Forum Supranatural (Forsup) di sebuah komunitas cyber terbesar di Indonesia, bahkan masuk dalam urutan ketiga terbesar di dunia, yang memilki hobi menangkap kuntilanak dan seorang kolektor jin untuk dijadikannya bala tentara.

Dimana kebanyakan orang memilih berpetualang di alam bebas atau beberapa tempat rekreasi  serta wahana bermain baik indoor maupun outdoor yang menawarkan nuansa ‘petualangan’ dengan cara mereka sendiri yang bertujuan untuk menghibur diri atau mencari kesenangan, misalnya saja pada wahana di gua misteri, petualangan di sebuah area perkebunan, atau out bound di tempat rekreasi.

Debby hadir dengan seri petualangannya sendiri. Petualangan jenis ‘hiburan dan bersenang-senang’ lebih fokus pada bagaimana memancing rasa ingin tahu atau penasaran para pengunjung terhadap hal-hal tertentu juga dapat mengasah semangat ‘ingin mencoba’ dan untuk jenis tertentu dapat membina keakraban dalam permainan berkelompok atau hanya untuk acara seru-seruan saja yang dihiasi dengan aksi teriak-teriak atau terkejut yang memancing andrenalin pengunjung.

Koleksi Barbie dan Ken Kepunyaan Kamandakan
Gambar : facebook.com
Namun, apa jadinya jika petualangan itu dilakukan dengan cara berbeda dan di tempat yang tidak biasa, seperti yang dilakukan Debby Zhanng? Penulis yang pernah menjadi bagian dari sebuah proyek kumpulan cerita hukum ini adalah seorang petualang yang juga senang terjun dalam dunia per’detektif’an.

Buku seri petualangannya ini sangat menarik karena Debby dengan gagahnya melakukan perjalanan bersama akang Kamandaka dalam petualangan di dunia lain, sebut saja kisahnya di lantai 2 museum Keprajuritan Taman Mini Indonesia Indah, kunjungannya di situs Sunyaragi di Cirebon, penjelajahannya di pulau Tidung – kepulauan Seribu, petualangan ala backpacker di pantau Parangkusumo di Yogyakarta, dan masih banyak hal seru yang dapat pembaca temui di buku ini.

Meski terkesan ‘tidak masuk akal’ bagi beberapa pihak, namun pertemuannya dengan kuntilanak dan gederuwo serta sebangsanya menjadi cerita yang tak mungkin dilupakan bagi Debby. Kondisi dag-dig-dug-deer yang dirasakannya coba diluapkannya dengan caranya sendiri, sehingga tak jarang justru mengundang tawa bagi para pembacanya.

Hal inilah yang membuat buku terbitan nulisbuku.com menjadi aman dikonsumsi bagi orang-orang yang tidak begitu mencintai cerita horor. Keunikan gaya penulisan Debby mampu membuat buku ini berkisah dengan sendirinya, ini tampak seperti saat seorang ibu menceritakan sebuh kisah kepada anaknya. Tentu saja berbeda dari seri petualangan pada umumya yang selalu mengajak kita turut menjadi bagian dalam perjalanannya.

Debby Zhanng - Sang Penulis bersama Si Buah Hati
Gambar : Facebook.com
Adanya sisipan berupa sejarah daerah tertentu juga ketersediaan ruang pada akhir setiap kisahnya, digunakan sang penulis untuk menjelaskan istilah-istilah yang tidak umum di mata pembacanya, seperti penerjemahan tentang orbs, gumanthong, stalaktit, succubus, incubus, dan lainnya menjadi nilai plus buku ini. Lampiran gambar dari cerita yang dikisahkan sebagai bagian dari koleksi pribadinya justru semakin membuat buku ini semakin menarik dan layak masuk daftar MESTI BELI bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang doyan mengkonsumsi cerita gaib.

So, jangan sampai tidak memiliki buku ini dan selamat merasakan sendiri bagaimana sensasi petualangan antar dimensi ini.

You Might Also Like

2 komentar