Bukankah Malaikat Juga Tahu? - Rectoverso 1

Hampamu takkan hilang semalam oleh pacar impian

Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri cintakulah yang sejati

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
***

Ini berkisah tentang cinta tulus dari Abang yang diperankan apik oleh aktor kawakan Lukman Sardin. Cerita ini menyampaikan rasa yang lahir murni dari sosok pria dewasa yang sayangnya terkungkung oleh keterbatasan yang dimilikinya. Seorang pria dengan persepsi bawah "seratus adalah titik kesempurnaan dalam hidupnya", hal ini dapat dilihat dari aksi Abang menyusun dos demi dos sabun mandi batang di dalam kamarnya. Bahkan saat sebuah dos itu lenyap, Abang tampak kelabakan mencarinya. Baginya ini bukan hanya "satu" yang dipahami kebanyakan orang, tapi hilangnya "satu" dos itu tampak merusak tatanan "kesempurnaan" yang dipahaminya. 

Dari satu sisi lain Prisia Nasution memerankan tokoh Leia, si gadis cantik yang baik hati. Dia adalah wanita yang sudi melalui malam bersama Abang, keduanya sepakat menjadikan langit dengan taburan bintang adalah fokus penglihatan mereka. Namun, bertentangan dengan Abang dengan teori "kesempurnaan"nya, Leia punya pendapat sendiri. Bagi Leia, hitungan seratus yang kerap dilakukan Abang mestilah berkelanjutan. Jangan sampai ada satu bintang yang tak terlihat jelas menjadi tidak bernilai, padahal bintang kecil itu tampak menyedihkan dalam kesendiriannya.

Awal permasalahan muncul saat tokoh Hans - adik Abang, muncul dan mengambil bagian dalam kisah kehidupan Bunda-Abang-Leia. Hans yang secara fisik tampil sempurna nampak dengan mudah menggoda kesendirian gadis impian kakaknya. Leia dan Hans pun pada akhirnya memberi nama perjalanan mereka sebagai perjalan pecinta yang dihiasi dengan kerinduan dan memadu kasih.

Konflik mencuat karena kenyataannya bahwa antara Hans dan Leia telah mendaulat status mereka sebagai sepasang kekasih, ini membuat Bunda mesti segera mengambil keputusan, mengingat kedua putranya (Abang dan Hans) berada dalam satu arah rasa pada seorang wanita. Selayaknya seperti seorang Ibu, Bunda tak ingin salah satu dari buah hatinya terluka. Keputusan untuk membiarkan Hans dan Leia pergi meninggalkan rumah dianggap solusi tunggal bagi masalah hati ini. 

Sayangnya kepergian Leia yang mendadak tanpa memberitahukan Abang sontak membuat Abang sedih dan terluka. Bagi Abang, cintanya pada Leia tak hanya berasal dari hati melainkan jiwa dan rasa kasih itu bukan impian atau khayalan tapi berwujud realitas.

Cerita ni mampu menguras air mata penonton dengan permainan emosi yang disetting baik oleh Marcella Zalianty, hal ini secara tidak langsung membuktikan kualitasnya sebagai seorang produser yang nampaknya tidak boleh dipandang sebelah mata. Penonton dibuat tak henti meluapkan emosinya dari satu adegan menuju adegan yang lainnya.
***
Seratus itu sempurna
Satu itu kamu
Lebih
Lebih sempurna
(Pesan Abang pada secarik kertas yang akhirnya diketahui Leia dengan ditemani linangan air mata)



Sumber gambar : http://www.muvila.com/read/rectoverso-dan-lima-cerita-cinta 
dan http://jarwadi.me/tag/cicak-cicak-di-dinding/ 

You Might Also Like

4 komentar