Lelaki Bulan Ketiga

Jika kelak kita bersua lagi meski dengan perubahan, entah aku atau mungkin kamu. Biarkanlah lantunan kisah mengalir, apakah kenangan, kutukan perpisahan, ikrar suka duka, lara penantian, impian masa depan, pun juga sesi lain bersama wanita atau pria kita terdahulu.


Kamu? Adakah kamu tetap sepeti dahulu atau mungkin telah sirna dan beresolusi atas kehendak warna dunia hingga lahir wujud baru, wujud yang mungkin tak ku kenali lagi meski setitik. Ataukah ke-kamu-anmu beradaptasi dengan kehidupan wanita yang kamu gandeng tangannya kini? Mungkinkah kamu tetap seperti dahulu saja? Cerdas, dingin, angkuh, keras kepala, suka menguji, dan biasa-biasa saja.
***

Mengawali Maret kali ini dengan bertumpuk rencana, sungguh aneh memang, mengingat kebanyakan orang justru lebih sering membuat catatan target tahunan setidaknya pada akhir bulan Desember atau paling telat di awal Januari, aku lebih memilih Maret. Ini bukan mencari sensasi atau mencoba keluar dari kebiasaan hal layak, hanya saja terlalu banyak kisah di mulai pada bulan ini.

Bulan ketiga, inilah saat aku tersadar oleh kepergian Mama 'tuk selamanya, perpindahan domisili adikku yang mendadak, membeli Ri-B (notebook kesayangan yang jadi pacar idaman selain buku dan motor), masa dimana aku betul-betul telah ikhlas akan ketiadaan Papa, kali pertama di-sms senior idaman masa transisi di tahun pertama kuliah, kondisi saat aku telah berjanji untuk bangkit dan menantang semua kisah dalam hidupku, dan yang paling berharga saat kali pertama berbincang denganmu setelah sekitar 11 tahun ku lalui hanya dengan menatapmu saja.

"Assalamu 'alaikum. Saya Miftah", ujarmu singkat sambil menempatkan kedua tanganmu di depan dada.

"Wa'alaikum salam. Oh iya, Yuna", balasku.

Sampai sekarangpun waktu tak kuasa menghapus percakapan itu dalam ingatanku. Andai ini dialog tugas drama bahasa Indonesia, maka aku akan layak mendapat nilai baik karena masih dengan lancar menghafalnya lengkap dengan mimik wajah tenang tapi hati dag-dig-dug-dear.

Perbincangan itu nampaknya menjadi awal mula untuk diskusi kita selanjutnya, meski pada awalnya terlalu banyak spasi yang tercipta, tak sedikit saat menanti yang ku alami, pun juga banyak tumpukan senyuman riang sambil berlompatan kala kamu membalas sms atau saat merespon sapaanku via yahoo masengger, bagiku responmu menjadi sesuatu yang langka namun menakjubkan. Tak setiap hujan berhenti pelangi akan muncul, namun kala dia tampil bagai lukisan raksasa indah mahakarya Sang Pencipta. Tak ada yang tak bahagia kala melihat pelangi bukan?

Lelaki, tahukah bahwa diskusi dengamu menjadi hal yang paling ku suka? Bertukar pikiran menjadi hal paling romantis bagiku karena aku bisa menatapmu lebih dekat, aku mampu mendengar suaramu, aku dapat melihat isi otakmu, dan aku bisa merasakan dirimu.
    ***
 
Dua belas bulan telah berputar, kembali kini tepat bulan ketiga lagi, namun tanpa pesan singkatmu juga tiada lagi suaramu. Kau, lelaki bulan ketigaku, bahkan aku kehilangan dirimu seketika, kamu raib kala Desember baru mulai merangkak, kamu memudarkan dirimu dengan meninggalkan beribu tanya padaku. Di benakku juga sempat memprediksi adakah sebuah kemarahan atasku. Ataukah rasa penasaranmu telah terpuasi?

Kenangan bersamamu
Kini, menghiasi hari demi hari dalam hidupku
Namun
Arti hadirmu begitu terasa kala dikau tak ada di sisiku lagi
 

Lelaki
Kau memberi warna pada hidupku yang monoton
Dirimu membantuku memaknai kehidupan yang rumit ini
Engkau mengajariku tentang segala hal yang tak kupahami

Kini, diriku hampa tanpamu

Musnah tanpa kehadiranmu di sisiku

Jika suatu saat kita berjumpa lagi dengan kedirian matang dan telah saling memahami dan menerima kondisi masing-masing, inginku ucapkan, "Aku selalu jatuh cinta di setiap kali kita bertemu, lelaki!"
    ***

Sumber gambar -> www.fitriahsyahidah.blogspot.com 

You Might Also Like

1 komentar