Redd+ dan Eksistensi Masyarakat Adat Indonesia

Makna dan Eksistensi Masyarakat Adat
Negara kepulauan Indonesia memiliki sejarah tersendiri tentang nenek moyangnya. Namun yang menjadi catatan penting adalah nenek moyang kita berasal dari hutan, mengingat hampir seluruh daratan dipenuhi dengan hutan kala itu. Mereka menghidupi diri dengan memetik buah-buahan dan berburu binatang, lama-kelamaan mereka mengalami perubahan pola hidup, ada yang jadi nelayan atau bertani dan pada akhirnya ketergantungan penuh dengan hutan mulai berkurang atau mungkin pula mereka bermigrasi meninggalkan hutan. Mereka inilah cikal-bakal masyarakat adat yang masih hidup di masa kini.

Ketika bersinggungan dengan masyarakat adat ada hal yang perlu dikhawatirkan karena sedikit dari kita paham tentang definisi masyarakat adat. Menurut kovensi Interasional Labour Organization (ILO), 169, 1989, masyarakat adat adalah:

"Masyarakat yang berdiam di negara-negara merdeka di mana kondisi sosial, kultural, dan ekonominya membedakan mereka dari bagian-bagian masyarakat lain di negara tersebut dan statusnya diatur, baik seluruh maupun sebahagian oleh masyarakat adat dan tradisi masyarakat adat tersebut atau dengan hukum dan peraturan khusus".

Sedangkan menurut Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada Kongres I tahun 1999 dan masih dipakai sampai saat ini adalah:

"Komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat dan lembaga adat yang mengelolah keberlangsungan kehidupan masyarakatnya”.
Masyarakat Adat Ammatoa, Kajang. Sumber: www.anbti.org | Tag: JURnal Celebes, Samdhana, dan Lomba
Aksi Protes Terhadap Rencana Pemberlakuan Kurikulm 2013. Sumber: www.baratamedia.com | Tag: JURnal Celebes, Samdhana, dan Lomba
Manfaat REDD+. Sumber: www.entrepreneurstoolkit.org | Tag: JURnal Celebes, Samdhana, dan Lomba

 Di Indonesia sendiri jumlah pasti dari kelompok masyarakat adat belum menemukan hasil akhir. Meski pada tahun 2006, Kementerian Sosial melakukan pemetaan lebih lanjut tentang komunitas terpencil adat dan melakukan pemutahiran data pada tahun 2008. Data yang diperoleh yakni jumlah populasi komunitas terpencil adat sebanyak 229.479 kepala keluarga. Namun, secara geografis pada tahun 1993, Bappenas menyatakan bahwa jumlah penduduk yang bermukim di dalam atau sekitar kawasan hutan berjumlah 12 juta jiwa. Dimana sebagian besar di antara mereka dikategorikan sebagai masyarakat adat.

Selain dari jumlah yang belum menunjukkan angka pasti ini, sejarah masyarakat adat sangat dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Sejarah nasional dianggap sebagai pengetahuan sosial yang wajib diketahui siswa yang mengenyam bangku sekolah, sedangkan wawasan tentang masyarakat adat tidak mendapat hal yang layak. Padahal masyarakat adat memainkan perannya dengan sangat baik dari dulu sampai sekarang, menjadi penting pengetahuan tentang masyarakat adat menjadi salah satu bagian dari mata pelajaran yang diajarkan kepada anak didik di sekolah agar sejatinya kita tidak kehilangan jati diri kedaerahan.

Masyarakat Adat dalam Kurikulum Pendidikan Nasional
Pendidikan salah satu faktor penentu sebuah negara. Suatu bangsa dengan tingkat pendidikan yang baik, jelas akan memperbaiki kualitas negara tersebut. Layaknya seperti pedang dengan dua sisi, pendidikan di titik lain juga menghasilkan kemiskinan, kekerasan, atau ketidakadilan. Rendahnya pemahaman untuk meningkatkan potensi diri (kesadaran tentang arti penting pendidikan), menggiring seseorang menuju kehidupan ekonomi skala bawah sedangkan ketidaktahuan akan nilai-nilai kehidupan pada akhirnya melahirkan generasi yang mendahulukan kerja otot ketimbang otaknya. Belum lagi lahirnya banyak kasus ketidakadilan hanya karena objeknya secara tidak sadar telah diperlakukan tidak adil sampai ada yang memberitahukannya atau mungkin jenuh ditindas dan akhirnya melawan.

Indonesia yang multikultur ini seyogyanya memiliki penduduk dengan kualitas pendidikan yang baik, sehingga dengan SDM yang bagus bisa membawa Indonesia menjadi negara yang maju dan berkembang. Untuk memperbaiki kualitas diri, maka seseorang selayaknya mengikuti pendidikan formal sesuai yang telah ditetapkan pemerintah. Mengingat ada patron di dalamnya yang mengatur bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu dan tenaga pendidik dalam dunia pendidikan.

Permasalahan selanjutnya yakni apakah kurikulum yang ada (sedang atau akan dipakai jika masih berupa rancangan) dianggap mampu menyelesaikan masalah-masalah lapangan yang dihadapi para tenaga pendidik? 

Banyaknya hasil riset yang dijadikan referensi bagi tenaga pendidik, semestinya masih perlu peninjauan ulang. Menurut Patricia Cross, "Tentang penelitian pendidikan, banyak para peneliti yang kegiatan penelitiannya hanya menjawab persoalan-persoalan umum dalam dunia pendidikan, bukan untuk melakukan aplikasi tertentu dalam kelas nyata!"

Sorotan utama kali ini yaitu bagaimana nanti penerapan rancangan kurikulum 2013? Dalam kurikulum ini, rencananya mata pelajaran muatan lokal akan diputihkan atau akan adanya peleburan. Padahal mata pelajaran muatan lokal syarat dengan nilai-nilai kearifan sosial, ini mengajarkan bagaimana seseorang mengenal daerahnya lebih dalam lagi, menguak kekayaan budaya yang dimiliki tanah kelahiran kita,dan mengajarkan mereka menghormatinya. Bukankah bangsa yang menghargai budayanya adalah bangsa yang besar? Apakah kita menutup mata dengan Jepang dan Korea yang telah membuktikannya?
Rancangan kurikulum 2013 yang masih menuai banyak protes ini dianggap mampu mengikis akar budaya dalam dunia pendidikan Indonesia. Adanya rencana penghapusan mata pelajaran muatan lokal dari kurikulum akan mempengaruhi sistem yang telah ada. Bisa dipastikan akan terjadi pemecatan tenaga pendidikan untuk mata pelajaran yang tidak diajarkan. Kurikulum ini merancang para anak didik untuk lebih tekun pada bidang sains saja. Bisa dipastikan anak-anak hasil kurikulum ini nantinya akan memiliki pengetahuan ilmu modern dan akan kehilangan jati dirinya sendiri. Bisa saja suatu saat mereka akan mempelajari budayanya dari orang lain. Sungguh hal yang memilukan jika itu terjadi.

Benang merahnya pendidikan di Indonesia dengan eksistensi masyarakat adat ialah minimnya upaya pemerintah secara legal mengajarkan murid secara formal tentang masyarakat adat. Komunitas yang bersinggungan langsung dengan benda-benda sejarah dan mereka yang menyatukan hidupnya dengan alam. Pemahaman tentang keberadaan masyarakat adat adalah sebuah pembelajaran yang hampir punah namun mempunyai arti penting.

Masyarakat umum tidak layak disalahkan akan ketidakpahaman mereka tentang eksistensi masyarakat adat. Di sekolah-sekolah para murid tidak diajarkan tengtang hal itu, mereka justru diajarkan ilmu modern. Metode ini tidak disalahkan namun kita meski bijak melihatnya, adanya kecenderungan untuk mengetahui hal tertentu sementara hal inti (yang berkaitan dengan budaya) justru mengalami kemunduran.

Pengenalan terhadap keberadaan masyarakat adat dapat dilakukan dengan mengunjungi sekolah-sekolah atau melakukan seminar-seminar secara intens. Dapat pula melaksanakan event budaya atau jika dianggap kurang menarik mengingat sasarannya adalah remaja yang lebih cenderung menyukai acara music, maka dapat dilakukan music event yang dikemas dengan menampilkan para pemusik yang mendukung upaya penyebaran informasi tentang masyarakat ini. Namun sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang dirasa mampu mengatasi keterpurukan pahaman akan eksistensi masyarakat adat justru tidak melakukan aksi apa-apa.

Padahal kalau kita mempelajari sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini, bukankah masyarakat adat juga menyumbangkan harta dan nyawa mereka agar sang saka merah putih berkibar di bumi pertiwi ini. Selain dari itu, mereka adalah komunitas yang senantiasa berangkulan dan berkomunikasi dengan alam. Mereka memelihara alam dengan tulus, membuat kita senantiasa mendapat asupan oksigen untuk paru-paru kita di tengah maraknya industri-industri besar yang justru memasok karbon dalam skala besar sehingga perubahan iklim menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

REDD+ dan Eksistensi Masyarakat Adat
Tak terhitung tahun yang telah dilewati semasa industri (baik skala besar maupun kecil dengan menggunakan bahan bakar asal fosil seperti minyak bumi, gas bumi, dan batu bara) melepaskan kabondioksida ke dalam atmosfir bumi yang dapat mengakibatkan meningkatnya suhu iklim dunia dan dampak paling berbahaya adalah perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya.

Isu perubahan iklim memang telah digaungkan jauh sebelumnya, namun hal yang disayangkan adalah kurangnya kesadaran manusia terhadap hal itu. Padahal dampak dari perubahan iklim justru dapat dirasaan di belahan bumi bagian manapun. Adanya peningkatan suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, adanya gelombang badai besar, mencairnya tudung es di kutub, coral bleaching, dan perubahan musim yang sudah sulit diprediksi menjadi hasil tangan dari perubahan iklim. Dimana bisa dipastikan negara yang terkena dampak paling besar yakni negara kepulauan, negara yang kurang berkembang, dan terutama negara pesisir pantai.

Wujud kepedulian terhadap alam yang dikaitkan dengan materi perubahan iklim, dimana secara nyata dampak dari perubahan iklim telah dialami, sebagai contoh maraknya pemberitaan banjir, bencana kekeringan, dan kerugian yang lain, maka lahirlah Reduction Emmission from Deforetrasion and Degradasion (REDD) sebagai upaya yang diharap mampu mengatasi krisis tersebut pada forum UNFCC di Bali. REDD atau “pengurangan emisi dari deforetasi dan degradasi hutan” merupakan upaya menghijaukan bumi di negara-negara maju dengan tingkat bahan bakar fosil yang tinggi dalam industri mereka.

Skema ini diterapkan dengan cara pemberdayaan hutan sebagai wadah untuk menyerap karbon, dimana negara-negara penyumbang karbon akan membayar kompensasi kepada negara yang disewa hutannya (yang kebanyakan merupakan negara miskin) sebagai upaya agar jumlah karbon di dunia berkurang sementara produksi mereka dalam dunia industri tetap berjalan. Hutan yang disewakan ini akan dipelihara langsung oleh masyarakat adat. Upaya pemeliharaan yang dimaksud yakni meminimalisir penebangan hutan, menjaga keseimbangan ekosistem hutan tersebut, dan menghentikan pengrusakan hutan dalam bentuk apapun. Untuk hutan alami yang pembetukannya tanpa campur tangan manusia dikategorikan REDD+.




Makassar, 15 April 2013
oleh : Surya Rahmah Labetubun 

Tulisan ini diikut lombakan pada "Kompetisi Penulisan di Blog dan Media Sosial" dengan tema "Masyarakat Adat Sulawesi, Dampak Perubahan Iklim dan REDD+"

You Might Also Like

0 komentar