Saat Perempuan Dan Pria Berada Di Timur Dan Barat

Penghargaan terhadap wanita tidak hanya milik Barat atau Timur. Penghargaan tidak mengenal letak geografis atau ras, mereka buta. Lelaki dari Timur maupun Barat, keduanya menghargai wanita dengan cara mereka sendiri, tidak ada yang lebih baik atau lebih jago.

Semboyan "Ladies, first" memang sangat terkenal jika kita menginjakkan kaki kita di daerah Barat. Kalimat ini dianggap sebagai salah satu cara untuk menunjukkan sikap respect seorang pria terhadap lawan jenisnya. Meski kalimat ini multiinterpretasi, namun pemaknaan sederhanya bahwa si pria mampu menekan ego kelakiannya dengan mengedepankan sang wanita. 

Bukankah sebagai wanita, Anda tahu pasti bahwa ego lelaki adalah old enemy bagi keduanya. Ego kelakilakiannah yang menghantar tidak sedikit pria seolah ingin menunjukkan kekuasaan semua itu di depan wanita yang jelas bahwa tak ada satu pun parameter yang bisa digunakan untuk membandingkan pria dan wanita. Tidak dari segi fisik atau sisi emosi.



Nyata pada era sekarang, kebanyakan dari kita justru suka menyandingkan wanita dan pria. Wanita dibandingkan dengan wanita, begitu pun sebaliknya, itu baru benar. Bahkan untuk kondisi tertentu wanita kelompok A misalnya tidak bisa dibandingkan dengan kelompok B, Kelompok A hanya boleh disandingkan dengan kelompoknya sendiri, yakni hanya wanita dalam kelompok itu saja.

Lain halnya jika kita membahas perubahan yang dialami oleh seorang perempuan, maka kita hanya pantas menyandingkan wanita itu pada dirinya sendiri, yakni kondisi sebelum dia mengalami perubahan dengan saat dia telah berubah. Misalnya saja, Reni pada masa remaja adalah seorang yang periang namun di suatu saat ketika ayahnya meninggal, Reni menjadi seorang yang pemurung dan pendiam, maka jelas yang dibandingkan yakni Reni sebelum Ayahnya meninggal dan setelahnya. 

Yang mau dilihat ada banyak hal, bagaimana kondisi kejiwaannya, keadaan perilakunya, masihkah sama cita-cita yang ingin dicapainya, masihkah Reni memiliki semangat hidup yang seperti dahulu kala, apa penyebab kemurungannya dan bagaimana mengatasinya. Pada kondisi Reni kita tak bisa menyandingkan dengan Dodi (pria yang mengalami perubahan sama dengan Reni), pria dan wanita mengatasi masalah dengan cara berbeda, mereka juga memiliki respon yang beraneka dengan peristiwa tunggal.

Kembali pada 2 kutub budaya ini. Di wilayah Timur tidak jarang ditemukan justru perlakuan yang dianggap menomorduakan wanita, makanya gaung emansipasi muncul kepermukaan. Kalau kita mau membandingkan kondisi Timur pada era sekarang dengan jaman Jahiliah jelas berbeda. Kehadiran agama justru berhasil meminimalisir tindakan dalam upaya penyepelehan kaum Hawa. 

Keadaan dimana dahulu jika melahirkan anak wanita menjadi momok hingga sang bayi tanpa dosa itu mesti dikubur hidup-hidup, justru Islam memuliakan kehadiran anak wanita. Wanita (budak) dulu bisa seenaknya saja diperlakukan oleh tuannya dengan persepsi bahwa hidup budak ini ada di tangan majikannya di tentang oleh Islam dengan sebuah kisah di mana seorang budak justru dimuliakan.

Gaung emansipasi yang lebih menggema di daerah Timur sebenarnya justru lebih pada penggambaran bahwa orang Timur sendiri belum paham dengan diri mereka sendiri. Emansipasi bukan kata atau budaya Barat, bukankah Islam muncul lebih dahulu?   

You Might Also Like

0 komentar