Ada Apa Dengan May Day?




Akhirnya April telah berlalu, seperti halnya setiap bulan punya ciri khas tersendiri. Jika Januari senantiasa membuat manusia menulis dan mengucapkan segala resolusi yang diinginkan, gayung bersambung menuju bulan Februari, si bulan kasih sayang. Lantas bagaimana dengan Maret, nama yang berasal dari Mars, si dewa Perang bangsa Romawi kuno? Mungkin tidak ada hal yang khusus. Kalau begitu kita beralih saja ke bulan keempat, April. Setiap permulaan bulan ini, orang–orang suka saling mengerjai orang lain, terkadang sampai membuahkan kemarahan, itulah April Mop.

Kerusuhan Haymarket dimana polisi menembaki ratusan buruh
Gambar : Wikipedia
Acapkali memasuki Mei, orang-orang sering melontarkan kata Hari Buruh dan itulah ciri khas bulan Mei selain dari hari Pendidikan Nasional. Mendengar tentang Hari Buruh, maka akan lebih baik jika mengetahui sejarah Hari Buruh, atau yang dikenal dengan sebutan May Day. Sejarah May Day dimulai tepat pada tanggal 1 Mei tahun 1886 berlokasi di Amerika Serikat, setidaknya sekitar 400.000 buruh mengadakan demontrasi skala besar untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka dalam sehari menjadi 8 jam saja dan aksi ini berlangsung selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 1 Mei. Hingga pada akhirnya para buruh pun melakukan pawai besar-besaran pada tanggal 4 Mei yang mengundang aksi penembakan dari pihak kepolisian Amerika Serikat yang mengakibatkan ratusan buruh tewas dan pimpinan mereka ditangkap lalu dihukum mati serta para demonstran yang meninggal dikenal sebagai martir. Jauh hari sebelum 1 Mei, di berbagai negara terjadi pemogokan para buruh untuk menuntut adanya perlakuan yang lebih adil dari para pemilik modal, mereka sedang memperjuangkan harga dirinya sebagai manusia.

Berangkat dari tragedi 1 Mei itu, tepatnya pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggatakan di Paris akhirnya menetapkan peristiwa buruh di Amerika Serikat pada tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi,
“Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis”.

Pawai Hari Buruh di Jakarta Tahun 2009
Gambar : Wikipedia
Beralih dari kisah menuju ke kata May Day yang memiliki banyak pendefinisian. Secara umum May Day diartikan sebagai sinyal tanda bahaya standar internasional yang berasal dari bahas Perancis m'aidez  yang bermakna ‘tolong aku’ yang ketika disebutkan mesti dilakukan sebanyak 3 kali tanpa putus, yakni ‘mayday mayday mayday’. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan penerimaan pada sisi penerima dan juga untuk membedakan panggilan darurat yang sebenarnya dengan berita panggilan darutan.

Uniknya dalam dunia musik pun ditemukan beberapa hal yang berkaitan dengan kata May Day, yakni: 1) Sebuah band punk rock dari California San Luis Abispo, 2) Rekaman musik oleh Hugh Cornwell, 3) Judul album oleh band hardcore New York, Awkward Thought, 4) Derrick May, seorang artis Amerika Serikat yang dikenal dengan nama Mayday, dan 5) Sebuah judul lagu oleh band rock Inggris, The Libertines.  

Lain halnya dalam wilayah film dan televisi, kata May Day dapat dijumpai pada, 1) Salah satu tokoh dalam film A View to a Kill dalam sekual James Bond, 2) Sebuah film dokumenter Kanada yang secara dramatis membahas masalah kecelakaan persawat terbang yang terkenal, 3) Tokoh dalam sebuah serial televisi Amerika Serikat, Cheers, dan 4) Film tentang segelintir penumpang yang mesti mengalami pendaratan pesawat yang disebabkan karena pesawat lumpuh setelah tak sengaja dihantam rudal percobaan.

Fokus pada May Day lagi, langkah maju menuju bulan Mei, bulan yang diprediksi berangkat dari nama Maia Majesta, Dewa musim semi. Pada saat menginjak bulan ini, hampir di seluruh penjuru dunia, tepatnya pada tanggal 1, maka seluruh buruh akan berbondong-bondong turun ke jalan untuk memperingati Hari Buruh, bahkan di beberapa negara, May Day ditetapkan sebagai hari libur nasional sebagai wujud penghargaan atas usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Namun, jika memang dikategorikan berhasil untuk wilayah ekonomi dan sosial, mengapa masih ada saja buruh yang menerima gaji di bawah standar Upah Minimum Regional? Ataukah demontrasi kini justru dilakukan sebagai upaya memperjuangkan kondisi mereka?

Keikutertaan Indonesia dalam menetapkan Hari Buruh sebagai salah satu hari libur nasional setelah sebelumnya Brunei melakukannya menjadikan Indonesia sebagai negara kesembilan di ASEAN yang menetapkan hal tersebut. Menjadi pertanyaan kepada bapak pemimpin negara ini yakni mengapa baru sekarang keputusan tersebut ditetapkan? Apa mesti memilih urutan kesembilan dimana angka tersebut merupakan angka sakti dari Bapak? Adakah upaya ‘libur’ ini sebagai upaya menghindari pertemuan antara Bapak dengan para demonstran?

Demonstrasi Buruh di Kantor Gubernur Jawa Timur
Gambar : Lensa Indonesia
Di sisi lain, kepada para buruh yang memiliki satu hari yang istimewa itu, tolong pedulilah dengan lingkungan sekitar. Demonstrasi atau menyuarakan isi hati tidak dilarang tapi membuang sampah disembarangan tempat bukanlah bagian dari aksi demontrasi tersebut bukan? Lagipula mestikah acara unjuk rasanya selalu merugikan pihak pengguna jalan yang lain? Yah mungkin menjadi tepat jika Hari Buruh menjadi hari libur hingga masyarakat lain bisa memilih berdiam diri di rumah menikmati hari ketimbang mesti tertimpa macet di bawah sinar matahari yang penuh semangat menyinari bumi ini.

Apapun pembahasan yang dilakukan tentang May Day, tetaplah hari itu khusus buat para buruh, mereka tetap punya hak dalam memperjuangkan diri, harga diri, dan masa depan mereka. Namun, sekali lagi acara tutup jalan bukan hal yang mesti ditempuh, ini sama saja merugikan orang lain. Selamat Hari Buruh dan tetaplah gaungkan suaramu!!

You Might Also Like

0 komentar