Rindu Dua Sisi


Sumber: 507-creator.blogspot.com
Duhai jiwa yang mengajariku tentang kerinduan. Engkau telah menjadi rutinitasku, mengusik kesendirianku. Menjabat tanganku mengitari angkasa kita. Mengajakku melangkah demi langkah menelusuri isi otakmu. Kepergianmu justru menampakkan ruang kosong di hatiku. Mengelak eksistensimu membuatku tampak munafik.

Aku merindumu. Utuh. Menjalar, berangkat dari ujung kaki menuju rambutku. Bahkan seukuran corn bagian dari dirimu aku nanti. Aku merindu sadel hitam motor yang selalu engkau kendarai. Aku merindu bioskop tempat aku dan engkau menatap gambar bergerak itu, yang setiap judulnya adalah inginmu. Aku merindu kursi-kursi yang pernah kita duduki saat ketidaksetujuaan dan kesepakatan menghiasi perdebatan kita. Semua bagian dari dirimu terutama engkau, aku rindu.


Dalam kerinduan ini, waktu pun ikut memainkan perannya, berjalan angkuh mencambukku dengan penderitaan penantian. Sungguh merindu menjadi hukuman yang sangat menyiksa, sejajar dengan hukuman utama Cina Kuno - pengeratan hidung, tempurung lutut dicabut, pengebirian, pemenggalan kepala, dan pencabikan dengan diikat pada lima gerobak sapi.

Merindu itu manusiawi kawan. Bahkan semesta pun mendukung. Apa kau pernah mendengar kisah kerinduan bumi dan langit, dimana hujan menjadi ekspresi kecintaan di antara mereka atau hikayat bumi dan mentari yang dirundung kegelisahan saat malam merangkak menutupi bumi dengan kegelapan langit, tak menyisakan berkas cahaya cinta mentari.


Kadang aku tertatih menelusuri kerinduan ini. Kenyataan dirimulah impianku, namun semua yang berkaitan denganmu, mereka sudi menjadi obat penawar rindu temporal bagiku. Pesan singkat yang masih tersimpan apik di kotak masuk handphoneku, file gambar dirimu, hembusan angin yang berasal dari rumahmu, cahaya matahari yang sama-sama menyentuh kita di sudut masing-masing, halaman rumahmu yang sering ku pijak saat melintas, air hujan yang mengguyurku dan mu dari sumber yang satu, dan dedaunan yang berguguran di halaman rumahmu.


Kawan, kau mesti merasakan sendiri kerinduan hingga berhenti menertawakan kenestapaanku. Merindu tampak seperti dua sisi mata uang. Satu sisi menyesakkan dadamu, membuatnya berdetak tak karuan, menjadikanmu pasien dengan diagnosa penyakit modern termahsyur - galau, saking dahsyatnya bahkan terkadang melenyapkan sepereduabelas kewarasanmu.


Koin di sisi lain menawarkan kebahagiaan syurgawi, membuatmu tersenyum tak mengenal waktu dan tempat, menjadi autis berkalung rindu, terkadang kreativitas lahir tanpa bisa dibendung, engkau menjadi puitis nan melankolis, sesaat menjadi time traveller guna menebas tabir waktu penantian, dan gagah menantang kesepian untuk sebuah hadiah kehadirannya.

You Might Also Like

0 komentar