Kita Menuju Aku Dan Kamu


Sumber: micymicy.blogspot.com
Engkau dan aku saat menyatu dalam kita. Dahulu. Tidak di utara, barat, timur, maupun selatan, engkau dan aku saling mencari. Tidak di kala garis putih fajar melintas bahkan saat rona senja membias. Kita masih terlena mengais-ngais dalam pencarian. Entah meski dari si kutub es atau panas sahara, tak ada koloni dalam pencarian kita.

Kita terlalu larut dalam pencarian. Kadang kala di suatu pagi, saat orang lain masih asik dikecup mesra hangatnya selimut, engkau tiba-tiba menggenggam erat jemariku, menghujaniku dengan beribu pertanyaan.

Menyeruput minuman kemiskinan dengan perlahan. Apakah kemiskinan diwariskan atau bukankah terlalu kejam jika kita menuduh tuhan mendalangi drama kehidupan ini dengan memojokkan takdir sebagai pelaku, mungkin pula itu karena ulah sistem pemerintahan yang hanya menguntungkan pihak tertentu?


Tak jarang kita juga bergosip tentang ketuhanan. Mempertanyakan kreativitas sang Pencipta jika kita tak di dunia ini lagi. Apakah ruh kita hanya akan mengenal surga dan neraka saja, dimana tak ada lagi siklus kehidupan yang baru? Apakah reinkarnasi yang hanya dipercayai oleh beberapa penganut agama tertentu betul-betul ada?


Aku pun demikian. Pernah di suatu senja tiba-tiba merengek memintamu ikut dalam pencarianku. Mengguyurmu dengan persoalan ala aku. Mengapa wilayah ketuhanan justru dikategorikan sebagai area yang tak tersentuh akal, padahal engkau dan aku tahu, DIAlah yang memberikan akal ini pada kita. Akal yang kita gunakan untuk menafsirkan satu demi satu ciptaanNYA. Bukankah justru akallah sebagai salah satu media penghantar kita menujuNYA?


Tak hanya itu, tak jarang masalah eksistensi pun kita pertanyakan. Apakah gunanya manusia diciptakan? Apa ada simbiosis mutualisme dalam hal ini? Apa manusia diciptakan untuk membuatnya mengetahui tentang ke-ada-an tuhan atau karena tuhan hanya ingin membuktikan kepada ciptaanNYA selain manusia, bahwa DIA dapat menciptakan apapun yang dikehendakiNYA?


Itulah kita. Tak pernah berhenti bertanya. Tak pernah berhenti mencari meski tidak semua tanya kita terjawab, bahkan ketika pada kondisi apapun pertanyaannya, jawabannya tetaplah tak berubah dan sama.


Begitulah kita, dahulu. Kini. Aku dan engkau masih tetap terpenjara dalam ruang tanya. Sayangnya kita telah berada di balik jeruji kita masing-masing. Sel engkau. Sel aku. Tak ada lagi kita.


Hari ini, saat aku masih bisa menghirup segarnya oksigen gratis nan halal ini tanpa harus berebut dengan pihak lain karena takut kehabisan atau aku dengan seenak hati mengambil hak orang lain bahkan mengkorupsi udara ini, entah mengapa masih tersisa tanya.


Setitik, sebuah, atau secercah, ah apapun itu, pertanyaan itu masih ada. Kali ini bukan tentang perilaku manusia, tidak pula menyangkut semesta, bahkan tak ada kaitannya dengan ketuhanan. Hanya satu. Apa alasan logis kita menuju aku dan engkau?

You Might Also Like

0 komentar